AGAMA DAN BISNIS

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Penampilan fisiknya biasa-biasa saja, seperti halnya kakek-kakek kebanyakan. Sikapnya yang membumi sungguh apa adanya. Dia sederhana, apa adanya, jujur, dan tidak berbelit-belit. Dia adalah orang yang mempunyai kecerdasan berbicara dan selera humor yang tajam. Dia sangat suka dengan semua hal yang berbau logis dan membenci kebodohan. Dia menyukai yang sederhana dan menghindari yang berbelit-belit.

Begitulah gambaran dalam buku The Essential Buffett yang diberikan oleh Robert G. Hagstrom tentang Warren Buffett, seorang genius dalam bidang investasi dan merupakan salah satu dari lima orang terkaya dunia karena investasi yang dia lakukan melalui perusahaan Berkshire Hathaway.

Buffett adalah seorang investor bisnis yang bertindak penuh integritas, rasional dan tenang, tidak grasa-grusu terpengaruh oleh keadaan pasar saham. Dia bukan spekulan saham yang sangat dipengaruhi ketakutan dan keserakahan. Warren Buffet mewakili pebisnis sukses dunia Barat. 
 

Kita lihat ke Timur.  Selama beberapa tahun menjalankan bisnis, ia mengalami kesulitan yang luar biasa, bisnis yang dijalankannya begitu lamban berkembang. Dia menolak untuk melakukan hal yang melanggar hukum seperti menyuap pejabat agar bisnisnya cepat berkembang, walau dia tahu bila dia melakukian hal tersebut akan banyak membantu perkembangan bisnisnya. Dia pun tak ragu-ragu memecat pegawainya yang telah menyuap pejabat karena tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dia anut. Baginya bisnis haruslah didasarkan ren, yi, li, zhi, xin (cinta kasih, kebenaran, kesusilaan, kebijaksanaan dan dapat dipercaya).

Begitulah sekelumit kisah hidup Jack Ma, salah seorang orang terkaya di Tiongkok, yang sukses dengan 'Ali Baba' dan 'Ali Pay', dari seorang yang miskin berlatar pendidikan keguruan dan tidak tahu mengoperasikan komputer serta ditolak berkali-kali saat melamar pekerjaan. Anda bisa menonton youtube dan google search atau membaca biografinya untuk mengetahui kisah hidup dan nilai-nilai yang dianut oleh Jack Ma. 


Kedua pebisnis luar biasa ini sekarang menjadi filantropis. Mereka menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain. Banyak pebisnis lain seperti  Bill Gates dan keluarga Hartono dari grup Djarum melakukan hal yang sama. Mereka tidak serakah dan mau berbagi. 

Walau menuliskan sekelumit tentang kedua pebisnis ulung tersebut, saya bukanlah  seorang investor atau seorang pebisnis online bukan pula seorang analis atau pengamat bisnis. Mungkin Anda juga bukan. Namun saya tertarik untuk memberi catatan dalam blog ini bahwa integritas dan nilai-nilai kebajikan yang terkandung dalam agama atau ajaran sebetulnya bukanlah suatu hal yang terpisah dengan dunia bisnis.

Saya sering mendengar bahwa untuk menjadi seorang pebisnis sukses haruslah tidak jujur. Satu ungkapan yang kurang tepat. Warren Buffett selalu jujur dalam memberi laporan tahunan kepada para pemegang saham Berkshire Hathaway. Bila kondisinya jelek dia katakan jelek, begitu pula sebaliknya. Tak ada yang ditutup-tutupi. Jack Ma melakukan hal yang sama. 

Sahabat saya, Dr. Ws. Ongky Setio Kuncono beberapa tahun yang lalu menulis disertasi berjudul, "Pengaruh Etika Confucius terhadap Kewirausahaan, Kemampuan Usaha, dan Kinerja Usaha Pedagang Eceran Etnis Tionghoa di Surabaya". Sebuah penelitian yang dilakukan pada para pebisnis dalam level yang berbeda dengan Warren Buffet dan Jack Ma, namun menemukan keterkaitan antara etika dalam agama/ajaran Khonghucu dalam kesuksesan berbisnis. Anda bisa membacanya di www.spocjournal.com 
 
Orang yang berintegritas dan menjalankan nilai-nilai kebajikan belum tentu seorang yang mendalami agama atau beragama tertentu. Maka orang yang religius karena mendalami agama semestinya menjadi orang yang berintegritas dan menjalankan nilai-nilai kebajikan. Orang yang religius semestinya mempunyai religiusitas dalam kehidupan sehari-harinya.

Agama membimbing manusia untuk menempuh dao berkenaan dengan hubungan vertikal dengan Yang Esa dan hubungan horizontal dengan sesama dan lingkungan hidup. Hubungan vertikal dan horizontal adalah hubungan yang utuh dan saling terkait erat. Jadi keliru bila kita hanya mengutamakan hubungan vertikal dan melupakan hubungan horizontal. Agama membimbing kita untuk hidup dipenuhi kebajikan. 

Tian dengan firmannya telah mengaruniakan agama.

Apakah agama akan berfungsi sesuai hakikat keberadaannya, tergantung  penganutnya.

Anda ingin jadi pebisnis atau investor sukses? 

Anda tak perlu menanggalkan integritas dan nilai-nilai kebajikan. (US) 28072020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN