INVESTOR KEBAJIKAN, BUKAN SPEKULAN


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Tulisan kali ini adalah analogi tentang spekulan dan investor dengan bagaimana kita hidup beragama. Bagi Anda yang tidak setuju silakan saja membuat tulisan lain, tak ada yang melarang.

Sebelum melanjutkan membaca apa yang saya maksud, saya mulai dengan pengertian masing-masing kata terlebih dahulu.

Menurut KBBI:
analogi
ana·lo·gi n: 
1) persamaan atau persesuaian antara dua benda atau hal yang berlainan; kias: 
2) kesepadanan antara bentuk bahasa yang menjadi dasar terjadinya bentuk lain; 
3) sesuatu yang sama dalam bentuk, susunan, atau fungsi, tetapi berlainan asal-usulnya sehingga tidak ada hubungan kekerabatan; 
4) kesamaan sebagian ciri antara dua benda atau hal yang dapat dipakai untuk dasar perbandingan;
spekulan
spe·ku·lan /spékulan/ n orang yang mencari keuntungan besar (dalam perniagaan dan sebagainya) dengan cara melakukan spekulasi (dugaan, perkiraan, dan sebagainya)
investor
in·ves·tor /invéstor/ n penanam uang atau modal; orang yang menanamkan uangnya dalam usaha dengan tujuan mendapatkan keuntungan.
Dalam melakukan aktifitas, biasanya spekulan sangat dipengaruhi oleh emosi, seringkali tidak rasional. Maka tak heran para spekulan sangat sensitif terhadap issue yang beredar. Misalnya orang-orang yang bermain saham dan setiap saat memelototi layar komputer adalah spekulan saham. Mereka dengan cepat menjual atau membeli saham, tergantung issue yang beredar dan trend jangka pendek, bisa harian, jam bahkan menit. Pada saat issue yang beredar buruk, mereka dipenuhi ketakutan, saat issue yang beredar baik mereka acapkali dipenuhi keserakahan. Emosi mengalahkan rasio.

Di lain pihak, seorang investor mengambil keputusan berdasarkan perhitungan logis dan rasional. Dia tak terlalu peduli dengan issue baik atau buruk yang beredar di pasar. Yang paling penting bagi mereka adalah fundamental dan pengelola perusahaan. Mereka mampu mengendalikan emosi. Investasi yang mereka lakukan adalah untuk jangka panjang bisa 5, 10, atau 15 tahun. Sebetulnya investasi pada bisnis yang baik dilakukan sepanjang mungkin bahkan selamanya. Rasio mengendalikan emosi. Mereka penuh perhitungan.

Cara pandang dan keputusan investor dengan spekulan sangat berbeda, bahkan bertolak belakang. Investor sejati membeli dan berinvestasi pada bisnis, bukan saham. Para spekulan membeli saham. Keyakinan mereka berbeda. Cara kerja mereka pun berbeda. Horizon waktu mereka berbeda.

Saya adalah seorang penganut agama Ru-Khonghucu yang artinya kaum terpelajar dan lembut hati. Dengan demikian memandang kehidupan dalam horizon waktu panjang, sepanjang hidup bahkan setelah kehidupan. Keputusan yang diambil senantiasa harmonis antara rasio dan emosi. Kehidupan tidak dibiarkan dikendalikan oleh emosi. Tidak pula hanya berdasarkan rasio semata. Rasio digunakan untuk mengendalikan emosi pada proporsi yang tepat.

Keputusan tidak didasarkan issue atau trend (kecenderungan) yang ada dalam masyarakat yang acapkali didasari emosi. Punya keinginan, tapi dikendalikan tidak sampai membuncah berlebihan. Sebagai umat Ru-Khonghucu terus berupaya melakukan kebajikan dan mengendalikan emosi. Tidak berspekulasi mengikuti 'trend' pasar yang dipengaruhi emosi. Berbuat kebajikan tidak ditentukan oleh kondisi masyarakat baik atau buruk. Kebajikan dilakukan adalah untuk jangka panjang, sepanjang hidup.

Tentu saja dalam kehidupan melakukan banyak kekeliruan dan kesalahan, tetapi terus berupaya belajar dari dan mengoreksi kesalahan dan kekeliruan itu. Sebagai umat Ru-Khonghucu senantiasa berpegang pada nilai-nilai dasar/fundamental, yaitu benih kebajikan yang menjadi tolok ukur dan modal dasar hidup sebagai manusia dalam upaya mencapai tujuan tertinggi dan pembinaan diri. 

Meyakini bahwa tak ada jalan pintas untuk mencapai tujuan tersebut. Meyakini bahwa apa yang hendak dituju tak dapat hanya mengandalkan pertolongan Tian, tetapi Tian akan berkenan memberi rahmat dan menolong saat saya terus berjalan di jalan lurus yang telah disediakan dengan batas-batas yang jelas dan pasti. 

Sebagai umat Ru-Khonghucu saya tak mau jadi spekulan yang stress melihat layar monitor yang menunjukkan pergerakan pahala dan dosa yang saya lakukan. Saya berfokus pada tujuan jangka panjang dengan panduan nilai-nilai fundamental yang saya emban sebagai pengemban tianming (firman Tian). Semua dilakukan dengan tulus penuh iman untuk memuliakan diri,  orang tua dan Tian sebagai pemilik.  Saya adalah 'investor' yang mampu mengendalikan emosi (nafsu) dan mengembangkan kebajikan sehingga pada akhirnya mencapai kemuliaan dalam keselarasan dan kebersatuan dengan Tian. 

Dengan berbuat demikian,  saya cukup layak menjadi investor, bukan spekulan. Bagaimana dengan Anda?  (US) 09082020.

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN