MING QI DALAM UPACARA DUKA

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Meng Yi Zi bertanya hal Laku Bakti. 

Nabi menjawab, "Jangan Melanggar!"

Ketika Fan Chi menyaisi kereta, Nabi memberitahu kepadanya, "Tadi Meng Sun bertanya hal Laku Bakti dan kujawab 'Jangan Melanggar!'"

Fan Chi bertanya, "Apakah yang Guru maksudkan?" 

Nabi menjawab, "Pada saat hidup, layanilah sesuai dengan Kesusilaan; ketika meninggal dunia, makamkanlah sesuai dengan Kesusilaan; dan sembahyangilah sesuai dengan Kesusilaan".

—Lun Yu II: 5


Saat melayat orang yang berpulang/meninggal dunia, acapkali kita melihat adanya benda tiruan untuk upacara kematian. Dan yang paling umum adalah rumah-rumahan lengkap dengan pembantu, mobil, handphone, pesawat terbang, parabola, televisi, pakaian, sepatu, dan lain-lain yang semuanya terbuat dari kertas serta benda-benda lain yang beragam.

Sebetulnya mengapa, untuk apa, dan apakah ada nilai religius-filosofis terkandung dalam benda tiruan untuk upacara kematian tersebut?  

Apakah ada kaitannya dengan agama, adat istiadat dan tradisi Ru-Khonghucu yang bersumber dari Kitab Suci Ru-Khonghucu?


Mari kita simak apa yang tertulis dalam Kitab Liji (Catatan Kesusilaan):

Nabi Kongzi bersabda, "Terhadap orang yang telah mati, bila memperlakukannya benar-benar sama sekali sudah mati, itu tidak berperi cinta kasih, maka jangan dilakukan. Terhadap orang yang sudah mati, memperlakukannya seperti benar-benar masih hidup, itu tidak bijaksana dan janganlah dikerjakan. Maka wadah yang dibuat dari bambu (untuk perlengkapan upacara pemakaman) dibuat tidak sempurna untuk digunakan; periuk yang digunakan tidak dibuat sempurna untuk mencuci; kayu yang digunakan tidak sempurna terukir. Kecapi dan celempung (qin se)-nya dapat berbunyi, tetapi rancu nada; serulingnya dibuat lengkap, tetapi tidak harmonis; lonceng dan batu musik disiapkan, tetapi tanpa kuda-kuda. Semuanya itu dinamai ming qi (peralatan sembahyang). Dengan demikian, orang yang mati itu diperlakukan sebagai shenming."
—Liji IIA Tan Gong III: 3

Setelah (jenazah) dimasukkan dalam peti, sepuluh hari digunakan untuk mempersiapkan bahan-bahan (untuk peti luar) dan ming qi. 
—Liji IIA Tan Gong III: 36

Zengzi berkata, "...Adapun ming qi itu adalah peralatan yang berkait dengan gui (nyawa), sedangkan ji qi itu adalah peralatan untuk manusia; bagaimana mungkin orang-orang kuno itu memperlakukan orang tuanya sama sekali sudah mati."
—Liji IIA Tan Gong III: 6

Nabi Kongzi mengatakan bahwa orang yang membuat ming qi (benda tiruan untuk upacara kematian) adalah orang yang mengerti Dao (Jalan Suci) perkabungan. Benda-benda itu nampak demikian siap, tetapi tidak dapat dipakai "Sungguh menyedihkan, Aizai, kalau untuk orang yang telah meninggal dunia digunakan barang-barang untuk orang yang masih hidup, karena itu mungkin mendorong orang benar-benar mengubur makhluk hidup.
—Liji IIB, Tan Gong II: 44

Benda-benda itu dinamai ming qi karena (orang yang telah meninggal dunia) itu diperlakukan sebagai shenming (makhluk yang bersifat spiritual). Sejak zaman kuno sudah ada kereta-keretaan yang dibuat dari tanah liat dan sosok yang dibuat dari jerami, itulah jalan suci dibuatnya ming qi.
Nabi Kongzi mengatakan, "Membuat sosok dari jerami itu baik, tapi membuat sosok boneka (yang bisa bergerak-gerak dari kayu) itu tidak berperi cinta kasih—bukankah itu berbahaya, karena dapat mendorong orang menggunakan orang sungguh-sungguh. 
—Liji IIB, Tan Gong II: 44


Bagaimana dengan orang-orang yang tidak mampu haruskah memaksakan diri untuk menyediakan?

Zi You bertanya tentang peralatan yang wajib disediakan untuk upacara perkabungan. 
Nabi bersabda, "Wajib disediakan sesuai kemampuan keluarga." 
Zi You berkata, "Bagaimanakah keluarga yang mampu dan tidak mampu dapat melakukan hal yang sama?" 
Nabi menjawab, "Yang mampu jangan melampaui ketentuan kesusilaan, yang tidak mampu cukup sekedar tubuhnya ditutupi dari kepala sampai kaki dan selanjutnya dimakamkan. Peti jenazah cukup diturunkan dengan tali. Dengan demikian siapakah yang akan menyalahkan?"
—Liji IIA Tan Gong III: 17


Tradisi berkembang menyesuaikan zaman namun nilai-nilai yang mendasarinya perlu dimengerti dan dijaga. (US) 15072020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN