DISIPLIN DAN SABAR DALAM KEHIDUPAN NEW NORMAL

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Setelah berbulan-bulan tidak melakukan aktivitas keluar rumah kecuali saat jalan kaki untuk berolahraga atau membeli kebutuhan sehari-hari, tiga bulan belakangan ini saya harus pergi keluar rumah bahkan ke luar kota untuk persiapan pernikahan.

Dalam aktivitas di luar rumah dan keluar kota ada beberapa hal yang saya amati dilakukan oleh masyarakat umum.

Nampak ada perubahan dalam penampilan orang-orang yang beraktivitas. Sebagian besar orang menggunakan masker, ada juga yang tidak menggunakan masker atau menggunakan masker tapi saat berbicara membuka masker.

Sebagian orang menganggap COVID-19 sebagai ancaman serius sehingga sangat disiplin mematuhi protokol kesehatan. Sebagian orang waspada pada COVID-19 namun tidak terlalu disiplin mematuhi protokol kesehatan. Sebagian lagi memandang COVID-19 hanya isu dan menganggap tidak ada.

Kami termasuk tipe pertama. 

Kami sangat disiplin mematuhi protokol kesehatan. Tak mengherankan kami tak pernah membuka masker, saat berbicara tetap menggunakan masker, setiap ada tempat mencuci tangan kami pasti mencuci tangan, setiap ada hand sanitizer kami pasti menggunakannya, bahkan setiap memegang benda kami displin menggunakan sanitizer atau mencuci tangan setelahnya dan sedapat mungkin melaksanakan physical distancing

Kami pun menolak untuk bersalaman apalagi cipika-cipiki. Sambil bercanda saya mengatakan bahwa saya sedang sombong, tak mau bersalaman. Setelah itu saya jelaskan bahwa saya takut menjadi seorang OTG dan menularkan COVID-19.

Dalam menghadapi pandemi dan menahan laju penyebaran COVID-19, disiplin mematuhi protokol kesehatan merupakan kunci utama. Karena berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun akan hidup bersama COVID-19, kita butuh endurance dalam mendisiplinkan diri.

Para tokoh masyarakat dan tokoh agama serta para pejabat negara perlu memberi keteladanan dalam hal disiplin dan endurance ini.



Pada saat ke luar, saya berupaya sedapat mungkin makan terlebih dahulu di rumah. Bila terpaksa makan di luar, kami memilih rumah makan yang menerapkan protokol kesehatan dengan disiplin. Jenis makanan pun dipilih, bila memungkinkan makan makanan berkuah panas. Sebelum makan, sendok dan sumpit kami cuci terlebih dahulu atau kami bersihkan dengan hand sanitizer. Dalam proses ini pun kami berulang kali mencuci tangan. Memang kelihatan agak paranoid, tapi bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati.

Satu hal yang tidak saya lupakan, saya tidak men-share aktivitas dan makan di luar yang saya lakukan di media sosial. Apalagi melakukan selfie atau wefie dengan orang-orang yang baru dikenal sambil berbicara atau tertawa dengan tidak memperhatikan physical distancing.

Bagaimanapun, suka atau tidak suka saya pernah menjabat Ketua Umum Matakin. Saya banyak berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai kalangan dan umat, juga mempunyai ribuan teman dan follower di akun sosial media. 

Hal ini saya lakukan karena khawatir orang-orang salah mengartikan gambar yang di-share dan menyebabkan kelalaian dalam menghadapi COVID-19 ini. Khawatir orang-orang akan mengartikan kondisi telah normal sehingga bebas makan di luar dan berpergian. Padahal kondisi bukanlah normal tapi new normal. Tetap diperlukan disiplin mematuhi protokol kesehatan dan tidak keluar rumah bila tidak benar-benar penting dan tidak dapat ditunda.

Saya kadang prihatin dan tak habis pikir melihat pejabat negara, tokoh masyarakat, tokoh agama atau rohaniwan men-share di media sosial foto-foto saat dia makan di luar atau sedang selfie dan wefie. Terlebih lagi dengan membuka masker dan melupakan physical distancing. Hal tersebut beresiko disalahartikan dan diikuti oleh masyarakat umum dan umat. Bila hal itu terjadi, maka akan menjadi tantangan tersendiri bagi upaya pencegahan penularan COVID-19 yang sedang gencar dikampanyekan.

Sebagai seorang pejabat negara, tokoh masyarakat, tokoh agama dan rohaniwan, seyogianya mesti mempertimbangkan masak-masak dan hati-hati apapun yang hendak dilakukan. Terlebih di era digital seperti sekarang ini. Kesalahan langkah yang dilakukan akan mencederai cinta kasih atau kemanusiaan kita, dan akan membahayakan keselamatan masyarakat dan umat.

Jangan lupa pakai masker Anda atau minimal gunakan face shield Anda saat berbicara. Masker digunakan untuk mencegah droplet keluar dari mulut kita, bukan semata-mata sebagai hiasan dagu atau telinga.

Bersabar dan berdisiplinlah, pandemi belum berlalu. 

Kehidupan belumlah 'normal' seperti dahulu tapi kita hidup dalam 'kenormalan baru' (new normal) yang memerlukan kebiasaan-kebiasaan baru yang harus dijalani dengan disiplin dan penuh kesabaran (endurance). (US) 26112020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN