DUKA DAN BELA SUNGKAWA

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Melayat orang berpulang/meninggal dunia adalah salah satu hal yang sering kita lakukan. Masing-masing masyarakat/umat beragama mempunyai budaya, adat istiadat, keyakinan, dan li (kesusilaan) masing-masing. 

Ada kawan saya yang menyikapi kematian dengan kegembiraan dan dengan sengaja berpakaian cerah saat dia melayat untuk menunjukkan suasana hatinya. Dia punya alasan sendiri berdasarkan keyakinannya bertindak demikian.

Saya pribadi menyikapi kematian dengan rasa duka dan bela sungkawa. Rasa duka dan bela sungkawa yang dirasakan dan disampaikan sejatinya bukan hanya berkenaan dengan perpisahan jasad dengan orang yang berpulang/meninggal dunia, tapi mengandung makna yang lebih dalam tentang kehidupan dan kematian.

Kitab Liji (Catatan Kesusilaan) menuntun kita untuk menjalankan Li dan memahami makna kehidupan dan kematian sesuai hakikat kemanusiaan kita.

Hidup adalah menyangkut hari depan dan mati adalah menyangkut hari yang lalu. Orang yang mengerti makna hidup akan menyampaikan bela sungkawa dan yang mengerti makna mati akan merasakan kedukaan.

Orang yang mengerti makna hidup tetapi tidak mengerti makna mati akan menyampaikan bela sungkawa tanpa kesedihan; orang yang mengerti makna mati tetapi tidak mengerti makna hidup akan merasakan kesedihan tetapi tidak menyampaikan bela sungkawa.

Bila menyampaikan bela sungkawa tetapi tidak dapat memberi bantuan/sumbangan, janganlah bertanya tentang pembiayaan.

Bila seseorang ada di makam janganlah naik ke atas gundukan makam, bila membantu acara pemakaman orang harus ikut memegang tali (peti jenazah).

Berada di rumah duka janganlah tertawa.

Untuk saling memberi hormat dengan yi (menaikkan genggaman kedua tangan) orang harus bergeser dari tempatnya.

Bila melihat dari jarak jauh sebuah peti mati yang berisi jenazah janganlah menyanyi. Bila memasuki kerumunan orang-orang yang sedang berkabung, janganlah mengangkat lengan. Bila makan bersama orang lain janganlah mengeluh.

Bila berkunjung ke makam janganlah menyanyi; demikian pula bila pada hari itu orang menangis (menyertai orang-orang yang sedang berduka).

Menyertai orang yang sedang berkabung mengantar jenazah ke kuburan jangan mengambil jalan pintas. Bila mengambil bagian dalam upacara pemakaman jangan menghindari lumpur atau kubangan-kubangan. Menghadiri upacara perkabungan harus ada rasa duka di wajah. Memegang tali (kereta penarik) peti mati jangan tertawa.

Maka seorang junzi itu hati-hati dan teliti agar tidak kehilangan wajah di hadapan orang-orang.

Saat kita berduka dan berbela sungkawa, beberapa hal di atas perlu kita renungkan dan teliti ke dalam diri. Bukan sekadar mengenai adat istiadat dan tatacara tanpa rasa dan makna, tapi mengenai rasa dan makna dalam adat istiadat dan upacara berdasar agama yang menyiratkan kemanusiaan kita. (US) 05072020


Liji IA Qu Li IV: 35-48.

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN