DIA YANG TERSINGKIR DAN TERKUCIL

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Nabi bersabda, "Bila melihat seorang yang bijaksana, berusahalah menyamainya. Bila melihat seorang yang tidak bijaksana, periksalah dirimu sendiri."
—Lunyu IV: 17

Saya mempunyai seorang kawan yang luar biasa, dia cerdas dan bertalenta. Lulus dari salah satu universitas terbaik di Indonesia. Dia seorang aktivis mahasiswa yang luar biasa. Pemberani dan sangat disegani oleh kawan-kawan seperjuangannya. Dia adalah seorang pemimpin dan pejuang mahasiswa yang luar biasa. Dia seorang yang bersih, lurus, dan idealis. Saya pikir tak banyak orang Khonghucu seperti dia.

Dia seorang reformis kalau seandainya istilah seorang revolusioner dirasakan terlalu keras untuk menggambarkan kiprahnya.

Pada beberapa peristiwa berkenaan dengan keagamaan, kelembagaan dan keumatan, saya sering berkomunikasi dengan dia—baik tatap muka maupun melalui telepon—untuk menanyakan pendapatnya dan berdiskusi secara intens. 

Pengetahuannya luas, literaturnya berjibun. Walau kami tak selalu sependapat dan sepaham, bagi saya diskusi yang kami lakukan sangat berguna untuk memperkaya wawasan dan argumen saat saya memberi pandangan di MK. Atau juga dalam dengar pendapat dengan DPR/Pemerintah mengenai perundang-undangan yang akan dibuat. Bahkan issue-issue tertentu yang sensitif berkenaan dan bersentuhan dengan kehidupan beragama, keagamaan, dan keumatan (seperti mengenai kebebasan beragama, kerukunan, penodaan agama, perkawinan, LGBTQ, dan banyak issue lainnya).

Dengan demikian— sebagai wakil Khonghucu—saya bisa menempatkan dan memposisikan umat dan keagamaan Khonghucu dengan baik di antara berbagai kepentingan yang saling tarik menarik dan kadang berlawanan serta berhadap-hadapan dengan keras. Kita tidak selalu berpihak pada satu kubu tapi seringkali mempunyai sikap dan pandangan sendiri di antara berbagai kepentingan tersebut.

Karena saya yang sering menghubungi, meminta pendapat dan mengajaknya berdiskusi, bagi saya tak terlalu bermasalah dia merasa paling hebat, paling pandai, paling benar, tak mau mendengar pendapat orang lain dan menganggap orang-orang seisi dunia tidak pas dan tidak benar. Toh saya juga yang nantinya akan memilih, mengolah, menganalisis, menulis, dan menyampaikan pandangan di berbagai kesempatan. Buat apa juga terlalu pusing? So what gitu loh.

Beberapa tahun terakhir, saya mulai menjauh dan jarang berkomunikasi dengan kawan yang satu ini sejak dia mulai kurang menghormati tokoh-tokoh senior dan disampaikan di media sosial. Bagi saya, tak sepantasnya penilaian buruk disampaikan di medsos apalagi menyangkut tokoh-tokoh senior.

Walau menjauh, sampai hari ini saya sebetulnya tak punya masalah dengan kawan saya yang pandai ini. Saya lakukan agar tak timbul konflik dan permusuhan yang merugikan.

Namun demikian, saya merasa prihatin dengan keadaannya sekarang. 

Dia sering mengeluh mengenai betapa tidak adilnya dunia pada dirinya. Betapa dia yang telah begitu berjasa tapi kenyataannya menjadi manusia yang terbuang, tersingkir, dan terkucil. Tak ada orang yang mengerti dirinya, tak ada lembaga dan organisasi yang mau menerima dirinya. Dia sekarang merasa lapar dan terbuang.

Apakah dia sadar mengapa tak ada orang yang mengerti dirinya, tak ada lembaga yang mau menerima dirinya, tak ada teman yang mau dekat dengan dirinya sehingga dia sekarang lapar dan terbuang? 

Tidak! 

Karena bagi dirinya dia adalah yang paling pandai, yang paling benar, dan yang paling berjasa. 

Bagi dia,  dunia 'membuang' dirinya karena dunia memang brengsek dan tak tahu budi.

Itulah persoalannya. Saat kita merasa paling benar, paling pandai, dan paling berjasa, kita terjebak dalam ego, menonjolkan keakuan, kukuh, mengharuskan dan akhirnya  berangan-angan kosong, sebetulnya kita terjebak dalam empat cacat dan menanggung konsekuensi.


Tak ada satupun manusia yang berbangga diri dan merasa diri paling hebat akan dapat diterima dan diajak bekerja sama oleh orang lain yang dia anggap bodoh, karena orang-orang tersebut sebetulnya tidak lebih bodoh darinya dan tentu tidak suka dianggap lebih bodoh.

Bagi saya tak terlalu masalah dia merasa lebih pandai dan lebih hebat seperti saya ungkapkan di atas. Saya tak mau terlalu ambil pusing. Tapi bagi orang lain, apalagi bagi mereka yang ada dalam jabatan dan posisi tertentu, sikapnya menjadi masalah besar. Tak heran akhirnya dia terkucil dan tersingkir, tak dapat diterima bahkan dibidang yang sebetulnya dia sangat mumpuni.

Kalau seandainya saja dia mau merendahkan hati, mau mendengarkan, mau mundur selangkah untuk maju sepuluh langkah, keluar dari empat cacat yang tidak dia sadari, mengalah dalam hal-hal prosedural yang tak prinsipil, dan menyadari bahwa dunia bukanlah hanya hitam putih, saya benar orang lain pasti salah, saya pandai orang lain bodoh, saya berpegang pada prinsip dan orang lain brengsek, dia pasti akan menjadi manusia hebat. 

Talenta serta kepandaiannya tentu akan memberi manfaat yang besar bagi kemanusiaan, masyarakat, bangsa, negara, dan dunia. Tidak terbuang sia-sia. 

Manusia adalah makhluk sosial yang hidup bersama dengan manusia lain yang mempunyai emosi, bukan hanya rasio. Manusia lain ada juga yang mempunyai talenta, kepandaian, kelebihan serta kekurangan. Manusia lain ada juga yang punya rasa suka dan tidak suka, manusia lain ingin dihargai.

Kita yang harus mengubah diri kita dan cara cara pandang kita pada dunia, bukan dunia yang kita tuntut mengubah cara pandang pada diri kita. Hal ini bukan berarti kita harus mengubah hal-hal prinsip dalam hidup kita. Ini adalah seni tentang bagaimana berhubungan dengan orang lain. 

Saya hanya bisa menghela nafas dan bercermin. 

Sambil berharap, mudah-mudahan saya tidak begitu dan dia tersadar dari angan-angannya. (US) 01082020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN