HATI TAK PADA TEMPATNYA

Salam Kebajikan, 
惟德動天,
"Hati yang tidak pada tempatnya, sekalipun melihat takkan tampak, meski mendengar, takkan mendengar dan meski makan takkan merasakan."
—Daxue VII: 2
Tulisan kali ini saya mulai dengan cerita dua sahabat.

Ada dua orang telah bersahabat sejak kecil sebut saja A dan B.

Bertahun-tahun kehidupan berlalu dan persahabatan mereka pun semakin erat. Kedua sahabat ini benar-benar sangat dekat. Tak ada suatu pun yang dirahasiakan di antara keduanya. 

Sampai suatu ketika timbul persoalan kecil yang merenggangkan hubungan mereka.

Persoalannya betul-betul kecil bahkan sepele, terjadi saat keduanya bersama kawan-kawan yang lain pergi ke luar kota. Setelah beberapa hari di luar kota, B karena kesibukannya memutuskan untuk pulang lebih dulu. Mungkin karena sedang capek, A dan B salah paham mengenai keputusan ini sehingga saling bersitegang. Akhirnya B tetap pulang dan A melanjutkan beberapa hari tinggal bersama kawan-kawan yang lain di luar kota.

Setelah peristiwa ini, A dan B tidak lagi bertegur sapa. Persahabatan mereka hancur hanya karena masalah 'kecil' dan 'sepele'. Keduanya tidak mau mengambil inisiatif untuk kembali menjalin komunikasi karena ego dan gengsi. Merasa kalau mengambil inisiatif terlebih dahulu berada pada pihak yang kalah. Jadi keduanya tak mau mengalah. Kerenggangan dan ketegangan hubungan ini berlangsung bertahun-tahun. Bahkan hingga mereka menikah dan mempunyai anak.

Sampai suatu ketika C yang juga sahabat A dan B dan telah merantau keluar kota untuk bekerja, saat pulang kampung, mengajak B bertemu. Pada pertemuan antara B dengan C, C berbicara dari hati ke hati dengan B tentang berbagai hal, termasuk kerenggangan hubungan antara B dengan A yang sangat disayangkan oleh C, karena C tahu betapa mereka berdua bersahabat sangat dekat bagaikan pinang dibelah dua, sebelum peristiwa di luar kota tersebut. Lebih dekat hubungannya dibandingkan dengan hubungan C dengan A dan B.

Dalam bahasa daerah B dan C berbicara dari hati ke hati.

"B kenapa sih kamu dengan A sudah bertahun-tahun tidak bertegur sapa, hanya karena satu peristiwa?Coba kamu pikirkan lagi apa sih sebetulnya persoalannya sehingga persahabatanmu menjadi hancur? Apakah persoalannya sangat prinsipil? Sehingga mengorbankan persahabatanmu dengan A?"

B dengan galau menjawab, "Sebetulnya kalau dipikir-pikir, bingung saya juga kenapa dengan peristiwa sepele seperti itu, saya dan A tidak bertegur sapa lagi".

B selama bertahun-tahun memendam kerinduan untuk bertemu dengan A karena dia berharap A menghubungi terlebih dahulu. Tapi itu tak pernah terjadi.

"B, kamu dan A itu seperti anak kecil saja. Sayang sekali persahabatan kamu dengan A hancur hanya karena hal yang tidak jelas," ujar C dalam bahasa daerah yang menunjukkan keakraban C dengan B.

"Ayo sekarang kita sama-sama ke rumah A. Sudahi hal konyol yang kalian perbuat," lanjut C kepada B sambil berjalan menuju kendaraan yang terparkir di pinggir jalan.

Setelah berkali-kali, akhirnya upaya C berhasil. Pada malam itu, mereka berdua dengan menggunakan kendaraan B, pergi ke rumah A.

Pada malam itu, kedua orang sahabat yang terpisahkan bertemu kembali. Tertawa, bercerita, bercengkrama, begadang sambil ngopi dan merokok bersama seperti dahulu meletakkan ego yang membebani mereka bertahun-tahun. Sebetulnya bertahun-tahun A merindukan saat-saat seperti ini, dia berharap B menghubungi terlebih dahulu. Bulan dan bintang bersinar terang, menerangi kegelapan hati yang dipenuhi amarah, gengsi, ego, dan keakuan selama bertahun-tahun.

Memang tak mudah melelehkan hati yang beku, perlu upaya dan kadang campur tangan pihak ketiga. Tapi terutama, perlu kerendahan hati untuk meneliti kedalaman batin, melihat dalam terang cahaya, bukan bersikukuh mengutuk kegelapan suatu peristiwa. Saat kita mau menanggalkan ego, gengsi, dan keakuan serta melucuti amarah, keharmonisan kembali terjalin. Hal yang pokok dan penting kembali pada kedudukannya, tak lagi tersingkirkan oleh hal-hal remeh. Persahabatan kembali terjalin erat.

Malam yang indah itu telah berlalu bertahun-tahun yang lalu. Persahabatan A dan B telah terjalin kembali. Keduanya dapat kembali bercengkrama, curhat, saling meminta, saling memberi, saling membantu, saling menghormati, mencintai dan menghargai. Bak pinang dibelah dua. Keharmonisan lebih indah dan bermakna daripada perselisihan, apalagi untuk alasan yang tidak jelas. Persahabatan jauh lebih penting dan indah ketimbang ego, gengsi, keakuan dan amarah.

Kita perlu mau mengalah, berhati lapang, memaklumi, perlu mau mengenyampingkan hal-hal sepele yang seringkali menghalangi pandangan kita. Kita perlu melihat hal yang lebih penting dan lebih besar ketimbang terganggu hal-hal kecil yang sebetulnya sangat mudah untuk disingkirkan kalau kita mau.
"...Diri yang diliputi geram dan marah, tidak dapat berbuat lurus, yang diliputi takut dan khawatir tidak dapat berbuat lurus, yang diliputi suka dan gemar, tidak dapat berbuat lurus, dan yang diliputi sedih dan sesal, tidak dapat berbuat Lurus."
—Daxue VII: 1

Ada ungkapan mengatakan, hati yang dipenuhi dendam dan amarah itu seperti kita sedang meminum racun, tapi mengharapkan orang lain yang mati.  

Yang sedang terjadi adalah kita sedang dalam proses mati pelan-pelan, karena kita yang sedang minum racun. 

Anda punya masalah yang sama? Kembalikan hati pada tempatnya.(US) 06092020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN