JANGAN MENYIMPULKAN TERLALU DINI

 Salam Kebajikan, 

惟德動天,

Entah mengapa minggu ini otak saya sedang mengingat cerita-cerita yang pernah saya dengar bertahun-tahun yang lalu. Mungkin tema cerita ini yang sekarang keluar sebagai ide saya ketika memikirkan komitmen saya untuk menulis 8 tulisan dalam satu bulan.

Cerita yang pernah saya dengar dan mungkin telah Anda dengar adalah cerita mengenai perlombaan lari antara kelinci dengan kura-kura.

Begini ceritanya:

Alkisah di sebuah hutan hiduplah sekumpulan binatang yang rukun dan damai. Ada harimau, gajah, burung hantu, monyet, ular, kelinci, kura-kura, dan lain-lain.

Dalam hubungan antar binatang ada saja dinamika yang terjadi karena berbagai sifat dan karakter yang dimiliki binatang. Kadang kala sifat dan karakter berbeda para binatang menimbulkan persaingan bahkan konflik.

Kelinci adalah pelari tercepat diantara binatang yang lain. Dia sangat bangga dengan kemampuannya. Rasa bangganya kadang kala terlalu berlebih dan merendahkan binatang lain.

"Hai kura-kura! Ayo kita lomba lari!" teriak kelinci berulang-ulang pada kura-kura. 

Kura-kura tidak mau meladeni tantangan kelinci dan menganggap angin lalu. Tapi setiap bertemu sang kelinci terus meneriakkan tantangan pada kura-kura di depan binatang-binatang yang lain.

Pada akhirnya kura-kura yang begitu penyabar merasa panas mendengar kesombongan kelinci yang sudah begitu keterlaluan.

"Baiklah, Kelinci, kuterima tantanganmu untuk beradu lari."

Pada hari yang telah ditentukan lomba lari antara kelinci dan kura-kura siap dilaksanakan. Start dan finish telah ditentukan oleh binatang lain yang menjadi panitia perlombaan.

Satu... Dua... Tiga! 

Aba-aba diteriakan monyet sebagai tanda perlombaan dimulai. Kelinci berlari begitu cepat, hingga dalam tempo singkat setengah jarak perlombaan telah dilalui. Sedangkan kura-kura yang tak bisa berlari cepat baru beringsut tak jauh dari garis start.

Kesombongan kelinci timbul karena dia yakin akan dengan mudah memenangkan lomba. Maka kelinci beristirahat di bawah pohon besar dan tertidur dengan pulas.

Kura-kura pelan namun pasti berjalan selangkah demi selangkah menuju garis finish tanpa menengok ke kiri dan ke kanan. Begitu kura-kura hampir mencapai garis finish, kelinci terbangun dari tidur pulasnya. Dia segera berlari dengan cepat, namun terlambat, kura-kura telah memasuki garis finish. Kura-kura pun memenangkan lomba lari tersebut. Sorak sorai binatang memenuhi hutan merayakan kemenangan kura-kura. 

Kelinci begitu menyesal dan malu dengan kekalahannya. Menyesal karena telah menganggap enteng kura-kura. Malu karena kesombongannya dia menderita kekalahan dalam lomba yang seharusnya dengan mudah dimenangkannya.

Cerita yang saya dengar pertama kali berakhir sampai sini dengan pesan moral di akhir cerita.

Tapi, ternyata cerita belum selesai! 

Kelinci menantang kembali kura-kura untuk berlomba lari. Dengan enggan, agar kelinci tidak penasaran, kura-kura memenuhi tantangan kelinci. Pada hari yang telah ditentukan, kelinci dan kura-kura berlomba untuk yang kedua kalinya dengan rute yang sama seperti lomba pertama. Kali ini kelinci yang telah belajar dari kesalahannya dengan mudah memenangkan perlombaan.

Sekarang kedudukan 1-1. Kura-kura menang satu kali. Kelinci menang satu kali.

Cerita masih berlanjut!

Kelinci yang masih penasaran dengan lomba lari ini dan ingin mengukuhkan dirinya sebagai pelari tercepat di hutan mengusulkan agar perlombaan ketiga dilaksanakan.

Setelah berulang-ulang dibujuk, kura-kura akhirnya setuju atas usulan ini dengan satu syarat, dia yang menentukan rute perlombaan. Kelinci yang yakin akan memenangkan lomba lari dengan kura-kura di mana pun lomba dilakukan menyetujui syarat dari kura-kura.

Maka panitia menyelenggarakan perlombaan sesuai jadwal dan lokasi yang telah ditentukan.

Seperti biasanya kelinci berlari dengan cepat menuju garis finish, sedangkan kura-kura selangkah demi selangkah berjalan dengan sangat lambat.

Lebih kurang 12 meter dari garis finish, kelinci yang telah meninggalkan kura-kura jauh di belakang menghentikan larinya. Dia tak dapat melanjutkan lari karena garis finish berada di seberang sungai yang lebar dan dalam. Dia kebingungan mencari cara untuk mencapai garis finish. Kelinci tak dapat berenang. 

Akhirnya kura-kura tiba di tepi sungai persis di sebelah kelinci yang sejak tadi kebingungan.

Kura-kura sebetulnya akan dengan mudah dapat menyeberangi sungai dan tiba di garis finish karena kura-kura pandai berenang yang tidak dapat dilakukan oleh kelinci. Maka dia akan tampil sebagai pemenang lomba.

Tapi kura-kura yang baik hati ingin agar lomba dimenangkan bersama. Maka dia mengajak kelinci untuk naik ke punggungnya dan bersama-sama menyelesaikan lomba.



Akhirnya kelinci dan kura-kura memasuki garis finish bersama-sama. Mereka berdua memenangkan lomba.

Seluruh penghuni hutan bersorak gembira. Mereka banyak belajar dari peristiwa ini.

Apakah ada perlombaan keempat dan seterusnya? 

Serta bagaimana moral cerita ini secara keseluruhan? 

Silakan pembaca membuat sendiri. Bebas kok untuk berimajinasi. 

Ingin menambahkan ayat suci yang mana—yang berkaitan dengan cerita ini—terserah Anda juga. 

Bebas, tinggal Anda buka kitab Anda. Itu pun kalau Anda mau dan merasa perlu. 

Menurut para pakar, imajinasi dan membuat cerita adalah kemampuan yang sangat penting dan diperlukan di era kehidupan 4.0. 

Dengan imajinasi dan kemampuan bercerita, manusia akan dapat survive, tidak menjadi manusia yang irrelevant karena kalah oleh robot dan Artificial Intelligent. (US) 05112020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN