UMAT RU-KHONGHUCU KW2?



Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Berapa lama orang Indonesia menjadi pengguna internet dan media sosial dalam sehari?

Menurut data riset tahun 2019, orang Indonesia menduduki posisi kedelapan dalam daftar negara paling lama menghabiskan waktunya berselancar internet.

Pengguna internet di Indonesia yang berusia 16 hingga 64 tahun memiliki waktu rata-rata selama 7 jam 59 menit per hari untuk berselancar di dunia maya. Angka tersebut melampaui rata-rata global yang hanya menghabiskan waktu 6 jam 43 menit di internet per harinya.

Bagaimana dengan media sosial? 

Orang Indonesia termasuk orang yang adiktif, masuk lima besar dunia. Rata-rata penggunaan media sosial di Indonesia mencapai 3 jam 26 menit per hari. Angka di atas rata-rata global yang mencatat waktu 2 jam 24 menit per hari.

Bagaimana dengan waktu yang dihabiskan untuk membaca buku?

Hasil penelitian Perpustakaan Nasional tahun 2017, durasi waktu membaca orang Indonesia per hari kurang dari satu jam, rata-rata hanya 30-59 menit. Sedangkan, jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku. Kondisi itu jauh di bawah standar UNESCO yang meminta agar waktu membaca tiap orang 4-6 jam per hari.

Data-data di atas tidak merinci jenis buku, baik buku atau ebook yang dibaca—apakah buku ilmu pengetahuan baik science atau sosial, agama, motivasi, komik, cerita silat, novel dan berbagai jenis bacaan lainnya. Yang jelas data tersebut menunjukkan ketimpangan antara kegemaran ber-sosmed ria dengan membaca buku. 

Apa yang dibaca ketika menggunakan sosmed mungkin akan menambah keprihatinan kita. Sebagai pengguna sosmed, kita tahu apa kira-kira isi sosmed yang kita akses. Coba saja sekarang Anda lihat mayoritas isi grup-grup WA, telegram, FB atau IG yang Anda ikuti. Dan jujur saja apa yang Anda baca dalam grup-grup tersebut. Jangan-jangan, Anda pun melewatkan tulisan-tulisan agak panjang dan bagus yang di-share dalam grup karena lebih tertarik membaca gosip atau issue-issue negatif. Namanya juga gosip, digosok makin sip. Issue, isinya sueksi.

Kalau data-data di atas menunjukkan betapa memprihatinkan budaya membaca, tentu terlalu berlebihan dan kurang relevan bila kita bertanya berapa banyak orang yang mampu menulis tulisan yang baik dan berbobot? Menulis itu adalah buah dari membaca.

Konon, kebanyakan orang yang telah selesai sekolah atau kuliah merasa senang dan terbebas dari kewajiban untuk membaca buku, lalu menjadikan buku sekedar pajangan di rak buku. Entah dengan Anda?

Kondisi ini perlu diperbaiki, dan kita sebagai umat Ru-Khonghucu mestinya berada di garda terdepan untuk memulai. Bukankah umat Ru-Khonghucu adalah orang yang terpelajar dan lembut hati? Keteladanan Nabi Kongzi dan para cendekiawan Ru-Khonghucu sepanjang zaman mestinya memacu kita untuk melakukan itu. 

Atau jangan-jangan kita sebetulnya umat Ru-Khonghucu KW2 alias cuma labelnya saja?

Jangan-jangan selama ini, Anda pun sudah memasukkan Kitab Sishu dalam rak buku Anda bukan dalam hati dan semangat Anda sehingga sabda Nabi dalam Lunyu, "Belajar dan selalu dilatih tidakkah itu menyenangkan?" hanya sekedar untaian kata tak bermakna. 

Mestinya kita menjawab sabda Nabi dengan tindakan dan suara lantang, "Betul Nabi, belajar dan berlatih itu menyenangkan". 

Siapa yang harus melangkah pertama? 

Sewajarnya para pemimpin umat, yaitu para tokoh,  rohaniwan dan cendekiawan. 
Seperti disabdakan, "Kemana angin berhembus, ke sanalah rumput akan mengarah." 
Kalaupun tetap tidak ada keteladanan itu, ya mulai saja dari Anda yang membaca tulisan ini. 

Siapa pun Anda. (US) 08082020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN