PENDIDIKAN, KETELADANAN, DAN TOLERANSI PADA ANAK KITA

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Apa yang akan Anda lakukan bila anak Anda yang masih kecil akan menyeberangi jalan dan Anda berada di sana? Hampir dapat dipastikan Anda akan menuntun anak Anda untuk menyeberangi jalan tersebut. 

Mengapa? 

Karena Anda khawatir anak Anda tertabrak kendaraan yang berlalu lalang. Kecuali Anda tidak mengasihi anak Anda dan berharap dia celaka. Benar atau betul?

Saya sering membuat perumpamaan ini saat perkuliahan dan mahasiswa menanyakan mengenai kebebasan beragama anak-anak.

Kebebasan beragama adalah hak asasi manusia yang paling asasi. Agama adalah firman Tian yang dianugerahkan pada manusia untuk membimbing manusia hidup dalam dao (JalanNya), tapi mengenai apakah seseorang akan memeluk agama A, B, C, atau tidak beragama adalah pilihan dia.

Persoalannya, umat Khonghucu seringkali kurang tepat mengartikan toleran terhadap anak-anaknya dalam beragama. Toleran seringkali diartikan membebaskan anak-anaknya untuk memilih agama tanpa ada upaya apapun untuk memberi pendidikan agama pada anak-anaknya. 

Banyak hal yang menyebabkan hal ini terjadi. 

Misalnya karena sibuk berkarir atau berbisnis, tidak cukup pengetahuan agama—karena kurangnya belajar atau mendapat bimbingan ajaran agama, tidak memandang agama sebagai sesuatu yang penting, atau beragama Khonghucu hanya karena meneruskan tradisi orang tua—yang acapkali terbatas pada melaksanakan upacara-upacara persembahyangan atau mengikuti hari-hari raya (seperti xin nian, qing ming, peh cun, zhong qiu, dong zhi) dengan tanpa memahami makna yang terkandung di dalamnya atau bermacam alasan lain.

Anak diberi kebebasan memilih. Tapi sesungguhnya, anak hanya mempunyai satu pilihan, yaitu agama yang diajarkan di sekolah berbasis agama atau agama yang dianut oleh kawan-kawannya. Dia tidak diberi pilihan memadai agama yang dianut oleh orang tua dan leluhurnya.
Dalam KBBI, memilih berarti:
  1. menentukan (mengambil dan sebagainya) sesuatu yang dianggap sesuai dengan kesukaan (selera dan sebagainya)
  2. mencari atau memisah-misahkan mana yang baik (besar, kecil, dan sebagainya)
  3. menunjuk (orang, calon, dan sebagainya) dengan memberikan suaranya
Pada kenyataannya, orang tua Khonghucu tidak memberi alternatif pilihan yang seimbang kepada anak-anaknya.

Jiao (agama) bukanlah sekedar kepercayaan, adat istiadat, atau tradisi turun temurun. Jiao mengandung arti pendidikan. Jadi agar agama, yang didalamnya terkandung dan berkelindan dengan kepercayaan, budaya, dan istiadat, akan dapat diteruskan—dan lestari dari generasi ke generasi—bila generasi berikutnya dididik dan diberi keteladanan.

Bila anak kita yang masih kecil akan menyeberang jalan, Anda dan saya akan menuntunnya menyeberangi jalan, karena jalan raya itu berbahaya bagi keamanan dan keselamatan anak kita. 

Lalu mengapa saat anak kita akan menyeberangi jalan kehidupan yang sebetulnya jauh lebih panjang dan berbahaya, Anda dan saya tidak menuntun dengan memberi pendidikan dan keteladanan yang cukup,  agar dia dapat aman dan selamat menjalani jalan lurus (kebenaran) dan rumah sentosa (cinta kasih) yang diajarkan oleh agama Khonghucu?

Agama Khonghucu tidak membimbing umatnya untuk bersikap fanatik sempit, artinya mengklaim kepada orang-orang—apalagi yang berbeda agama—bahwa agama Khonghucu adalah yang paling benar, agama lain tidak benar, atau hanya agama Khonghuculah satu-satunya agama yang dapat membimbing manusia sesuai dengan kehendaknya, agama lain tidak. Agama Khonghucu tidak pernah menekankan itu.

Namun demikian, bukan berarti umat Khonghucu tidak mempunyai keyakinan teguh atau tidak boleh 'fanatik'. Umat Khonghucu tentu saja perlu—bahkan mesti—meyakini dan menjalankan agama dengan sepenuh iman.

Anak-anak perlu untuk belajar menyeberang jalan. Tapi pada saat tertentu Anda dan saya harus menuntunnya agar dia tidak celaka tertabrak oleh kendaraan yang berlalu lalang. Walau anak kita ingin dan merasa telah mampu menyeberang sendirian, tentu kita takkan mengizinkannya sampai kita yakin dia telah cukup dewasa dan dapat mandiri untuk menyeberang sendiri.

Setelah dewasa, anak-anak bebas memilih agama apapun yang dia suka. Yaitu setelah dia memperoleh pendidikan dan keteladanan yang memadai tentang agama yang hendak kita wariskan. Karena kita yakini agama Khonghucu yang kita anut akan menuntun dia menyeberangi kehidupan dengan aman dan selamat. Seperti juga yang telah ditunjukkan oleh orang tua dan leluhur kita serta kita sendiri. Maka dia dapat memilih berdasarkan 'informasi' yang setara dan seimbang.

Pada dasarnya, orang bebas memilih agama yang dianut untuk menyeberangi kehidupan dengan aman dan selamat.

Tapi kita telah berlaku tidak bertanggung jawab bila mereka dibiarkan sendiri dalam menyeberangi kehidupan. Tanggung jawab orang tua bukan sekedar melahirkan dan membesarkan anak-anak, tapi harus memberi pendidikan, tak terkecuali pendidikan agama.

Jangan keliru memaknai toleransi kalau Anda tak ingin menyesal di kemudian hari.

Toleransi itu ada batasan-batasan yang dapat diterima dan tak dapat diterima.

Bukan berarti bebas tak terbatas. (US) 12072020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN