MENGELOLA STRES

 Salam Kebajikan, 

惟德動天,

Hampir dapat dipastikan, dalam kehidupan setiap orang akan mengalami stres. Tak berlebihan bila dikatakan stres adalah bagian dari kehidupan manusia.

Dalam kehidupan dulu dan kehidupan sekarang tentu saja terjadi perbedaan penyebab dan tingkat stres, karena kehidupan mengikuti hukum perubahan tiada henti. Kehidupan telah berkembang sedemikian rupa menjadi lebih kompleks. Kebutuhan dan keinginan manusia terus berubah dan berkembang. Mungkin saja kebutuhan manusia tetap sama, yaitu kebutuhan pada pangan, sandang, dan papan. Namun, macam dan jenis pangan, sandang, dan papan bisa berbeda-beda karena telah dipengaruhi keinginan.

Orang tak lagi cukup makan daging bakar, berpakaian kulit hewan, dan tinggal di goa atau di atas pohon. Banyak jenis dan variasi makanan yang diinginkan walau sebetulnya kebutuhan perut kita adalah makanan supaya tidak lapar. Begitu pula pakaian yang awalnya dibutuhkan untuk melindungi tubuh dari dingin atau panasnya udara telah menyajikan bermacam-macam jenis dan variasi, tak lagi sekedar melindungi tubuh dari cuaca, unsur estetika dan kesusilaan telah masuk di dalamnya dan memacu timbulnya keinginan yang semakin bervariasi. Tak jauh bedanya dengan papan atau tempat tinggal yang juga berubah dan berkembang lebih bervariasi.

Dengan semakin berkembangnya peradaban, kebutuhan pun berkembang, misalnya timbul kebutuhan alat transportasi, pekerjaan, pengakuan, dan lain-lain, bukan lagi hanya menyangkut hal-hal materil tapi juga imateril. Bukan lagi sekedar yang kasat mata tapi juga tidak kasat mata dengan jenis dan variasi yang semakin banyak.

Persoalan yang timbul adalah acapkali antara harapan dan kenyataan tidaklah sama dan terjadi kesenjangan. Saat kenyataan melebihi atau sama dengan harapan, orang merasa puas dan tidak merasakan stres. Saat kenyataan tidak sesuai harapan, timbullah stres.

Stres tidaklah buruk bahkan baik saat kita dapat mengelola dengan baik. Dengan stres yang terkelola dengan baik, kita akan bergerak maju. Saat stres tak terkelola dengan baik, timbullah problem fisik dan psikis. Depresi akan timbul saat stres tak lagi terkendali. Dalam kondisi depresi kita tak lagi mampu mengontrol diri.

Di zaman modern seperti sekarang ini tak heran bila semakin banyak orang tak mampu mengelola stres dan akhirnya depresi. Mereka terbawa hanyut arus kehidupan yang semakin instan. Kehidupan dipacu begitu cepat dengan berlaksa romantika persoalan. Semakin banyaknya pilihan yang ditawarkan dalam menjalani hidup membawa persoalan serius bagi kita, manusia.

Pilihan kita adalah apakah kita terbawa arus kehidupan seperti ikan mati yang terbawa arus sungai, ataukah kita menjalani kehidupan menentang arus atau menelusuri arus seperti ikan hidup yang berjuang untuk hidup di sungai-sungai?

Kita seyogianya memelihara hati kita agar tetap tengah tepat, tak terbawa arus dan mampu mengelola stres.

Mengzi memberikan tips pada kita untuk memelihara hati yang dapat kita baca dalam Mengzi VIIB: 35
Untuk memelihara hati, tiada yang lebih baik daripada mengurangi keinginan. Kalau orang dapat mengurangi keinginan, meskipun ada kalanya tidak dapat menahannya, niscaya tidak seberapa.

Mengurangi keinginan agar tidak melindas diri kita bukan berarti kita tak punya keinginan, tapi kita mesti tahu batas saat kapan kita harus terus, saat kapan kita harus mengendorkan langkah dan saat kapan kita harus mundur melakukan pemeriksaan diri sebelum meneruskan kehidupan dalam hati yang lebih tertata. 

Dengan cara itulah kita tidak terhanyut.

Nabi mengingatkan kita dalam Daxue VI: 4.
Harta benda dapat menghias rumah, laku bajik menghias diri; hati yang lapang itu akan membawa tubuh kita sehat. Maka seorang junzi mengimankan tekadnya.

Kita perlu terus belajar membaharui diri dan membina diri kita agar kita tetap sadar. Jadikanlah Belajar, sembahyang, dan jingzuo sebagai kebiasaan. 

Memang perlu upaya sengaja. 

Tak selalu mudah memang, tapi layak untuk kita lakukan. (US) 26102020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN