KEJADIAN DI PRANCIS ITU

 Salam Kebajikan, 

惟德動天,

Ada satu berita mengejutkan di Prancis sana. Samuel Paty, seorang guru sejarah dipenggal kepalanya oleh seorang remaja.

Paty diserang di jalan pada 26 Oktober 2020 dan dibunuh karena mempertunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada siswanya dalam kelas tentang kebebasan berbicara.

Pembunuhnya seorang pengungsi asal Chechnya berusia 18 tahun yang sudah tinggal di Paris sejak kecil. Pelaku telah ditembak mati oleh polisi.

Penggambaran Nabi Muhammad dianggap tidak sopan oleh umat Islam, tapi di Prancis yang memiliki sejarah panjang penyindiran agama, perbuatan itu dipandang sebagai simbol kebebasan berbicara.

Umat Islam begitu mencintai Nabi Muhammad lebih dari dirinya sendiri. Banyak orang yang tidak mengerti penghinaan kepada Rasulullah merupakan penghinaan bagi muslim 

Juru bicara presiden Turki, Ibrahim Kalfin membela amarah umat Islam atas karikatur Nabi Muhammad dengan mengatakan:
"Beberapa mungkin tidak mengerti bagaimana kami mencintai Nabi kami lebih dari diri kami sendiri."

"Mereka mungkin tidak mengerti bagaimana kami melihat penghinaan kepadanya juga sebagai penghinaan bagi kami."

"Mereka mungkin menyebut kasih sayang kami fanatisme."

Bagi saya, bagaimanapun juga, pembunuhan adalah perbuatan yang harus dikutuk karena tidak berperi kemanusiaan.

Namun demikian, ada asap karena ada api.

Bagi seorang muslim, hukum dari melukis wajah Nabi adalah haram.

Pada harian Islam Pos dikemukakan alasan mengapa wajah Nabi Muhammad tidak boleh dilukis.

Saat Nabi Muhammad SAW hidup, tidak ada seorang pun yang pernah melukis wajahnya, dan juga kamera foto belum lagi ditemukan.

Jadi itulah sebenarnya duduk masalahnya. Dan dengan masalah itu sebenarnya kita harus bangga. Sebab keharaman menggambar wajah Nabi SAW justru merupakan bukti otentik betapa Islam sangat menjaga ashalah (originalitas) sumber ajarannya.

Larangan melukis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait dengan keharusan menjaga kemurnian aqidah kaum muslimin. Sebagaimana sejarah permulaan timbulnya Paganisme atau penyembahan kepada berhala adalah dibuatnya lukisan orang-orang sholih, yaitu Wadd, Suwa’, Yaguts, Ya’uq, dan Nasr oleh kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam. Memang pada awal kejadian, lukisan tersebut hanya sekadar digunakan untuk mengenang keshalihan mereka dan belum disembah.

Tetapi setelah generasi ini musnah, muncul generasi berikutnya yang tidak mengerti tentang maksud dari generasi sebelumnya membuat gambar-gambar tersebut, kemudian syetan menggoda mereka agar menyembah gambar-gambar dan patung-patung orang sholih tersebut. Melukis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dilarang karena bisa membuka pintu Paganisme atau berhala-isme baru, padahal Islam adalah agama yang paling anti dengan berhala.

Itulah sebab utama kenapa Umat Islam bersikeras melarang melukis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dalam rangka menjaga kemurnian ‘aqidah tauhid

Masih banyak sebab yang lainnya dari larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Contoh satu di antaranya penggambaran diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dianggap akan membuka peluang untuk perbuatan penistaan terhadap pribadi Beliau.



Sebagai penganut agama Konghucu yang berkeyakinan begitu pentingnya shu atau tepasalira/tenggang rasa dan li atau kesusilaan dalam kehidupan, merasa aneh dan menyayangkan ada orang yang tidak menghargai keyakinan orang lain, dalam hal ini umat Islam hanya karena alasan kebebasan berbicara.

Kebebasan berbicara tentu saja ada batas-batas yang harus ditaati, ada nilai-nilai kesusilaan dan tenggang rasa kepada orang lain yang perlu kita perhatikan. Hanya dengan demikianlah akan ada toleransi, saling pengertian dan terwujud kedamaian.

Dalam hal kecil saja, misalnya bila ada istri orang yang wajahnya buruk, kita tentu tidak akan berteriak-teriak kepada orang lain mengenai istri orang berwajah buruk tersebut karena alasan kebebasan berbicara. Apalagi menyangkut hal yang begitu sakral yang diyakini oleh saudara kita umat Islam, tak sepantasnya dilakukan. 


Kita tak mau orang yang kita kasihi dihina orang lain. Kita akan melakukan tindakan apapun yang perlu dilakukan untuk menjaga kehormatan orang yang kita kasihi. Umat Islam mempunyai keyakinan yang mesti dihargai. Mereka akan menjaga apa yang mereka yakini dengan berbagai macam cara.

Sayangnya, kejadian ini acap berulang lagi dan lagi. 

Hilangnya nyawa atau demonstrasi di berbagai penjuru dunia karena sebab yang sama tak perlu dan tak pantas terjadi lagi bila kita memiliki tenggang rasa dan menjunjung kesusilaan. Dengan dua hal itu, cukup bagi kita untuk mewujudkan dunia yang damai dan harmonis.

Saya menuliskan ini bukan berarti mendukung, tapi menyesalkan bahkan mengutuk keras pembunuhan yang terjadi. Namun demikian kita juga harus menghentikan segala hal yang dapat melukai saudara-saudara kita yang berbeda keyakinan karena alasan kebebasan berbicara. 

Tak bisa kita hanya melihat sesuatu dari kacamata kita tanpa mau meneliti alasan sesuatu tak boleh dilakukan. 

Apa yang baik bagimu belum tentu baik bagi orang lain.  

Kejadian di Prancis itu mengajarkan pada kita pentingnya melihat dari kaca mata orang lain, bukan melihat dengan kaca mata kuda. Apalagi menyangkut keyakinan agama. Kejadian di Prancis itu mengajar-kan betapa pentingnya kesusilaan dalam kebebasan berbicara.  (US) 27102020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN