JABATAN ITU BUKAN KEBANGGAAN

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Bagaimana budaya kita saat seseorang terpilih atau diangkat menjadi pejabat, pimpinan, wakil rakyat, ketua, rohaniwan?

Hampir dapat dipastikan mayoritas akan bergembira. Bahkan sebagian dari kita melaksanakan acara syukuran atau pesta kemenangan penuh suka cita. Diiringi ucapan selamat dari para kolega, relasi, keluarga, saudara, kawan, dan sahabat. Tak jarang disertai deretan bunga ucapan warna warni berbagai ukuran berjejer di depan rumah atau tempat acara menambah semarak suasana. 

Budaya seperti ini tak sepenuhnya keliru saat diikuti dengan kerja sungguh-sungguh memenuhi tugas dan tanggung jawab sesuai predikat baru yang diemban. 

Sayangnya, kita sering menghadapi kenyataan acara syukuran atau pesta kemenangan penuh sukacita tersebut justru menunjukkan kebanggaan yang membalut ke-AKU-an atas predikat baru yang disandang, tidak diikuti dengan tanggung jawab dan kerja yang pantas untuk mengisi 'marwah' predikat tersebut. 

Kita menghadapi kenyataan, predikat tersebut memabukkan penyandangnya. Dengan berlalunya waktu, kita tahu kebanggaan yang dimiliki empunya predikat ternyata tak berisi dan pada akhirnya tercampak, menyisakan kecewa karena predikat tak lagi sesuai isi. 

Benarkan nama-nama! Begitu Nabi Kongzi mengingatkan pada kita agar kita tak mabuk dengan predikat kita. Bagi seorang Junzi, nama itu harus sesuai dengan yang diucapkan dan kata-kata itu harus sesuai dengan perbuatannya. 




Kembali ke awal tulisan ini, budaya berpesta atau membuat acara syukuran saat mendapat predikat tertentu sebetulnya kurang tepat. Begitu pula budaya mengucapkan selamat pada orang yang memperoleh 'predikat' baru tidaklah tepat karena mendahulukan yang ujung, di depan yang pangkal. 

Sesungguhnya saat predikat baru disandang, saat itulah kita harus lebih eling dan waspada pada amanat dan tanggung jawab yang diemban, bukan malah bergembira dan berbangga. Beberapa tahun ke depan penyandang predikat—bahkan untuk predikat tertentu seperti rohaniwan—sepanjang hayatnya mempunyai tugas berat untuk secara sungguh-sungguh, penuh tanggung jawab, dan penuh integritas bekerja keras agar marwah predikat tersebut tetap ada dan dia memang layak menyandangnya. 

Kebanggaan akan muncul di akhir perjalanan kita menyandang predikat tersebut bila kita mengisinya dengan karya nyata sebagai wujud tanggung jawab atas amanat yang dibebankan pada kita. 

Maka dari itu saat kawan, saudara atau kolega kita menyandang 'predikat' baru, tidak pada tempatnya kita mengucapkan selamat tapi lebih elok mengucapkan 'selamat bertugas'. Toh predikat itu bukan untuk dirayakan, tapi 'diisi' dengan karya penuh tanggung jawab karena merupakan amanat.

Menjadi pejabat, pimpinan, wakil rakyat, ketua, rohaniwan, dan predikat lain tidaklah mudah, tak heran dalam Shujing kita bisa melihat bagaimana orang-orang bijaksana zaman dahulu saling mengalah dalam memangku jabatan, bukan malah memperebutkannya. Karena mereka tahu jabatan itu bukanlah untuk dibangga-banggakan, tapi merupakan amanat yang mesti dijalankan dengan penuh tanggung jawab. 

Mereka yang mempunyai sikap dan mentalitas seperti inilah yang menjadi orang-orang besar dan dimuliakan dari generasi ke generasi. 

Bagaimana dengan Anda? (US) 17092020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN