CATATAN ZHI SHENG DAN 2571



Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Ba Yue 27 tahun 2571 Kongzili akan jatuh pada tanggal 13 Oktober 2020 Masehi, artinya beberapa hari lagi umat Konghucu, khususnya di Indonesia akan memperingati hari kelahiran zhi sheng Kongzi yang ke 2571 tahun.  

Saya mengatakan khususnya di Indonesia, karena di Tiongkok dan beberapa negara lain peringatan zhi shengdan dilaksanakan pada tanggal 28 September 2020 Masehi yang lalu. 
 
Di Indonesia zhi shengdan merupakan satu diantara 14 hari raya keagamaan Konghucu dan semua hari raya keagamaan tersebut menggunakan penanggalan Yin Yang li/Kongzili yang merupakan penanggalan lunisolar, bukan penanggalan Masehi yang merupakan penanggalan solar. 

Kalaupun hari keagamaan Qing Ming dan Dong Zhi seolah-olah menggunakan penanggalan Masehi, itu semata-mata karena dua hari keagamaan tersebut memang menggunakan peredaran bumi mengelilingi matahari dalam perhitungan lunisolar sedangkan hari raya keagamaan Konghucu yang lain berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi, jadi bukan karena menggunakan penanggalan Masehi. Penanggalan lunisolar mengombinasikan antara peredaran bulan mengelilingi bumi dan bumi mengelilingi matahari. Tak heran Qing Ming dan Dong Zhi jatuh pada tanggal 4/5 April dan 21/22 Desember. 

Sistem penanggalan yin yang li/lunisolar telah ada empat milenium lebih (4000 tahun) sebelum penanggalan Gregorian ditetapkan sebagai penanggalan Masehi. 

Kalender Gregorius atau Kalender Gregorian adalah kalender yang sekarang paling banyak dipakai di Dunia Barat dan berbagai negara di dunia termasuk Indonesia dan Tiongkok. Kalender ini merupakan modifikasi Kalender Julius. Yang pertama kali mengusulkannya ialah Aloysius Lilius dari Napoli-Italia, dan disetujui oleh Paus Gregorius XIII, pada tanggal 24 Februari 1582. Dalam kalender ini satu tahun adalah 365 1/4 hari. 

Sedangkan penanggalan yin yang li atau sejak zaman kaisar Han Wu Di dikenal sebagai Kongzili dapat kita baca catatannya dalam Kitab Suci Shujing I, Tang Shu, Yao Dian: 8: 
Baginda Yao yang memerintah tahun 2357 s.M - 2257 s.M bersabda, "O! Kamu, Xi dan He, camkan, setahun itu ada 366 hari; dengan mengingat adanya bulan kabisat, tetapkanlah ke empat musim dalam setahun. Berdasar itu aturlah beratus tukang/pekerja itu sehingga semua pekerjaan sepanjang tahun terselenggara baik."

Sebetulnya penanggalan yin yang li atau lunisolar ini telah dirintis sejak zaman Huang Di, salah satu dari Wu Di (Lima Nabi Purba dan Raja Suci) dalam Ru Jiao bersama Fu Xi, Shen Nong, Tang Yao dan Yu Shun seperti dapat kita baca dalam Liji (Catatan Kesusilaan) Bab Nei Ze II: 2.3 dan Yue Ji I:1.27, hanya awal tahunnya yang berbeda-beda dari dinasti ke dinasti. Hingga akhirnya pada zaman Han Wu Di hingga kini awal tahunnya adalah seperti kita kenal sebagai Xin Nian atau tahun baru Kongzili atau tahun baru imlek dengan merujuk pada sabda Nabi Kongzi dalam Lunyu XV:11, "Pakailah penanggalan dinasti Xia."

Catatan ini saya buat karena tergelitik pada dua hal yang beredar dalam masyarakat. 

1. Ada orang menyatakan dan bertanya dengan lugu, mengapa Qing Ming mengikuti penanggalan Masehi? Kan Kongzi lahir lebih dahulu dari Nabi Isa/Yesus. Yang terkesan umat Khonghucu ikut-ikutan. Disabdakan dalam Zhong Yong XXIX:1, "Zhong Ni meneruskan ajaran Yao dan Shun, mengembangkan ajaran Wen dan Wu di atas sesuai dengan peredaran alam, dan di bawah dengan air dan tanah."

2. Ada orang yang dengan sengaja hendak memisahkan Ru Jiao (mereka mengatakan sebagai Ruisme) dengan Kong Jiao (agama Khonghucu) dengan motif tertentu, padahal Nabi Kongzi adalah salah satu sheng atau nabi dalam Ru Jiao dan Nabi Kongzi adalah Nabi terbesar Ru Jiao yang telah mencapai Puncak Kenabian sehingga beliau disebut sebagai Da Cheng Zhi Sheng dan Tian Zhi Mu Duo walau dengan rendah hati beliau mengatakan bahwa beliau hanya meneruskan tidak mencipta seperti dapat kita baca dalam Lunyu VII:1. Sabda nabi dalam Lunyu VI: 13, "Jadilah umat Ru yang bersifat Junzi (luhur budi) jangan menjadi umat Ru yang Xiaoren (rendah budi)."

Dalam perjalanan sejarah, telah banyak upaya dilakukan untuk mengerdilkan bahkan menghancurkan agama Ru-Konghucu dan kebesaran nabi, baik di Tiongkok maupun di Indonesia, tapi dari waktu ke waktu upaya itu tidak berhasil. 
 
Dalam Lunyu IX: 5 kita dapat membaca:
Nabi terancam bahaya di negeri Kuang. Beliau bersabda, "Sepeninggal raja Wen, bukankah kitab-kitabnya Aku yang mewarisi?" 
"Bila Tuhan YME hendak memusnahkan kitab-kitab itu. Aku sebagai orang yang lebih kemudian, tidak akan memperolehnya. Bila Tuhan YME tidak hendak memusnahkan kitab-kitab itu, apa yang dapat dilakukan orang-orang negeri Kuang atas diriKu."
Dalam Lunyu VII: 23 Nabi menegaskan,
"Tuhan YME telah menyalakan kebajikan dalam diriKu. Apakah yang dapat dilakukan Huan Tui atasKu?" 

Begitulah, walaupun para penguasa seperti Qin Shi Huang Di, Mao Ze Dong hingga Orde Baru melakukan berbagai upaya kekerasan politik, psikis, dan fisik untuk mengintimidasi umat Konghucu dalam upaya mengerdilkan kebesaran Nabi Kongzi dan agama Ru-Konghucu, upaya itu ternyata sia-sia bahkan hanya menambah kebesaran Nabi Kongzi dan agama Ru-Konghucu. 

Sayup-sayup terdengar oleh telinga batin, lagu Gema Lonceng Sakti.
Hai dengar suara lonceng sakti bergema selalu

Trimalah lembut swara 'ngan telinga bathinmu. 

Alangkah merdu terdengar
Alangkah merdu terdengar

Oooo Ya Khongcu Nabiku
Terimalah hormatku

Betapa hatiku bersyukur
Oleh kasihmu Tuhanpun berkenan...

Banyak gelar kebesaran dan kemuliaan yang dianugerahkan kepada Nabi Kongzi oleh para para kaisar, raja, orang suci, cendekiawan bahkan para pemenang nobel yang menunjukkan kebesaran, keagungan dan kemuliaan Beliau. 

Dalam iman saya, Kongzi adalah nabi terbesar dan paling sempurna dalam Ru Jiao yang menuntun umat manusia untuk hidup dalam dao. Beliau adalah Genta Rohani Tian bagi umat manusia. (US) 05102020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN