MASUK SURGA ITU MUDAH

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

"Siapa di kelas ini berasal dari luar kota?"

Lebih dari separuh mahasiswa yang mengikuti Mata Kuliah Wajib Umum Agama Khonghucu mengacungkan tangan.

"Kamu dari mana?"

"Saya dari Riau, Pak!"

"Saya dari Kalimantan Barat, Pak! "

"Saya dari Depok."

"Saya dari Bangka, Pak!"

"Saya dari Samarinda!"

Mahasiswa yang berasal dari luar kota menjawab sahut menyahut.

"Kalau kamu dari mana?"

"Saya dari Sunter, Jakarta, Pak!"

"Saya dari Jakarta coret, Pak. Tangerang!"
jawab mahasiswa bertubuh gempal dengan anting di kuping. 

Semua tertawa mendengar jawaban sang mahasiswa yang agak urakan itu.

"Nah, kamu yang dari Kalbar. Waktu kamu datang ke Jakarta, kamu melalui bandara Cengkareng ya?"

"Betul, Pak!"

"Kirain kamu berenang melintasi laut Jawa ke Priok," sang Dosen memberi komentar nyeleneh untuk mencairkan suasana. "Kamu dari Depok ya? Masuk Jakarta melalui mana?"

"Saya naik motor, Pak. Melalui jalan raya Bogor."

"Nah, kalian sudah beberapa waktu tinggal atau kuliah di Jakarta. 

Kalian masuk Jakarta ada yang dari Barat (Cengkareng), ada yang dari Timur (Bekasi), ada yang dari Selatan (Depok). 

Kendaraan yang kalian gunakan berbeda-beda. Pesawat, KRL/KA, motor, mobil, atau kalau mampu berenang, lari, jalan kaki, atau naik sepeda juga bisa! 

Akhirnya kalian semua tiba di Jakarta. 

Sekarang kalian ada yang tetap tinggal bersama orang tua di sekitar Jakarta atau di Jakarta, ada yang kontrak, ada pula yang kost." 

"Betul, Pak!"

Lalu sang Dosen bertanya pada para mahasiswa, "Kalian ada yang sering ke Jakarta untuk kuliah atau keperluan lain, ada yang tinggal di Jakarta."

"Pertanyaan saya. Apakah kalian pernah bertemu Presiden?" sambung sang Dosen.

"Belum pernah, Pak!"

"Pernah, Pak. Di layar TV,"
sahut salah seorang mahasiswa sambil nyengir.

"Lah, kenapa kalian tidak pernah bertemu dengan Presiden? Padahal kalian kan ada di Jakarta?" lanjut sang Dosen, "Aneh, satu tempat kok tidak bertemu."

"Presiden ada di Istana, Pak. Saya di Tanjung Duren. Paling sekali-kali Presiden blusukan di Jakarta. Blusukan-nya tidak ke kampus atau daerah tempat saya tinggal. Makanya saya tidak pernah bertemu," jawab salah seorang mahasiswa sambil nyengir.  

"Jadi kalau kalian ingin sering bertemu Presiden, kalian harus tinggal di istana ya? Tidak cukup tinggal di Jakarta. Benar atau betul?" sang Dosen dengan tersenyum jahil bertanya tanpa perlu jawaban.

"Bentul, Pak. Benar dan betul." Suasana kelas menjadi lebih cair. Serius tapi santai.


Dengan percakapan ini, sang Dosen ingin memberi pesan pada para mahasiswa mengenai sesuatu yang sangat krusial dan penting mengenai terminologi afterlife dalam agama Ru-Khonghucu.

"Istana Presiden berada di ibukota negara, yaitu Jakarta. 

Kalau kota Jakarta kita umpamakan sebagai Surga—seperti sering kita dengar dari kawan-kawan kita yang berbeda agama—maka Istana Presiden adalah 'tempat tinggal Tuhan yang ada di surga'.

Dengan analogi masuk ke Jakarta itu mudah, seperti telah banyak orang lakukan, seperti kalian lakukan juga, bagi umat Ru-Khonghucu masuk surga itu mudah. Semua umat Ru-Khonghucu pasti masuk surga, asalkan selama hidup dia banyak berbuat kebajikan dan mengendalikan nafsu.

Berbuat kebajikan bisa saja karena terpaksa, tidak rela, atau rasa takut akan hukuman, atau karma, atau alasan apapun tak menjadi masalah. Selama dalam kehidupan menjalankan kebajikan serta mengendalikan nafsu, umat Ru-Khonghucu pasti masuk surga.

Tapi target umat Ru-Khonghucu bukan cuman masuk surga. Lebih dari itu. 

Tujuan Umat Ru-Khonghucu setelah berpulang/mati adalah masuk dalam Istana Tian, bersatu dengan Tian, bukan sekedar masuk surga. 

Analoginya umat Ru-Khonghucu tidak sekedar mau masuk dan tinggal di Jakarta tapi ingin hidup di Istana, sehingga dapat sering bertemu Presiden."

"Bagaimana caranya pak?" Para mahasiswa mulai penasaran dengan cerita sang Dosen. 

Selama ini para mahasiswa yang mendapat pelajaran agama berbeda saat di SD hingga SMA hanya pernah mendengar mengenai surga sebagai tujuan manusia setelah mati, dengan berbagai persyaratan yang perlu diikuti agar masuk surga dan harus melalui agama tertentu.


Sang Dosen merasa senang dan bersemangat dengan rasa penasaran dan keheranan para mahasiswa.

"Untuk bersatu—manunggal dengan Tian—atau dalam kitab suci agama Ru-Khonghucu disebut Pei Tian, umat Ru-Khonghucu perlu melatih dirinya agar berbuat kebajikan dengan sepenuh cheng (iman).

Jadi, sederhananya umat Ru-Khonghucu terus berlatih membina diri agar dapat berbuat kebajikan dengan tulus, secara otomatis. Dengan tanpa berpikir lagi berbuat kebajikan selaras dengan Tianming (firman Tian), berupa xing (watak sejati) yang telah Tian tabur dalam batinnya. 

Umat Ru-Khonghucu terus menyempurnakan cheng (iman/ketulusan mengikuti firman Tian/sempurnanya kata dan perbuatan) yang pada akhirnya akan mengantarkan dia Pei Tian, masuk dalam 'istana' Tian dan bersatu/manunggal dengan Tian.

Tapi kalian mesti tahu ya, ini adalah analogi. Surga atau bahkan Pei Tian bukanlah tempat seperti Istana, rumah, gedung, atau apapun yang bersifat materi yang sering kita bayangkan karena sejak kecil kita mendapat pengajaran agama seperti itu.

Surga dan Pei Tian adalah suatu keadaan.

Suatu keadaan di mana kita merasakan kebahagiaan dan kepuasan karena kita telah hidup selaras dengan perintah Tian, yaitu hidup dalam Tian Dao (Jalan Suci Tian) dengan menjalankan kemanusiaan kita. Telah mampu hidup sesuai dengan hakikat keberadaan kita di dunia ini yang mengantarkan kita pada kebahagiaan dan kepuasan dengan banyak berbuat kebajikan dan mengendalikan nafsu. Baik dengan ketulusan maupun tidak.

Jadi apakah kalian mau masuk surga atau Pei Tian, kalianlah yang harus jalankan dan sempurnakan. Jalan suci itu harus dijalani sendiri. Dan Cheng (iman) itu harus kalian sempurnakan sendiri.
Dengan sederhana, keadaan apa yang akan kalian capai yang membedakannya adalah apakah kalian berbuat kebajikan dengan tulus dan otomatis (dalam cheng/iman) ataukah kalian lakukan dengan terpaksa dan tidak tulus karena rasa takut.

Apapun alasannya, banyaklah berbuat kebajikan dan kendalikan nafsu. Ke mana kalian setelah mati tak perlu kalian risaukan."

Tak terasa, kuliah 100 menit, 2 SKS  berakhir.  Menarik, menantang dan tak menjemukan. 

Para mahasiswa pulang dengan ketenangan batin dan tekad yang lebih kuat, tak lagi gundah gulana. 

Mereka baru tahu, masuk surga itu mudah. (US) 08092020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN