BELAJAR DARI KAWAN

 Salam Kebajikan, 

惟德動天,

Beberapa waktu yang lalu teman-teman SMA saya mengadakan sharing dalam zoom meeting mengenai apa saja yang dilakukan saat pandemi.

Berdasarkan info yang dibagikan dalam grup WA, sharing akan menampilkan beberapa teman seangkatan dari berbagai profesi sebagai pembicara. Tapi pada akhirnya semua peserta diminta untuk berbicara setelah para 'narasumber' membagikan pengalamannya.

Teman-teman yang berdomisili di berbagai daerah dan manca negara mempunyai profesi berbeda. Ada dosen, dokter, dokter gigi, pendeta, pengusaha kuliner, guru musik, pemilik sekolah, agen asuransi, pengusaha tekstil, kontraktor, karyawan, konsultan manajemen, perancang mode, dan lain-lain. Ketika ditanya apa profesi saya sekarang, seperti biasa, saya agak bingung menjawabnya.

Saat saya diminta untuk sharing pengalaman saya, dalam benak saya bertanya-tanya apa yang bisa saya sharing? Apakah saya layak untuk sharing dan apakah cukup bermanfaat bagi teman-teman bila saya sharing? Saya tak mau menghabiskan waktu teman-teman untuk mendengarkan ocehan saya, apalagi bila sampai ada pengalaman berharga dari teman yang lain terlewat karena waktu tak tersedia gara-gara saya bicara. Karena peserta tak lebih dari 30 orang akhirnya semua diminta membagikan pengalaman. Jadilah acara berlangsung lebih dari 4 jam hingga menjelang tengah malam.
Tiap kali jalan bertiga, niscaya ada yang dapat Kujadikan guru. 
Kupilih yang baik, Ku ikuti dan yang tidak baik, Kuperbaiki. 
Begitu sabda Nabi Kongzi dalam Lunyu VII: 22.
Mengikuti sharing yang melibatkan lebih dari tiga orang, tentu saja banyak yang saya peroleh untuk pembelajaran, empati, simpati, kekaguman, inspirasi, introspeksi dan banyak hal lain yang memperkaya kehidupan saya.

Perjalanan hidup manusia tidak selalu mulus rata, tidak senantiasa berada di atas. Ada kejadian-kejadian tertentu di luar dugaan yang dapat tiba-tiba menghempaskan kita saat kita merasa sedang berada di puncak kesuksesan. Ada peristiwa-peristiwa tertentu yang memberi kesadaran pada manusia bahwa keluarga adalah pilar penting dalam kehidupan yang sering terlupakan.

Ada simpul-simpul yang menjerat tangan dan kaki manusia sehingga dia terlena mengejar karir dan ambisi, berkutat dalam kesibukan yang memabukkan. Hingga pada suatu ketika saat penyakit datang seiring pola hidup dan usia yang tak lagi muda, dia disadarkan dan tersadarkan bahwa ada hal penting lain yang seyogianya diperhatikan daripada sekedar ambisi dan karir. Pada titik ini karir dan ambisi tak lagi begitu penting, bahkan tak penting. Ada panggilan dan nilai kehidupan yang lebih bernilai yang akhirnya dipilih.

Dalam sharing ini saya dapat merasakan penyakit dan tabir kematian begitu dekat dengan hidup manusia. Wajar bila kita seyogianya berhati-hati dalam menjalani hidup, dalam memilih nilai-nilai utama yang kita pegang teguh dan kita jalani agar kita tidak terhempas dan terperosok dari ketinggian dan kejumawaan atas posisi yang telah kita capai, ke dasar jurang kesakitan dan penyesalan yang seringkali hadir tak sesuai dengan harapan dan rencana kita sebagai manusia.

Saya dapat merasakan perjuangan para tenaga medis mengatasi rasa takut dan akhirnya berserah pada titik pasrah pada kehendak Tuhan, begitu dekatnya mereka dengan penyebab kematian saat pandemi ini, karena profesi mereka dan panggilan kemanusiaan mereka. Saya selalu kagum pada orang-orang yang berani menghampiri penyebab maut saat orang-orang menghindari. Mengatasi rasa kesal saya pada oknum tenaga medis dan rumah sakit yang mendahulukan materi, memanfaatkan kesempatan ketimbang kemanusiaan. 

Saya selalu kagum pada orang-orang yang menjejakkan kaki pada fondasi nilai-nilai kemanusiaan. Pada orang-orang yang berjalan dengan hatinya pada jalan lurus kemanusiaan. Mereka tak melupakan materi tapi tak menjadikan hal itu hal yang utama dalam kehidupan mereka sehingga mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian mereka pada sesama. Mereka adalah manusia-manusia yang dipenuhi cinta kasih. 

Bukankah cinta kasih itu kemanusiaan?

Terima kasih Tian saya memperoleh kesempatan untuk terus belajar mengasah kemanusiaan saya. 

Ternyata tak sulit memperoleh guru. (US) 14112020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN