KO TJOE BOEN DALAM KENANGAN

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Setiap tanggal 15 bulan 7 Kongzili saat Zhong Yuan kita melaksanakan persembahyangan pada arwah leluhur, satu di antara 14 persembahyangan besar keagamaan dalam agama Khonghucu sesuai tuntunan kitab suci. 

Di saat Zhong Yuan 2569 Kongzili bertepatan tanggal 25 Agustus 2018, kita telah kehilangan seorang cendekiawan Khonghucu yang sangat luas dan dalam ilmu agamanya, yaitu Bratayana Ongkowijaya, SE., XDS. (Auw Jang Tjoe Boen) yang berpulang ke dalam kemuliaan kebajikan Tian pada usia 58 tahun. 

Ko Tjoe Boen—begitu biasa saya memanggilnya—lahir pada tanggal 25-11-2511 Kongzili (atau 11 Januari 1961 Masehi). 

Saya mengenal ko Tjoe Boen sejak pertengahan tahun 1970–an saat ko Tjoe Boen berkuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bandung. Ko Tjoe Boen adalah seorang aktivis Khonghucu sejak masih sangat muda di PAKIN dan MAKIN Pekalongan, lalu menjadi aktivis di PAKIN dan MAKIN Bandung serta beberapa MAKIN lain dan MATAKIN. 

Saya pikir tak banyak orang Khonghucu di Indonesia yang dapat menandingi ilmu agama dan militansinya dalam menegakkan agama dan lembaga agama Khonghucu. Terutama dari orang-orang yang mempunyai kepentingan untuk menghambat perkembangan agama Khonghucu di Indonesia. 

Ko Tjoe Boen begitu memahami dan menguasai kitab-kitab Khonghucu dan tradisi/budaya Tionghoa lebih spesifik lagi mengenai kelenteng dengan sangat baik. Banyak orang menyebutnya sebagai kamus berjalan dalam kedua bidang tersebut. Cara termudah dan tercepat untuk bertanya mengenai agama Khonghucu dan kelenteng adalah dengan bertanya kepada ko Tjoe Boen. 

Tak heran banyak aktivis Khonghucu saat menghadapi pertanyaan sulit mengenai suatu istilah atau ayat suci atau kelenteng—dan kebetulan mengenal ko Tjoe Boen—mengambil jalan pintas bertanya secara langsung, melalui telepon, email, atau WA. Dengan sigap dan senang hati ko Tjoe Boen akan memberi jawaban bahkan menguraikannya. Ko Tjoe Boen menguasai wen yan wen dan bahasa Inggris di samping bahasa Indonesia dan Jawa. 

Saya berulang kali menganjurkan ko Tjoe Boen untuk menuliskan buah pikirannya, tapi ko Tjoe Boen mengatakan kurang pandai menulis dan lebih suka menjelaskan secara lisan dan tulisan melalui bagan-bagan yang dibuatnya secara rapi, sistematis, dan menarik. 

Banyak yang ingin saya tulis mengenai ko Tjoe Boen tapi berapa halaman pun yang disediakan takkan sanggup menggambarkan dengan sempurna siapa ko Tjoe Boen. Maka saya hanya dapat mengenang beberapa hal yang pernah saya alami dengan membuat catatan kecil dalam blog ini untuk memperingati berjalan tiga tahun ko Tjoe Boen berpulang, saat zhong yuan 15-7-2571 Kongzili (2 September 2020). 

Sebentar lagi persembahyangan tiga tahun tentu  akan dilaksanakan oleh keluarga dan murid-muridnya untuk mengiringi ling hun-nya yang sedang berproses, dengan doa dan harapan agar berpadu harmonis dan bersatu dengan Tian (Pei Tian).

Saya yakin kebajikan yang telah ko Tjoe Boen semai dalam kehidupan ini akan menggetarkan/berkenan Tian dan akan terus bergelora dalam hati orang-orang yang pernah berinteraksi dan mendapat pengajaran dari ko Tjoe Boen. Baik saat pelatihan-pelatihan seperti DAK ataupun saat diskusi-diskusi di berbagai lokasi dan tempat yang pernah ko Tjoe Boen kunjungi di seantero nusantara ini, maupun dalam berorganisasi. 

Tentu saja ada orang-orang yang pernah berbeda paham atau berseberangan dengan ko Tjoe Boen, tapi itulah kehidupan. Kehidupan memang penuh riak, tidak selalu rata. 

Bagi saya, ko Tjoe Boen adalah seorang yang tahu menempatkan diri, seperti selayaknya seorang umat Khonghucu, kapan menjadi seorang pakar dan pengajar, kapan menjadi seorang wakil ketua umum MATAKIN. Ko Tjoe Boen adalah seorang yang senantiasa tekun, bersungguh-sungguh dan tegas dalam belajar, mengajar dan menjalankan tugas, tanpa kehilangan sentuhan humor yang menjadi ciri kepribadian ko Tjoe Boen. 

Itulah sedikit kenangan dan keteladanan yang patut dikenang dan diikuti. 

Tenang dan damailah ko Tjoe Boen. 

Bagaimanapun saya dan kawan-kawan walau dengan hati berat tetap menerima dengan taat dalam kelurusan kepulangan ko Tjoe Boen karena itu adalah firman. 

Nai Tong Tian. (US) 02092020



Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN