RELIGIUSITAS SEMBAHYANG ZHONG QIU

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Setiap tanggal 15 bulan 8 penanggalan Kongzili umat Konghucu senantiasa melakukan persembahyangan besar zhongqiu sesuai tuntunan Kitab Suci. Sajian khas persembahyangan zhongqiu adalah kue bulan, dinamakan kue bulan karena bentuknya bundar seperti penampakan rembulan.

Di dalam sanjak Tian Bao yang terdapat dalam Shi Jing II Xiao Ya I. Lu Ming VI bait ke empat tertulis,
Dipersembahkan segenap sajian,
Dengan wajah menunjukkan bakti;
Sembahyang Yue 禴 (musim panas), Ci 祠 (musim semi), Zheng 蒸 (musim dingin) dan Chang 嘗 (musim rontok).
Kehadapan Tuhan dan leluhur yang telah mendahulu,
Diungkapkan hasil kajian,
'Lestari berlaksa jaman tanpa batas'.

Dalam Li Ji XXII Ji Tong 24 tertulis,
... Upacara sembahyang Chang dan zheng mengungkapkan kebenaran sifat Yin ... Upacara sembahyang Chang mengungkapkan maraknya sifat Yin ... Pada zaman dahulu ... pada saat upacara sembahyang chang dikeluarkan hasil sawah dan hasil kota, diumumkan peraturan pekerjaan pada musim rontok mengikuti kebenaran sifat Yin ... Sebelum peraturan pekerjaan pada musim rontok diumumkan, rakyat tidak berani memotong rumput.

Dalam buku Tata Agama dan Tata Laksana Upacara Matakin tertulis,
Sembahyang ini khususnya adalah sebagai pernyataan syukur kepada Malaikat Bumi (Fu De Zheng Shen/Hok Tik Cing Sien/To Sien atau Tho Tee Kong) dilaksanakan di keluarga, kelenteng, maupun litang.

Dari apa yang tertulis pada dua kitab suci dan satu buku panduan tersebut nampak jelas sembahyang zhongqiu adalah sembahyang chang. Saat upacara sembahyang chang inilah diumumkan peraturan pekerjaan pada saat shao yin  (musim rontok) yang mengikuti kebenaran sifat Yin. Kebenaran sifat Yin di sini berkenaan dengan rahmat Tian yang melimpah dalam bentuk berkah bumi.

Kun (Penanggap/Ciptaan) sifat Tian yang mewujud pada alam/bumi sesuai spiritualitas Yin Yang seperti digambarkan dalam hexagram kedua Kitab Yijing bersifat pasif, menerima. Semua berkah bumi bersumber dari Qian (Pencipta) Yang Maha Sempurna yang diterima penuh ketulusan oleh Kun membentuk perpaduan sempurna yin yang dan melahirkan berlaksa makhluk dan benda di jagad raya ini.

Dengan demikian berkah bumi berupa panen hasil bumi saat shao yin (musim rontok) adalah pancaran rahmat Tian kepada manusia melalui bumi yang perlu disyukuri dalam persembahyangan pada Qian, leluhur, dan Kun (mewujud pada malaikat bumi). Lengkap sudah ungkapan rasa syukur kita dalam persembahyangan berdimensi kosmologi Tian, Di, Ren yang kita laksanakan baik di rumah, di kelenteng maupun di litang.

Disabdakan dalam Yijing,
Maha Agung Kun yang besar sempurna; berlaksa benda tumbuh daripadanya; semuanya patuh mengikuti Tian, Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagai tanggung jawab manusia atas berkah bumi tersebut agar dapat terus melimpah dan bermanfaat bagi kehidupan beratus generasi perlu dikelola dengan tepat dan benar sesuai Hukum Tian, tidak dilakukan dengan serampangan agar terus berkelimpahan bagi kehidupan manusia dan segenap makhluk dan benda, maka seorang pemimpin yang arif bijaksana mengeluarkan peraturan pekerjaan, rakyat mengikuti, tak berani melanggar.


Kue bulan yang dibuat seiring berkembangnya peradaban manusia merupakan simbol yang mewujud dari kreasi manusia sebagai hasil olah pikir dan olah rasa, menunjukkan kesadaran manusia atas keterbatasan yang dimilikinya dibanding kebesaran alam apalagi kemaha besaran Tian, tak lepas dari kesadaran bahwa keberadaan dirinya dan keberadaan alam terkait erat hukum yin yang, sebagai wujud Tian Li yang berlaku di jagad raya ini.

Bulan, seperti juga bumi mewakili unsur Yin bersifat pasif, menerima. Keindahan cahaya bulan memancar di malam hari membawa perasaan magis dan takjub terlebih pada tanggal 15 bulan 8. Bulan pasif, menerima, memantulkan cahaya matahari yang 'bertahta' nun jauh di sana. Kehidupan akan terpelihara saat yin dan yang tepat menempatkan diri.

Manusia terus berolah pikir dan berolah rasa mencoba menangkap dan meluaskan pesan ilahi dalam kitab suci. Manusia terus berkreasi menangkap tanda-tanda alam yang merupakan perwujudan hukum Tian. Manusia terus berupaya menangkap dan meneruskan pesan ilahi tersebut dengan olah rasa dan olah pikirnya dalam wujud kata-kata, simbolisasi-simbolisasi dan mitologi-mitologi yang akhirnya membudaya dan mentradisi dari generasi ke generasi. Tak heran persembahyangan zhongqiu tak lepas dari bermacam legenda dan mitos yang mengiringinya hingga kini.

Sebetulnya tak mengapa hasil olah pikir dan olah rasa itu membudaya dan mentradisi selama kita tetap menangkap makna hakiki persembahyangan yang kita laksanakan, bukan malah mengaburkan nya.

Selamat bersembahyang zhongqiu.

Mari kita bersama menikmati kue bulan dan minum teh sambil berharap semoga dewi bulan muncul memancarkan pesonanya, menandakan kita dapat tetap bersyukur dan tetap berpengharapan. Tak membiarkan jiwa kita dipenuhi kegelapan di tengah hingar bingar dunia. 

Toh kita tetap mampu melihat sinar matahari yang memantul pada rembulan di saat mentari menyembunyikan diri dari pandangan kita. (US) 24092020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN