SELALU LAKUKAN YANG TERBAIK!

 Salam Kebajikan, 

惟德動天,

Ada satu cerita yang pernah saya dengar dan begitu berkesan. Saya pikir bagus untuk pembelajaran bagi kita dalam menjalankan kehidupan kita.

Alkisah, ada seorang pria setengah baya bekerja di suatu perusahaan kontraktor. Selama 35 tahun dia bekerja dengan baik dan loyal pada bos yang sama. Pemilik perusahaan tersebut memperlakukan dia dengan baik dan adil, bahkan karena loyalitasnya sang karyawan menjadi orang kepercayaan sang bos.

Sebagai seorang karyawan yang telah bekerja lebih dari separuh hidupnya, boleh dikatakan dia hidup cukup layak. Kompensasi yang diberikan perusahaan tempat dia bekerja cukup baik. Dia dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi dan mempunyai rumah tinggal sendiri, tidak besar namun cukup layak untuk ditinggali.

Setelah sekian lama bekerja, dia merasa sudah waktunya untuk menikmati masa tua dengan istri yang dia sayangi namun selama ini seringkali ditinggal karena kesibukan pekerjaan.

Beberapa tahun belakangan, dia bersepakat dengan sang istri untuk berhenti bekerja, mengajukan pensiun pada bosnya. Selama lima tahun terakhir dia mencoba berbicara dengan bos mengenai keinginannya. Tapi dengan berbagai alasan, sang bos menolak pengunduran dirinya. Dia tidak tega untuk mendesak. Bagaimanapun juga bosnya telah memberi kepercayaan yang begitu besar dan begitu baik. Dia perlu mempersiapkan pengganti.

Setelah memasuki tahun ke empat, sang karyawan mulai kesal karena dia betul-betul berkeinginan pensiun. 

Akhirnya tahun ini sang bos walau dengan berat hati mengabulkan keputusan bulat karyawan kepercayaannya ini namun dengan mengajukan  satu syarat. Ada satu proyek terakhir yang harus dikerjakan oleh sang karyawan sebelum pensiun. Dengan rasa dongkol, sang karyawan terpaksa mengerjakan syarat dari sang bos, yaitu membuat sebuah rumah di komplek perumahan elite di kota tempat mereka tinggal.

Karena sudah kesal atas apa yang terjadi sang karyawan tidak lagi mengerjakan proyek dengan sungguh-sungguh seperti dia kerjakan selama ini. Bahan-bahan yang dia pilih untuk pembangunan bukan bahan-bahan terbaik. Pengawasan atas pekerjaan pun dilakukan dengan tidak seksama. Pekerjaan ini tidak lagi dikerjakan dengan hati. Hanya dikerjakan seadanya untuk memenuhi permintaan terakhir bosnya sebelum dia pensiun. Dalam hatinya, bos ini kok keterlaluan, masih saja membebani orang yang ingin pensiun.

Setelah dikerjakan selama satu tahun, rumah tersebut selesai. Dan hasilnya tidaklah sebagus yang seharusnya walaupun tidak terlalu mencolok dalam pandangan mata, tapi bila diperhatikan dengan teliti ada bagian-bagian yang kurang baik.

Karena proyek telah selesai, sang karyawan melaporkan hasil pekerjaan pada bosnya. Lalu sang bos datang ke rumah tersebut bersama sang karyawan. Setelah berkeliling melihat-lihat, sang bos berkata pada sang karyawan, "Terima kasih atas apa yang telah Engkoh kerjakan selama 35 tahun bersama saya dalam membesarkan perusahaan, sehingga perusahaan dapat seperti sekarang. Saya sangat puas atas loyalitas dan hasil kerja Engkoh."

Lalu sang bos melanjutkan, "Sebagai tanda terima kasih dan penghargaan saya kepada Engkoh, saya sengaja membangun rumah ini untuk saya berikan pada Engkoh. Ini kuncinya saya serahkan, dan nanti kita ke notaris untuk mengurus sertifikat hak milik atas nama Engkoh."

Sang karyawan tertegun mendengar apa yang dikatakan bosnya.

Hatinya berkecamuk berbagai macam perasaan. Seandainya saja dia tahu bahwa rumah itu untuk dirinya, tentu dia tidak akan mengerjakan seperti yang dia kerjakan.

Seandainya saja. Seandainya saja.

Tapi percuma... 

Nasi telah menjadi bubur.

"Seorang junzi tidak pernah tidak berusaha sungguh-sungguh."

"Seorang Junzi senantiasa satya (terkandung di dalamnya melakukan yang terbaik) dan dapat dipercaya." (US) 03112020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN