RITUS DAN KULTUS PERIBADATAN

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Suatu ibadah persembahyangan atau kebaktian yang 'berhasil' adalah ketika pelaksanaan ibadah mempunyai makna spiritual dan memacu kecerahan batin bagi umat. Ibadah yang mencakup ritus dan kultus perlu dipersiapkan sebaik-baiknya.

Peralatan, perlengkapan, persembahan dan petugas dipilih dan dipersiapkan sebaik-baiknya, dengan demikian umat merasakan bahwa dia sedang melakukan peribadahan secara pribadi, bukan sekedar hadir dan menjadi penonton.

Secara fisik dan batin, umat terlibat dalam keseluruhan ritus dan kultus peribadahan. Dengan demikian para petugas dan umat menjadi lebih tersegarkan, terbaharui dan teguh iman untuk menghadapi persoalan hidup dan hidup berkebajikan dalam dao sebagai umat Khonghucu yang Junzi.

Ritus dan kultus dalam peribadahan khususnya kebaktian bukanlah memuncak pada saat jiangdao/kotbah/uraian agama. Li dan Yue berkenaan dengan apa yang termanifestasikan keluar adalah berasal dari kedalaman batin. Begitu pun, apa yang ada didalam batin didorong oleh apa yang dilaksanakan dalam peribadatan. Proses dua arah yang saling 'bersautan'. Tak terputus.

Dalam proses ini terjadi olah batin, olah rasa, dan olah pikir. Maka kurang pas bila dikatakan puncak peribadatan (kebaktian) adalah jiangdao/kotbah/uraian agama. Keseluruhan ritus dan kultus yang dijalankan adalah 'ruh' dari peribadatan tersebut. Jiangdao/kotbah/uraian agama hanya merupakan satu simpul dari keseluruhan rangkaian ritus dan kultus yang dijalankan dalam peribadatan. 


Tanpa pemahaman yang pas dan upaya-upaya serius untuk mewujudkannya, peribadatan akan terasa kering, kehilangan daya 'magisnya'. Boro-boro dapat memberi dorongan spiritualitas pada umat untuk menghadapi persoalan hidup, membina diri dan teguh iman sehingga menjadi umat Ru-Khonghucu yang berperilaku junzi. Tak heran bila peribadatan, tak terkecuali kebaktian semakin ditinggalkan umat.

Bila kita memahami dengan pas makna dan nilai peribadatan, maka menyangkut petugas pelaksana peribadatan, saat Anda mendapat amanah untuk bertugas, sudah semestinya menerima dengan penuh kehormatan, bukan dirasakan sebagai beban yang perlu dihindari. Sebetulnya saat Anda memperoleh amanah tersebut, Anda adalah manusia-manusia terpilih. Anda perlu mempersiapkan diri Anda dengan sebaik-baiknya untuk menjaga kehormatan amanah tersebut. Spirit yang sama seyogianya dimiliki saat beribadat sendiri di rumah.

Dalam Shu Jing V Zhou Shu XIII Luo Gao III: 7: 
Nabi Zhou Gong bertindak sebagai wali raja Cheng Wang, anak dari Wu Wang yang telah mangkat memberi nasihat pada Raja, "Kini biarlah Raja segera memberi perintah dan berkata, 'Catatlah mereka yang banyak berpahala/berkarya besar, mereka yang paling berpahala akan diberi tempat yang pertama dalam upacara sembahyang.' Hendaknya juga memberi titah dengan berkata, 'Kamu yang menerima titah ini hendaknya tekun penuh ketulusan.'"

Kalau sekarang orang-orang begitu malas dan banyak beralasan saat memperoleh amanah, yang pada akhirnya harus digantikan oleh petugas yang ditunjuk last minute saat peribadatan/kebaktian akan dimulai, mungkin karena kita telah kehilangan 'ruh' peribadatan tersebut.

Mengenai peribadatan ini, tantangan semakin besar dalam kebaktian online, jangan sampai umat hanya sekedar nonton dan bukan terlibat beribadat, karena hal-hal sepele yang sebetulnya sudah saya tulis dalam tulisan saya terdahulu, apa yang selama ini dilaksanakan menunjukkan kita gagal memahami makna dan nilai peribadatan yang di dalamnya menyangkut ritus dan kultus. 

Peribadatan bukanlah sekedar agar dilihat umum dan ditonton umat seperti layaknya tontonan.

Sudah waktunya bebenah. (US) 26072020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN