PERNIKAHAN KAMI

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Di tengah situasi pandemi COVID-19, tanggal 21 November 2020 yang lalu saya melangsungkan pernikahan dengan Agnes di Tasikmalaya.

Sebetulnya sudah cukup lama kami berencana untuk melangsungkan pernikahan. Ada beberapa hal yang perlu kami persiapkan, ada beberapa hambatan dan tantangan yang perlu kami atasi terlebih dahulu. Bagi kami pernikahan adalah sesuatu yang suci dan sakral, hanya maut yang akan memisahkan, tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan dan terburu-buru.

Sebagai orang tua tunggal dengan tiga orang anak, keputusan untuk menikah lagi tentu saja perlu melibatkan ketiga anak. Tak elok bila pernikahan menyebabkan keluarga tidak rukun. Memalukan kalau antara anak-anak dengan istri yang menjadi ibu sambung anak-anak tidak saling menerima. Diperlukan proses saling mengenal dan memahami di antara anak dan calon istri. Tentu saja proses ini tidak mudah dan perlu dilakukan setahap demi setahap dengan banyak diskusi dan pertemuan untuk saling mengenal dan memahami. Pada akhirnya dengan kesabaran, semua dapat dilalui dan pernikahan pun telah mendapat lampu hijau.

Tantangan yang lain tentu saja dari orang tua calon istri. Wajar seorang ibu khawatir pada anaknya yang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki beranak tiga dengan perbedaan usia yang jauh. Perlu waktu cukup lama dan proses yang dilalui penuh lika-liku hingga akhirnya hubungan memperoleh restu orang tua.

Setelah restu diperoleh, tantangan belum selesai.

Kami berencana menikah pada tahun 2019, tapi sayangnya tahun 2019 Masehi atau 2570 Kongzili adalah tahun babi tanah, ciong (冲 chōng; clash) dengan shio ular yang merupakan tahun kelahiran saya. Banyak orang yang tidak lagi percaya dengan ciong atau menggunakan kias tertentu untuk mengatasinya, tapi saya memilih untuk tidak melanggar dan memaksakan kehendak. 

Alasannya sederhana, ciong itu seperti dua magnet yang sama kutubnya akan saling menolak dan tidak dapat bersatu. Walau dua magnet tersebut diakali, tidak akan merekat sekuat sifat alami kedua kutub magnet. Ciong akan berdampak kurang baik pada kehidupan kami, dampak buruknya apa, tak dapat diprediksi dengan pasti. Jadi untuk apa dipaksakan?

Untuk kebaikan bersama, kami sepakat untuk menikah pada tahun 2020 M/2571 Kongzili setelah pergantian shio. Hari baik telah dipilih. Tapi siapa nyana kasus corona merebak. Kami kembali menjadi ragu. Dengan harapan kasus corona akan dapat teratasi, saya menanyakan kembali kepada suhu Chew mengenai hari baik untuk pernikahan. Maka didapatlah hari baik, tanggal 21 November 2020/07-10-2571 Kongzili. Pukul 08.30-13.00 WIB adalah waktu yang disarankan untuk pertemuan calon pengantin. Walau demikian keraguan tetap membayang di dalam pikiran kami.

Namun akhirnya atas nasihat dan dukungan orang tua calon istri dan dukungan kakak-kakak saya, kami dan keluarga sepakat untuk melangsungkan pernikahan secara agama (liyuan) dan dilanjutkan makan bersama keluarga dengan memperhatikan protokol kesehatan. 

Maka ditentukanlah tanggal lamaran dan sangjit dengan tetap memperhatikan kondisi lingkungan yang sedang pandemi. Dalam proses ini, tentu saja kami melakukan persembahyangan pada leluhur dan orang tua yang telah mendahulu untuk memohon restu.

Pada tanggal 16 Oktober 2020, kakak-kakak saya mewakili almarhum orang tua, berkunjung ke rumah calon istri di Tasikmalaya untuk melamar dan menyepakati hari baik pernikahan. Sangjit dilaksanakan pada hari yang berbeda.

Dalam hal hiasan untuk sangjit, kami tidak mau menggunakan shuangxi seperti sekarang umum digunakan. Bagi kami shuangxi lebih tepat untuk hari pernikahan. Karena pernikahan dalam agama Khonghucu mempersatukan dua keluarga, bukan hanya mempersatukan dua orang, kami lebih memilih tulisan marga dua keluarga kami dengan dikelilingi Gua dari baginda Fuxi sebagai latar belakang 'panggung' upacara sangjit kami. Shuangxi kami gunakan untuk latar belakang pelaminan saat makan siang bersama setelah liyuan pernikahan. 




Untuk antaran sangjit, barang-barang pokok diutamakan dengan tambahan 'sepasang angsa' yang selama ini banyak dilupakan. 


Di kamar pengantin kami memesan khusus agar ada sepasang angsa di samping pita merah menghias pintu kamar. Maka pihak hotel membuat sepasang angsa dari handuk putih. Penghias ruang memasangkan pita merah.

Dalam upacara liyuan pernikahan, kami meminta agar tidak ada musik dan nyanyian. Juga tidak ada ucapan selamat. Dilaksanakan secara cepat dan mengikuti protokol kesehatan. 

Saya merasa telah berupaya mengikuti apa yang diamanatkan Kitab Liji. Klop dan hati terasa plong.

Jadi karena situasi dan kondisi, ada beberapa penyesuaian yang dilakukan pada tradisi yang kami jalankan. Namun, kami tetap mempertahankan apa yang kami anggap nilai inti dalam tradisi tersebut, sebisa mungkin sesuai tuntunan Kitab Suci Khonghucu.

Jadilah pada tanggal 21 November 2020 (atau 07-10-2571 Kongzili), sekira pukul 11.28 WIB dilaksanakan upacara liyuan pernikahan Uung dan Agnes, mempersatukan keluarga Lin dan Li di Kong Miao Litang Genta Kebajikan MAKIN Tasikmalaya, dilanjutkan makan bersama di Hotel Grand Metro. Pertemuan antara dua mempelai dilaksanakan sekitar Pukul 10.40, masih dalam rentang waktu yang disarankan.


Pernikahan dihadiri oleh dua orang anak saya secara langsung dan satu orang secara virtual untuk memberi persetujuan dan dukungan atas pernikahan suci kami. Kami sungguh bersyukur. 

Kitab Zhongyong memberi amanat bahwa keselarasan hidup bersama anak dan istri harus diupayakan laksana alat musik yang ditabuh harmonis. Ayat dalam Kitab Zhongyong tersebut kami jadikan souvenir pernikahan, ditulis dalam bahasa Inggris berwarna putih dengan latar belakang hitam, dimahkotai bingkai berwarna putih. Tulisan dihiasi gambar sepasang angsa.  

Walau kami tidak dapat mengundang sebagian besar sahabat dan kerabat, serta membatasi kehadiran keluarga dekat dan tidak mengijinkan orang yang mendadak akan hadir tanpa konfirmasi sebelumnya, kami yakin semua dapat memaklumi dan turut memberi ucapan selamat dan mendoakan pernikahan kami dengan kehadiran melalui live zoom dan youtube.

Terima kasih kepada MAKIN dan PAKIN Tasikmalaya yang telah memberikan pelayanan terbaik sehingga upacara liyuan pernikahan dapat berlangsung dengan baik dan lancar.

Untuk Xs. Eka Wijaya dan Ws. Wiechandra serta rohaniwan MAKIN Tasikmalaya, dengan hati yang tulus kami hanya dapat mendoakan semoga senantiasa sehat sentosa dan dalam perlindungan Tian sehingga dapat terus menjalankan tugas suci dan mulia sebagai rohaniwan.

Xie Tian Zhi En. (US) 24112020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE