TAKE HOME EXAMINATION

 Salam Kebajikan, 

惟德動天,

Tanggal 11 Oktober yang lalu saya mendapatkan pesan melalui whatsapp, yang intinya meminta bantuan saya untuk membuat soal pendidikan agama Konghucu dalam bentuk soal esai. Kebetulan hari tersebut saya berangkat ke luar kota. 

"Pakai modul yang mana, Bu?" saya bertanya.

"Masih pakai yang lama, Pak," muncul pesan balasan di telepon genggam saya. 

”Nanti akan ada penyamaan persepsi, Pak. Namun sebagai gambaran saya sampaikan hal-hal sebagai berikut,“ disusul masuknya screenshot penjelasan mengenai bentuk soal, jumlah, tata cara, dan persyaratan. 

"Diharapkan akhir Oktober harus selesai, Pak" jawabnya ketika saya tanyakan mengenai tenggat waktu. Jadi ada waktu 2 minggu untuk menyelesaikan tugas bila saya bersedia menjadi pengembang soal.

Mendapat permintaan tolong seperti ini saya tidak langsung mengiyakan, terlebih lagi saya sedang ada urusan penting di luar kota selama satu minggu. 

Maka saya jawab, "Mesti dipelajari terlebih dahulu ya."

Dalam hati saya berharap ada orang lain yang menggantikan karena saya khawatir tak dapat mengerjakan sesuai tenggat waktu. Selama satu minggu hingga tanggal 18 Oktober saya tak mungkin mengerjakannya.

Sayangnya harapan tinggal harapan. Walau saya mencoba menolak dengan berbagai alasan, salah satunya tak dapat ikut dalam rapat penyamaan persepsi, bahasa halus dari tutorial pengembangan soal dengan durasi 3 jam, saya tetap diharapkan bantuannya.

"Gak apa-apa, Pak. Nanti kami share rekaman penyamaan persepsinya, Pak," pesan whatsapp seperti itu yang saya terima. 

Dengan agak was-was, saya tak kuasa menolak lebih lanjut. "Baik kalau begitu."

"Terima kasih atas bantuannya."

Dengan upaya terakhir saya coba meminta, "Sama-sama. Padahal yang lain mungkin lebih punya banyak waktu, Bu. 😬"

Permintaan sia-sia. Mungkin saya terlalu keren untuk tidak terlibat dalam pengembangan soal tersebut? 
Just Kidding.

Satu hari setelah saya pulang ke rumah, saya tonton youtube penyamaan persepsi untuk mempelajari pengembangan soal yang diminta. 

Setelahnya, hingga larut malam selama dua hari saya berkutat membaca cepat modul setebal hampir seratus lima puluh halaman yang baru saya terima. Saya harus mengejar tenggat waktu yang diberikan. Saya bukanlah orang yang suka menawar tenggat waktu sebelum saya kerjakan.

Tidak terasa sudah sepuluh tahun lebih saya menjadi penulis, penelaah, dan dosen pendidikan agama Konghucu. Profesi yang tak pernah ada dalam pikiran saya sebelumnya tapi sekarang saya geluti. Saya mengajar dan pernah mengajar di beberapa universitas di berbagai kota, baik sebagai dosen tatap muka maupun dosen jarak jauh. Baik dibayar seadanya maupun tidak dibayar. Profesi mengasyikkan dan membanggakan yang cukup menghabiskan waktu dengan jenjang tak jelas dan penghasilan kurang memadai. 

Saya katakan membanggakan, buktinya pekerjaan dalam KTP saya tertulis DOSEN padahal saya 'dosen terpaksa' dan hingga kini menjadi dosen tidak tetap yang tak punya home base. Aslinya saya pengusaha dan pernah bekerja di beberapa perusahaan, saya juga pernah jadi direktur loh.  Sekali-kali sombong gak apa-apa kali ya?

Mungkin hanya di negeri ini, Mata Kuliah Wajib Umum Agama yang penting dan wajib diajarkan pada mahasiswa sesuai amanat undang-undang menempatkan dosennya pada posisi dan masa depan tidak jelas. Hanya orang-orang gila yang mau mempunyai profesi seperti ini. Orang waras takkan mungkin mau menempatkan masa depannya pada ketidakpastian. 

Untungnya saya mengemban tugas ini dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati bukan sebagai profesi utama satu-satunya, bukan pula untuk menggapai masa depan atau mencari uang untuk makan, saya melakukannya karena idealisme, tanggung jawab, perjuangan, dan untuk mendidik anak-anak muda sebagai calon penerus. Alasan klise sejak saya masih muda.

Mudah-mudahan akan ada orang 'gila' lainnya yang mau menggantikan saya karena sebentar lagi saya akan pensiun dari profesi ini, setidaknya pensiun dari profesi 'dosen' di ibu kota. Saya berencana akan lebih banyak tinggal di kota kelahiran saya. 

Tidak salah kan kalau saya mengurangi porsi saya sebagai dosen dan kembali ke habitat asli saya? 




Tadi malam saya sudah menyerahkan kisi-kisi untuk ditelaah, beberapa jam sebelum tenggat waktu tiba. Saya tinggal menunggu hasil penelaahan dan melanjutkan pengembangan soal. Seminggu lagi tenggat waktu pengembangan soal akan tiba, saya akan mati-matian mengerjakannya, tak mau sampai melewati tenggat waktu, malu.

Oh iya, soalnya bukan hafalan loh. Soal hafalan tidak cocok untuk kuliah daring dan ujian dikerjakan di rumah alias take home examination. Soal yang dibuat berjenis HOTS. High Order Thinking Skills. 

Terpaksa dah saya sok inggris-inggrisan, kebetulan juga saya suka yang hot-hot. Misalnya cabe, tapi bukan cabe-cabean.
 
Wah, sudah hampir pagi. Langit tak lagi gelap. Saya coba tidur lagi ya? (US) 23102020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN