NILAI KEBAJIKAN DALAM TRADISI

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Saat melayat orang Tionghoa yang masih memegang kuat tradisi, ada beberapa hal yang sering kita lihat dilakukan oleh keluarga yang ditinggalkan.

Apakah tradisi tersebut ada kaitan dengan agama, adat istiadat, dan tradisi Ru-Khonghucu yang bersumber pada Kitab Suci Ru-Khonghucu?

Mari kita simak apa yang tercatat dalam Liji:

1. Memberi Hormat.

"Memberi hormat dengan bai (kepada pengunjung yang berbela sungkawa dan menundukkan kepala sampai ke tanah (Qi Sang) menunjukkan puncak kesedihan yang rahasia. Menundukkan kepala sampai ke tanah menyatakan kerahasiaan kepedihan yang sangat."
—Liji IIB Tang Gong I: 23


2. Memasukkan mutiara atau kapas ke dalam mulut, telinga, hidung, dan mata.

Mengisi mulut (jenazah) dengan nasi yang diganti dengan beras dan mutiara timbul dari rasa tidak tega membiarkannya kosong. Itu bukan bermaksud memberinya makanan; maka digunakan benda yang indah. —Liji IIB Tang Gong I: 24


3. Nama atau foto almarhum/almarhumah.

Diukir huruf-huruf (tentang marga, nama, kedudukan yang mati) menjadi panji untuk upacara kematian (ming jing). Karena orang yang mati itu tidak dapat dibedakan lagi (karena sudah dimasukkan ke dalam peti), maka dengan bendera atau panji itu (anak dan keluarga diberi tanda untuk menjadikannya mengerti. Karena demikian cinta kepadanya maka dibiarkan tanda itu. Rasa hormat kepadanya diungkapkan lewat tanda itu. 
—Liji IIB Tang Gong I: 25

Papan utama (yang bertulis) demi maksud yang sama, di tempatkan di altar upacara perkabungan. 
—Liji IIB Tang Gong I: 26


4. Sajian.

Sajian sembahyang untuk jenazah yang belum dikubur ditempatkan di bejana yang tanpa hiasan, hal ini karena yang masih hidup dipenuhi hati yang penuh rasa duka. Hanya pada upacara sembahyang (menjelang pemakaman) tuan rumah yang berkabung itu menyiapkan segala-galanya. Adakah ia mengerti bahwa roh yang meninggal itu akan menikmati? Tuan rumah yang berkabung itu hanya terdorong oleh ketulusan dan rasa hormat di dalam hatinya. 
—Liji IIB Tang Gong I: 27

Begitu seseorang meninggal dunia, daging kering dan daging yang diawetkan dikeluarkan untuk sajian. Saat akan diselenggarakan pemakaman, dikirim barang-barang untuk sajian (di kuburan). Setelah dimakamkan disajikan makanan (untuk upacara penyemayaman itu). Orang yang mati itu tidak ikut makan, tapi dari zaman yang paling kuno sampai sekarang hal itu tidak pernah dialpakan; semuanya itu menjadikan orang tidak memberontak (dari kematian). 
—Li Ji IIB Tan Gong II: 8


5. Bubur.

Bubur untuk tuan rumah yang berkabung (anaknya), istrinya, para tua-tua dalam keluarga diambilkan untuk mereka atas perintah yang berwenang (memimpin upacara) untuk menjaga mereka terhindar dari sakit. 
—Liji IIB Tang Gong I: 31


6. Menaikkan sajian.

Menaikkan sajian pagi dilaksanakan waktu matahari terbit; dan sore hari waktu matahari terbenam. 
—Liji IIA Tan Gong III: 37


7. Upacara sembahyang.

Setelah kembali dan menangis, tuan rumah bersama petugas upacara memeriksa sajian sembahyang, (bersamaan waktunya) petugas yang lain mengeluarkan bangku dan tikar untuk keperluan menyampaikan sajian di kiri makam (untuk malaikat bumi). Selanjutnya mereka kembali pada tengah hari dan sajian upacara sembahyang dinaikkan. 
—Liji IIB Tang Gong I: 36

Upacara sembahyang dinaikkan pada hari upacara pemakaman; itu karena perasaan tidak tega membiarkan yang meninggal dunia terpisah (tanpa tempat semayam) biarpun satu hari. 
—Liji IIB Tang Gong I: 37


8. Sesuaikan dengan kemampuan.

Zilu berkata, "Sungguh menyedihkan orang yang miskin. Ketika (orang tuanya) masih hidup tiada makanan untuk merawatnya. Saat meninggal dunia tidak dapat memenuhi kewajiban susila (Li) kepadanya. Nabi Kongzi bersabda, "Biarpun hanya sayur kacang dan air tawar, bila dapat membahagiakan orang tua, itu sudah dapat disebut berbakti. Biar seorang anak hanya dapat membungkus badan sampai kaki orang tuanya yang meninggal dunia lalu memakamkannya tanpa dengan peti mati luar (gue), ia sudah boleh dinamai melakukan kewajiban susilanya. 
—Liji IIB Tan Gong II: 16


9. Yang tidak boleh menjadi sajian.

Sisa makanan, tidak digunakan untuk sajian sembahyang (kepada orang yang telah meninggal dunia). Seorang ayah tidak semestinya menggunakan barang itu sebagai sajian sekalipun kepada anaknya yang meninggal dunia, demikian pula seorang suami tidak menggunakannya untuk sajian sembahyang kepada istrinya (yang meninggal dunia). 
—Liji IA Qu Li III: 64


Tradisi berkembang menyesuaikan zaman, namun nilai-nilai yang mendasarinya perlu dimengerti dan dijaga.

Apakah ada yang sama atau mirip dengan tradisi yang Anda jalankan selama ini? (US) 14072020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN