IMAN DAN SADAR

Salam Kebajikan, 
惟德動天,
"Orang yang oleh iman lalu sadar, dinamai hasil perbuatan watak sejati; dan orang yang karena sadar lalu beroleh iman, dinamai hasil mengikuti agama. Demikianlah iman itu menjadikan orang sadar dan kesadaran itu menjadikan orang beroleh iman." 
—Zhongyong XX: 1

Iman dalam ayat-ayat Sishu Wujing terbitan MATAKIN merupakan tafsir atau terjemahan dari aksara Cheng. Beberapa penulis buku Konghucu menerjemahkan cheng sebagai jujur atau tulus. Sedangkan beberapa penulis buku (Kristen) menyamakan iman dengan percaya yang merupakan tafsir atau terjemahan aksara xin.

Xs. Tjhie sebagai tokoh utama tim penerjemah kitab Sishu Wujing ke dalam bahasa Indonesia menjelaskan cheng atau iman adalah sempurnanya kata batin dan perbuatan. Atas tafsir ini Xs. Tjhie tidak memberi uraian lebih lanjut mengenai apa maksud 'sempurnanya kata batin dan perbuatan'.

Suhu Chew dalam satu diskusi mengatakan bahwa sempurnanya kata batin dan perbuatan adalah saat kata dan perbuatan selaras atau digerakkan oleh firman Tian dalam diri manusia. 

Tianming (Firman Tian) itulah dinamai watak sejati demikian sabda dalam Kitab Zhongyong Bab Utama ayat 1. Lebih lanjut disabdakan dalam ayat yang sama bahwa berbuat mengikuti Watak Sejati itulah dinamai menempuh Dao (Jalan Suci). Bimbingan untuk menempuh dao itulah Jiao (Agama).
Saya pribadi cenderung mengartikan cheng (iman) sebagai ketulusan mengikuti firman Tian.

Kesadaran akan diri adalah kesadaran yang muncul dari memberikan perhatian secara sengaja kepada berbagai hal sebagaimana adanya di masa kini tanpa menghakimi. Kesadaran akan diri bukanlah memberi lebih banyak perhatian, melainkan memberikan perhatian secara berbeda dan lebih bijak—dengan segenap pikiran dan jiwa, menggunakan seluruh tubuh dan indra secara penuh.

Saat mempraktikkan kesadaran akan diri, kita memfokuskan semua energi kita pada momen masa kini—pada bagaimana keadaan adanya saat ini. Kita tidak terseret oleh memori masa lalu atau kekhawatiran tentang masa depan. Sebaliknya, kita memahami bahwa pikiran hanyalah peristiwa-peristiwa mental sekilas yang datang dan pergi seperti awan melintasi langit. Pikiran tidak mesti benar atau bisa dipercaya atau bahkan bermakna.

Erhart Tolle dalam The Power of Now mengatakan, 'Kesadaran akan keberadaan sekarang melepaskan belenggu masa lalu, dan ilusi masa depan'. Masa lalu dan masa depan menguasai keberadaan sekarang karena belenggu pikiran. Inilah yang dinamai ketidaksadaran. Kemampuan mengamati pikiran adalah kunci untuk melepaskan berkuasanya pikiran atas kita. 

Inilah hidup dalam kesadaran. 




Ayat di atas memberi petunjuk pada kita proses timbal balik antara iman dan kesadaran.

Karena ketulusan kita mengikuti firman Tian berupa watak sejati dalam diri kita, watak sejati bekerja dalam diri kita dan kita beroleh kesadaran, yakni menjalankan hidup saat ini dengan sepenuh hidup, tidak terbelenggu masa lalu dan ilusi masa depan. Dalam hal ini kita mulai dengan olah batin menuju kesadaran. Dengan olah batin, memampukan kita hidup sepenuh hidup.

Di lain pihak karena kita belajar dan mengikuti agama kita mampu menjalankan hidup sepenuh hidup, tidak terbelenggu masa lalu dan ilusi masa depan sehingga kita mampu penuh ketulusan mengikuti Firman Tian, tanpa dipikir-pikir lagi perbuatan kita selaras dengan watak sejati kita. Dalam hal ini kita mulai dengan olah pikir menuju iman. Dengan olah pikir akhirnya kita merengkuh kedalaman batin dan memampukan kita penuh ketulusan mengikuti Firman Tian.

Dalam agama Konghucu, olah batin dan olah pikir terjadi dalam hati. Mengzi mengatakan tugas hati untuk berpikir. Dengan kedua proses timbal balik inilah manusia mengasah kemanusiaannya hingga akhirnya menemukan diri sejati yang akan mempersatukan dirinya dengan Tian.
Mengzi mengatakan yang benar-benar dapat menyelami hati, akan mengenal xing, yang mengenal xing akan mengenal Tian. Menjaga hati merawat xing (watak sejati), demikianlah mengabdi kepada Tian. Tentang usia pendek atau panjang jangan bimbangkan, siaplah dengan membina diri. Demikianlah menegakkan Ming (firman). 
—Mengzi VIIA: 1-3

Dalam bahasa sehari-hari, orang yang melakukan sesuatu dengan tulus tanpa pamrih, lalu mampu menjalankan hidup dengan penuh kesadaran, artinya melakukan sesuatu yang sedang dijalani atau dikerjakan sekarang, saat ini dengan fokus dan sungguh-sungguh tanpa dipengaruhi oleh apa yang telah terjadi di masa lalu (apakah itu karma masa lalu ataupun kejadian yang terjadi beberapa saat yang lalu)  maupun apa yang akan terjadi di masa yang akan datang itulah karena orang tersebut mampu menjalankan kehidupan sesuai 'perintah'/digerakkan oleh Tianming (watak sejati) yang ada dalam dirinya.

Di lain pihak,  dengan belajar agama, Anda sadar dan menjalani kehidupan kini dan sekarang dengan fokus dan sungguh-sungguh, tidak terbelenggu masa lalu dan ilusi masa depan lalu Anda menjalankan kehidupan dengan tulus tanpa pamrih. Kalau Anda sedang melakukan sesuatu tapi Anda masih memikirkan hal lain, misal Anda sedang kebaktian tapi Anda memikirkan istri Anda yang kemarin ngambek artinya Anda dalam kondisi tidak sadar. Saat kebaktian, pikiran Anda Ada di kebaktian, itulah kondisi sadar.

Kedua cara ini mempunyai hasil yang sama bahwa pada akhirnya hidup haruslah tulus dan dipenuhi kesadaran.

Pesannya: Jadilah orang yang tulus tanpa pamrih (penuh iman) dan hiduplah pada masa sekarang dengan fokus dan sungguh-sungguh (penuh kesadaran) dalam melakukan atau mengerjakan sesuatu. Tak usah terbelenggu apa yang telah terjadi di masa lalu dan tak usah risaukan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.

Hidup seperti itulah yang dipenuhi kebahagiaan dan kepuasan. (US) 20102020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN