MENGAJARKAN PERBEDAAN DAN TOLERANSI

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Perkuliahan sedang berlangsung melalui daring. Dengan teknologi yang ada, mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan dari rumah mereka di berbagai kota.


"Coba sekarang kalian lihat ke sekeliling, apakah ada benda-benda berwarna merah?" suara dosen terdengar melalui mic di layar hp dan laptop para mahasiswa.

"Ada, Pak!" sahut mahasiswa terdengar oleh dosen melalui hp.

Dosen yang rata-rata berasal dari generasi X dan Y, serta telah berusia di atas 45 tahun perlu belajar beradaptasi dengan teknologi. Pelatihan, belajar mandiri, atau bertanya pada anak, mahasiswa, dan sejawat yang lebih muda adalah jalan yang dapat ditempuh oleh para dosen agar tidak lagi gaptek dan dapat melanjutkan tugas mulia sebagai pendidik.

Agar perkuliahan dapat berlangsung menarik, diperlukan kreativitas dalam mengajar. Gambar-gambar, video, youtube, cerita, ilustrasi, diskusi dan praktik akan membantu siswa terus fokus pada perkuliahan.

Kurikulum, silabus, RPS perlu penyesuaian agar kompatibel dengan proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Akhirnya, ilmu yang di dapat seyogianya berguna bagi mahasiswa dalam menjalani kehidupan.

Tantangan tak selesai sampai di situ. Bentuk ujian pun perlu penyesuaian. Soal-soal hafalan tidak lagi relevan dalam pembelajaran jarak jauh. Para siswa dapat bekerjasama menjawab soal hafalan dengan menggunakan video atau audio call. Jawaban dapat diperoleh dengan beberapa sentuhan jari atau membuka buku.

"Banyak tidak benda-benda berwarna merah di tempat kalian?" tanya sang dosen melanjutkan.

"Banyak, Pak!" sahut mahasiswa.

"Nicholas, apakah warna merah yang kalian lihat semua sama?"

"Beda-beda, Pak. Ada merah tua, merah marun, merah terang, merah muda, dan beberapa warna merah lainnya," ujar Nicholas menjelaskan warna merah yang dia lihat di kamar pribadinya tempat dia mengikuti perkuliahan.

Lalu dosen menanyakan tentang warna biru kepada Mei, mahasiswa lain yang mengikuti perkuliahan dari rumah tinggalnya di Bangka. Jawaban kurang lebih sama dengan jawaban Nicholas.

"Nicholas, kok kamu mengatakan benda-benda itu berwarna merah? Padahal kan berbeda-beda?"

"Mei, kamu mengatakan benda-benda yang kamu lihat berwarna biru, padahal beda-beda. Kok bisa begitu?"

Hening di seberang sana mendengar pertanyaan menggelitik dari sang dosen. Mereka sulit untuk menjelaskan dengan kata-kata apa yang mereka lihat mengenai warna-warna tersebut. 


Tiba-tiba dosen memecah kesunyian.

"Mari kita renungkan tentang warna merah dan biru itu dengan keberadaan agama.

Ada agama yang sebagian besar pengajarannya tentang Tuhan dan Ketuhanan, ada pula agama yang sebagian besar pengajarannya tentang manusia dan kemanusiaan. 

Ada agama yang mempertentangkan antara iman/percaya dan filsafat, ada agama yang tidak memisahkan agama dengan filsafat. 

Ada agama yang menuntut penyerahan diri total pada Tuhan, ada agama yang mengajarkan hubungan saling berkaitan dan berpengaruh antara Tuhan, manusia dan alam. 

Serta berbagai jenis agama dengan bentuk pengajaran dan ritual berbeda-beda. 

Seperti warna merah dan biru yang kalian lihat berbeda-beda, tapi kalian mengatakan bahwa itu adalah warna merah dan biru, begitu pula agama.

Hingga hari ini tak ada kesepakatan ahli mengenai definisi agama. Agama terlalu kompleks untuk didefinisikan. Agama, seperti juga warna lebih mudah dideskripsikan.  

Kalau agama menyangkut rasa, warna menyangkut apa yang terlihat. Walau warna merah atau biru berbeda-beda ada batasan tertentu mengapa warna tersebut dikatakan merah atau biru dan bukan kuning atau hitam. 

Agama pun demikian, ilmu antropologi mendeskripsikan bahwa agama adalah ajaran + ritual. Jadi bila suatu ajaran ada ritualnya maka itulah agama. Seberapa banyak porsi ritual dan seberapa banyak porsi ajaran diajarkan dan dipraktikkan tak ada batasannya.

Kita tak dapat menilai agama lain dari kacamata agama kita. Demikian pula umat agama lain tak bisa menilai agama kita dari kacamata agama mereka.

Sebagai umat Khonghucu jangan sekali-kali merasa kebenaran adalah milik kalian satu-satunya. Jangan sekali-kali  menghakimi agama orang lain. Kalian harus menghargai perbedaan. Seperti warna merah dan biru yang berbeda-beda, begitu pula agama.

Sebagai umat Khonghucu, kalian diingatkan untuk memandang dunia ini dalam perspektif dan spiritualitas yin yang, bukan hitam putih. Bila kalian mampu menjadikan spirit ini sebagai landasan hidup kalian, rukun, damai dan harmonislah kehidupan ini. 

Warna merah dan biru yang berbeda-beda mengajarkan pada kita mengenai yin yang. Ada merah yang lebih tua, ada merah yang lebih muda. Begitu pula biru dan warna-warna lain.

Satu lagi yang perlu kalian ingat dari perkuliahan kita hari ini: Yin yang adalah hukum Tian yang berlaku di atas dunia".

Perkuliahan berlanjut dengan materi lain. Kadang mahasiswa diminta untuk membaca power point, kadang melihat sekeliling, kadang menonton youtube, kadang membaca ayat, kadang membaca buku, kadang membuat tulisan pendek sebagai laporan atas praktik yang ditugaskan. 

Kadang berdiskusi, kadang diam merenung ...

Perlu kreativitas dan kepedulian agar gap antar generasi teratasi dan perkuliahan tetap menarik. (US) 25092020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN