PROSES BELAJAR MENGAJAR MENURUT LIJI

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Salah satu simpul kehidupan yang memberi kenangan adalah saat kita bersekolah. Baik kegiatan belajar mengajar maupun kegiatan ekstra kurikuler dan kegiatan bersama teman-teman. Tentu saja seperti kebanyakan siswa, kegiatan ekstra kurikuler dan bermain bersama teman-teman yang paling mengasyikan dan menjadi kenangan indah yang tak mungkin dapat diulang.

Itu bukan berarti tak ada guru dan pelajaran yang membekas. 

Ada kok.

Ada guru yang begitu bagus dan mengasyikan dalam mengajar sehingga kita terpacu untuk lebih mendalami. Ada momen-momen menyebalkan yang saya alami dan mungkin juga Anda alami, misalnya guru galak yang sering marah-marah membuat pelajaran menjadi menegangkan. Ada juga guru-guru yang membuat kita mengantuk di dalam kelas karena cara mengajarnya yang tidak asyik sama sekali.

Ada beberapa guru yang begitu luar biasa dalam mengajar sehingga apa yang diajarkan begitu membekas hingga saat ini. Ada juga yang membekas dalam arti negatif. Ternyata saat kuliah, dosen pun beragam dalam cara mengajar. Ada yang mengasyikan dan membekas ada yang menyebalkan dan tak berbekas.

Lebih dari dua ribu tahun, Kitab Liji (Catatan Kesusilaan) telah mencatat hal-hal yang masih sangat relevan dalam proses belajar mengajar yang dapat menjadi cermin bagi kita, baik sebagai guru maupun sebagai murid seperti saya kutipkan di bawah ini.

Kini, orang di dalam mengajar, (guru) bergumam membaca tablet (buku bilah dari bambu) yang diletakkan di hadapannya, setelah selesai lalu banyak-banyak memberi pertanyaan. Mereka hanya bicara tentang berapa banyak pelajaran yang telah dimajukan dan tidak diperhatikan apa yang telah dapat dihayati; ia menyuruh orang dengan tidak melalui cara yang tulus, dan mengajar orang dengan tidak sepenuh kemampuannya. 

Cara memberi pelajaran yang demikian ini bertentangan dengan kebenaran dan yang belajar patah semangat. Dengan cara itu, pelajar akan putus asa dan membenci gurunya; mereka dipahitkan oleh kesukaran dan tidak mengerti apa manfaatnya. 
 
Biarpun mereka nampak tamat tugas-tugasnya, tetapi dengan cepat akan meninggalkannya. 

Kegagalan pendidikan, bukankah karena hal itu?

Pelajar yang baik, bila guru lalai, ia melipatkan upayanya dari yang lain, dan hasilnya, ia dapat mengikuti pelajaran itu sebagaimana mestinya. 

Pelajar yang tidak baik, bila guru bersungguh-sungguh, hasilnya hanya separuh saja yang dapat diikuti dan akibatnya, ia akan menyesal.

Penanya yang baik itu seperti orang yang menghadapi pohon keras. Mula-mula ia menggarap bagian yang mudah, baharu kemudian yang berbuku. Setelah cukup lama bertukar bicara, akhirnya permasalahan dapat dipahami. 

Penanya yang tidak baik berbuat sebaliknya. 

Orang yang baik dalam menanti pertanyaan, adalah bagai lonceng yang dipukul. Bila dipukul dengan pemukul yang kecil, akan mengeluarkan suara kecil. Bila dipukul dengan pemukul besar, akan mengeluarkan suara yang besar. Cobalah pukul dengan enak dan benar, maka akan keluar suara yang sepenuhnya. 

Penjawab pertanyaan yang tidak baik berbuat sebaliknya. 

Semuanya ini menyatakan bagaimana memajukan dao (jalan suci) daripada belajar itu.

Kalau di dalam membimbing belajar orang hanya mencatat pertanyaan, itu belum memenuhi syarat sebagai guru orang. 

Tidak haruskah guru mendengar pertanyaan? 

Ya, tetapi bila murid tidak mampu membuat pertanyaan, guru wajib memberi uraian penjelasan, setelah demikian, sekalipun dihentikan, itu masih boleh.

Mengajar bukan sekedar mengejar materi dalam kurikulum, silabus atau Rencana Pengajaran Semester (RPS) apalagi sekedar menghafal. Mengajar mendorong murid berpikir luas dan mampu menghubungkan dengan hal-hal lain. 
Seperti dikatakan Kitab Liji:

Orang kuno itu, di dalam menuntut pelajaran, membandingkan berbagai benda yang berbeda-beda dan melacak jenisnya. Tambur tidak mempunyai hubungan khusus dengan panca nada; tetapi panca nada tanpa diiringinya tidak mendapatkan keharmonisannya. Air tidak mempunyai hubungan istimewa dengan panca warna; tetapi tanpa air, panca warna tidak dapat dipertunjukan. Belajar tidak mempunyai hubungan khusus dengan lima jawatan; tetapi tanpa belajar, lima jawatan tidak dapat diatur. Guru tidak mempunyai hubungan istimewa dengan kelima macam pakaian duka, tetapi tanpa guru, kelima macam pakaian duka, tetapi tanpa guru, kelima macam pakaian duka itu tidak dipahami bagaimana memakainya.

Tiga anak saya yang sedang belajar di Perguruan Tinggi dan SMA sering bercerita masih adanya guru-guru dan dosen membosankan dan tidak memberi nilai tambah, mirip seperti yang dituliskan dalam Liji

Anak-anak saya terpaksa tetap belajar karena mengejar nilai supaya lulus sambil terkadang menggerutu, betapa guru dan dosennya tak manusiawi dan menyebalkan. 

Sebagai orang tua saya hanya bisa mengatakan, "Semangaaaat!!!"

Mudah-mudahan tidak ada guru pelajaran agama Khonghucu yang tidak layak jadi guru orang seperti diungkapkan dalam Liji

Mudah-mudahan saya juga tidak termasuk kategori dosen yang begitu. 

Kalau ternyata iya, kan bikin malu... 

Sudah dituntun kitab suci kok masih ndableg. (US) 13072020


Liji XVI Xue Ji I: 10, 18, 19, 21

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN