DUNIA TAK SEBURUK YANG DIRASAKAN

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Pada suatu pagi di dalam sebuah kereta api, ada dua orang anak berlari-lari sambil berteriak-teriak. Penumpang lain yang sedang berupaya bersantai untuk beristirahat merasa sangat terganggu dengan ulah kedua anak tersebut dan memberi tanda kepada ayah kedua anak tersebut agar mendiamkan. Sang ayah lalu meminta anak-anaknya untuk diam dan duduk.

Tak berapa lama kemudian kedua anak tersebut kembali berteriak-teriak. Para penumpang yang lain merasa sangat terganggu. Sang ayah lalu menyuruh kedua anaknya kembali diam.

Namun tak berapa lama kemudian kedua anak tersebut kembali melakukan hal yang sama. Penumpang lain sudah hilang kesabaran dan marah.

Melihat situasi seperti ini, sang ayah berdiri dan mulai berbicara.

"Bapak dan ibu serta adik-adik sekalian, pertama-tama saya memohon maaf atas apa yang telah anak-anak saya lakukan sehingga bapak, ibu serta adik-adik sekalian terganggu."

"Anak-anak saya biasanya tidak seperti ini. Tapi entah mengapa mereka hari ini sangat berbeda. Mungkin ada hubungannya dengan berita yang kami dengar mengenai ibunya satu jam yang lalu. Rumah sakit mengabarkan bahwa ibunya baru saja meninggal dunia setelah dirawat beberapa waktu. Sekarang kami sedang menuju rumah sakit...."

Setelah mendengar apa yang terjadi, para penumpang seketika berubah sikap. Mereka tidak lagi merasa jengkel dan marah. Bahkan timbul rasa iba dan empati. Mereka memanggil kedua anak tersebut dan menawarkan makanan, cokelat, permen, dan makanan lainnya. Mereka tak lagi merasa terganggu dengan apa yang anak-anak lakukan. Paradigma mereka berubah sehingga sikap mereka berubah. Dari rasa jengkel dan marah menjadi iba dan empati. 

Apakah keadaan berubah? Sebetulnya tidak. Anak-anak tetap berlari-lari dan berteriak-teriak. Cara pandang para penumpang lain yang ada dalam kereta api yang berubah.

Cara kita memandang dunia sangat berpengaruh terhadap apa yang kita rasakan. Saat kita memandang dunia sebagai tempat yang buruk, maka dunia akan buruk. Begitu pula sebaliknya. Ada hal-hal yang bisa kita ubah, ada hal-hal yang tidak bisa ubah. Yang ada dalam kendali kita untuk kita ubah adalah diri kita.

Setelah istri bapak dengan dua anak tersebut dimakamkan, sang bapak tak lagi punya ibu bagi anak-anaknya. Bagaimana sikap bapak tersebut menghadapi keadaan baru tersebut? 

Hanya sang bapak yang bisa menentukan. Apakah dia akan terus mencari-cari penyebab mengapa istrinya mati muda dan meninggalkan dua anak yang masih kecil? Terus mengeluh dan merasakan apa yang terjadi pada dirinya adalah ketidakadilan, karma buruk, hukuman Tuhan?

Ataukah dia menerima apa yang terjadi sebagai firman yang seyogianya diterima dengan taat dalam kelurusan? Karena mati hidup adalah firman. Setiap orang pasti mengalami kematian. Dia dapat menerima bahwa ditinggalkan istri, ibu dari anak-anaknya adalah kesempatan yang diberikan Tian pada dirinya untuk mencurahkan kasih sayang pada anak-anaknya. 

Dengan ikhlas dan lapang dada dia merasakan bahwa dia telah memperoleh kesempatan untuk semakin dekat dengan anak-anaknya dan dapat mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Dapat menjadi ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya.

Saat menghadapi persoalan, banyak orang berkeluh gerutu pada Tian, bersesal penyalahan pada sesama. Akibatnya dia merasakan kehidupan begitu berat dan sulit. Padahal bila seandainya mereka mengubah cara pandang. Kehidupan akan lebih lapang. Seperti para penumpang kereta yang berubah cara pandang terhadap dua anak 'nakal'.

Apakah mudah melakukan ini? Tentu saja tidak. Perlu proses.

Di situlah letak pentingnya kita belajar, bertanya, berdiskusi, dan membaca banyak buku agama dan buku-buku positif serta beribadah dan jingzuo. Sayangnya banyak dari kita tak mau melakukan itu dan lebih memilih melakukan hal-hal yang kurang penting. Banyak dari kita tak mau meneliti, mencukupkan pengetahuan, meluruskan hati, mengimankan tekad dan membina diri. Tak mau menyelami hati merengkuh cahaya kebajikan Tian.   Tak heran kehidupan nampak muram, berat dan sulit.
"Harta benda dapat menghias rumah, laku bajik menghias diri; hati yang lapang itu akan membawa tubuh sehat. Maka seorang Junzi senantiasa mengimankan tekadnya."
—Da Xue VI: 4
"Hati yang tidak pada tempatnya, sekalipun melihat takkan tampak, meski mendengar takkan terdengar dan meski makan takkan merasakan."
—Da Xue VII: 2

Lihatlah dunia. Begitu indah bunga bermekaran.  Hujan dan kemarau sama indah.  Begitu hangat cahaya mentari, dan begitu magis rembulan memberi sinar.  Membawa rasa takjub dan syukur pada hati yang ajeg pada tempatnya.

Hidup terlalu berharga untuk diisi dengan keluh gerutu dan sesal penyalahan. (US) 01082020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN