SEMPURNAKAN DIRIMU DENGAN MUSIK

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Marilah hai umatNya
Datanglah segera
Buktikanlah baktimu kepada orang tua
Ya Nabi ku Yang Mulia
Ya Nabiku Khongcu
Ajarannya yang berguna
Peneguh iman hatiku

Untaian lagu di atas ditulis oleh almarhum Oom Dick era tahun 1970-an. Namun entah mengapa tidak pernah dipopulerkan. Anehnya lagu tersebut masih terpatri dalam ingatan saya dan masih bisa saya senandungkan. 

Oom Dick adalah teman kakak saya. Dalam ingatan samar saya, Oom Dick, kurus,  berkulit gelap, berambut agak gondrong dan beberapa jarinya berkuku panjang, mungkin untuk memetik gitar. Saya mengenal Oom Dick saat saya masih kecil di rumah orang tua saya di Bandung. Oom Dick bersama almarhum Oom Tjin Tie (Eddie Rhinaldi) ketika itu bermain musik bersama. Rumah orang tua saya menjadi tempat berlatih band.

Kalau sekarang Anda mendengarkan lagu yang Oom Dick ciptakan, mungkin saja terkesan lagu jadul, berbeda dengan lagu-lagu yang sekarang populer. Saya awam dalam musik. Suara saya juga kurang bagus untuk bernyanyi. Tapi saat mendengarkan lagu-lagu era tahun 1950-an, 1960-an, 1970-an dan era-era selanjutnya hingga era sekarang, saya bisa merasakan perbedaannya.

Warna dan jenis musik terus berubah, bahkan syair lagu yang digemari berbeda dari masa ke masa.

Hal yang paling mencolok mata, anak-anak kecil zaman sekarang heran dan tidak familiar saat orang tuanya menyanyikan lagu anak-anak seperti balonku, bintang kecil, topi saya bundar, naik-naik ke puncak gunung, atau aku seorang kapiten. Mereka menyanyikan lagu berbeda dengan syair berbeda. 

Sekarang, di rumah ibadat Konghucu saya jarang sekali mendengar lagu Hormatku, Belajar, Jangan Teralah dalam Hidup, Mars Generasi Muda atau Baharuilah Dirimu. Di youtube lagu-lagu rohani tersebut pun tidak ada, mungkin tidak menarik bagi youtuber karena sudah tidak sesuai zaman, dan perlu diaransemen ulang. 

Ya, kehidupan terus berubah, lagu dan musik pun berkembang sesuai zaman, walau tak dapat dipungkiri ada musik klasik yang 'abadi' seperti yang ditulis oleh Mozart atau Ludwig van Beethoven yang telah melewati ratusan tahun. Atau juga lagu We are the Champion dari Queen yang telah bertahan puluhan tahun, yang masih didengarkan oleh kalangan cukup luas. 


 
Sempurnakanlah dirimu dengan musik, begitu sabda Nabi dalam Kitab Lunyu

Musik begitu penting dalam peradaban manusia. Musik adalah bagian tak terpisahkan dari upacara keagamaan karena menyangkut 'rasa'. Musik keluar dari kedalaman batin dan mempengaruhi batin. Musik akan meraga dalam pelaksanaan upacara. Upacara akan mempunyai 'ruh' saat selaras dan harmoni dengan musik.

Begitu besarnya pengaruh musik bagi manusia dan akan membentuk peradaban manusia. Maka tak heran Nabi mengingatkan pada kita agar bijaksana dalam memilih musik dan lagu yang kita dengarkan dan mainkan. Ada musik yang membangkitkan perasaan indah, agung, mulia yang berkelindan dengan kebajikan. 

Ada pula musik yang membangkitkan emosi, kebencian, kekecewaan yang berkelindan dengan nafsu. Nabi pernah selama tiga bulan tidak dapat merasakan kelezatan daging setelah mendengarkan lagu Shao saat di negeri Qi

Itulah sebabnya dalam momen tertentu dalam hidup kita—semisal saat upacara pernikahan dan saat kita zhai (bersuci diri dan berpantang)—sesuai tuntunan Kitab Liji, kita tidak memainkan dan tidak mendengarkan musik.

Saat kita beribadah, sudah waktunya kita mulai menata kembali musik dan lagu yang dinyanyikan. Musik dan lagu tertentu yang diperdengarkan dan dinyanyikan justru merusak keseluruhan suasana dan jalannya upacara, terlebih lagi saat dinyanyikan oleh umat dalam suara sengau dan dengan lantang. Upacara dan musik sesungguhnya perlu dipersiapkan dengan sungguh-sungguh sehingga rasa indah, agung, mulia dirasakan umat, bukan malah sebaliknya.

Sayang saya belum bisa bermain musik dan belum dapat bernyanyi dengan pas mengalunkan nada suara sesuai nada dasar dan harmoni dengan alat musik, tidak pula mempunyai suara merdu. Sayang sekali, saya belum bisa menciptakan lagu walau keinginan itu ada. Saya berharap para pemusik dan pencipta lagu dapat tergerak untuk menciptakan lagu rohani yang indah, agung, mulia dan ikut dalam lomba mencipta lagu yang sedang dilaksanakan, bukan semata untuk menang, tapi kesadaran bahwa musik itu sangat penting bagi manusia dan peradaban.

Salah satu hal yang saya inginkan dalam hidup dan hingga sekarang belum terwujud adalah dapat berlatih menyanyi dengan baik, minimal tidak sengau dan sesuai nada. Pada waktunya saya akan ikut les menyanyi. Dalam bayangan saya, uraian agama akan lebih meresap karena upacara yang berjalan harmoni dan selaras dengan musik dan lagu yang dimainkan dan dinyanyikan. Apalagi saat memberi uraian agama saya mampu bernyanyi dengan merdu.

Marilah hai umatNya datanglah segera... 

Saya masih dapat merasakan petikan gitar dan senandung lagu yang dimainkan hampir lima puluh tahun yang lalu. (US) 22092020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN