Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2020

ANGKA KEBERUNTUNGAN?

Gambar
Salam Kebajikan,  惟德動天, S aya ingin menutup tulisan dalam blog saya tahun 2020 dengan tulisan ke 217, walau sebetulnya sasaran saya untuk menulis delapan tulisan per bulan atau 96 tulisan per tahun sudah tercapai. Uniknya, dengan saya menulis ini, maka tahun 2020 ada 97 tulisan. Ada angka 7 dalam 217 dan 97. Saya suka sekali angka 7, padahal yang saya tahu, kebanyakan orang Tionghoa suka angka 8 atau angka 9. Angka 7 bagi saya adalah angka keberuntungan. Keberuntungan yang didapat dari kerja keras, kerja pintar, dan kerja benar.  Kerja yang tidak semata-mata mengharapkan hasil tapi menikmati prosesnya. Kerja yang didasari ketulusan dan kesungguhan sambil mengenai hasilnya berserah diri pada Tian . Jadi kerja yang berorientasi pada tujuan tanpa melupakan keberadaan ming .  Dengan sikap mental demikian memampukan saya bertahan, tak mudah menyerah dan yakin Tian akan merahmati apa yang saya lakukan dengan keras, pintar, dan benar? Saya lebih suka mempunyai keyakinan seperti ini ketimba

BAKTI ITU KOMA, BUKAN TITIK.

Gambar
Gambar oleh www.harrylyn.com Salam Kebajikan,  惟德動天, B eberapa dekade yang lalu—bahkan hingga kini pada beberapa komunitas—yang masih dianggap sebagai aturan baku dan mutlak adalah keharusan seorang anak taat setaat-taatnya kepada orang tua, tanpa boleh berbeda pandangan apalagi menentang. Memberi saran pun dianggap 'tabu'. Apa yang dikatakan oleh orang tua harus diikuti, titik. Pandangan seperti ini dianggap sebagai pengertian xiao atau bakti seorang anak pada orang tua yang telah baku dan diikuti generasi ke generasi. Pandangan seperti ini acapkali menyisakan masalah bahkan menimbulkan masalah besar dalam hubungan antara orang tua dan anak, terlebih di zaman internet seperti sekarang yang memberi akses pengetahuan, hampir tak terbatas bagi manusia. Tak terkecuali pengetahuan mengenai agama dan nilai etika moral serta etiket khususnya bagi anak-anak dan remaja yang kehidupannya telah menyatu antara dunia nyata dengan dunia maya. Bagaimana sebenarnya agama Khonghucu menje

BELAJAR BERMENTAL POSITIF

Gambar
Salam Kebajikan,  惟德動天, S ebetulnya di keluarga saya, saya adalah anak laki-laki paling tampan. Kalau tidak percaya coba saja tanyakan pada kakak-kakak saya. Saya jamin jawabannya akan mendukung klaim saya. Mungkin dalam hati Anda, saya kok menyebalkan, begitu pede dan sombong. Nanti dulu, saya memang pede karena saya menyatakan fakta yang tak dapat dibantah. Betapa tidak? Lima kakak di atas saya adalah perempuan. Di atas lima kakak perempuan saya adalah laki-laki. Kalau Anda tanyakan kepada mereka siapa adik laki-laki paling tampan di keluarga saya, jawabnya pasti saya. Jadi saya akan mendapat suara mayoritas, enam suara. Pertanyaan yang dilontarkan haruslah siapa adik laki-laki paling tampan dan kepada enam orang kakak saya tersebut. Jangan tanyakan pada lima kakak saya di atasnya lagi ya. Jangan pula pertanyaan yang berbeda. Di antara semua anak dari kedua orang tua, saya adalah anak yang paling sempurna. Kenapa? Karena saya adalah anak bungsu. Logikanya sederhana, 'pr

SEMBAHYANG DI ALTAR LELUHUR

Gambar
Salam Kebajikan,  惟德動天, S alah satu hasrat terbesar saya di usia paruh baya adalah pulang kembali ke kota kelahiran saya, Bandung. Ada dorongan hati yang kuat agar saya tinggal di kota tempat altar almarhum orang tua dan leluhur berada. Agar saya dapat merawat rumah peninggalan orang tua serta bersembahyang dan mendoakan arwah orang tua serta leluhur yang telah mendahulu. Bagi banyak orang, altar leluhur hanyalah sebuah peninggalan tradisi. Kita dapat melihat tradisi ini semakin hari semakin luntur. Semakin sedikit anak yang mau memelihara altar leluhur mereka dan dengan berbagai alasan terutama agar tidak merepotkan keturunan, semakin banyak orang tua yang memilih untuk tidak dibuatkan altar persembahyangan saat mereka berpulang. Begitulah, sebuah tradisi tanpa memahami hakikat dan asal usulnya akan tiba waktunya ditinggalkan. Bagi saya, altar orang tua dan leluhur adalah sebuah fondasi nilai-nilai religius dan spiritual seorang umat Khonghucu , yang patut dan wajib dipelihara

BERNAPAS DAN ALASAN TAK KEHABISAN NAPAS

Gambar
Salam Kebajikan,  惟德動天, B erapa kali manusia bernapas dalam satu hari? Tergantung pada usia dan tingkat aktivitasnya. Anak-anak cenderung memiliki tingkat pernapasan yang lebih cepat, mereka bernapas lebih dari 50.000 kali perhari. Sedangkan saat beristirahat, orang dewasa bernapas 17.000-30.000 kali per hari. Coba Anda hitung berapa kali manusia bernapas sepanjang hidupnya? Bernapas sangat vital bagi manusia.  Kebutuhan manusia untuk bernapas sama eratnya dengan darah yang dipompa melalui pembuluh darah. Tanpa napas, darah tak dapat mengalir ke seluruh tubuh. Tanpa napas, hanya dalam hitungan menit manusia akan mati. Ada enam kata 'napas' dalam Kitab Sishu yaitu dalam Kitab Zhongyong XXX: 4, Lunyu IX: 11, Lunyu X: 4, Lunyu XI: 26, dan Mengzi VIIA: 36 .  Coba kita simak: Semua makhluk yang berdarah dan ber napas , tiada yang tidak menjunjung tinggi dan mencintainya. Maka dikatakan telah manunggal dengan Tian. Yan Yuan dengan menarik napas berkata, "Bila kupandang, t

ROHANIWAN DAN DAK

Gambar
Salam Kebajikan,  惟德動天, Tulisan mengenai rohaniwan berkaitan dengan Pendidikan dan Pelatihan Agama Khonghucu (DAK) sudah lebih dari satu tahun saya tulis dalam notes di ponsel saya. S etelah saya pikir-pikir tak ada salahnya tulisan ini saya bagikan dalam blog. Bila beberapa bagiannya masih relevan dengan kebutuhan serta situasi dan kondisi sekarang bisa menjadi bahan pertimbangan, bila dirasakan sudah tidak relevan, ya tak apa-apa juga. Anggap saja sebagai upaya saya memenuhi komitmen menulis delapan tulisan dalam satu bulan di tahun 2020 ini. Tak gampang loh mencari ide tulisan. Kita mulai dengan kutipan dari KBBI mengenai pengertian rohaniwan. ro·ha·ni·wan 1) orang yang mementingkan kehidupan kerohanian daripada yang lain;  2) orang yang ahli dalam hal kerohanian. Tergantung dari agamanya, rohaniwan biasanya melakukan tugas-tugas ritual dari kehidupan keagamaan, mengajar, konseling, atau berbagai tugas lainnya dalam menyebarkan ajaran atau doktrin dan praktik-praktik keagamaan

NAPAK TILAS KEHIDUPAN

Gambar
Foto oleh Dayinta Sekar Pinasthika Salam Kebajikan,  惟德動天, Beberapa hari terakhir saya banyak melakukan perjalanan napak tilas bersama istri di kota kelahiran saya, Bandung. S aya mengunjungi sekolah dasar dan sekolah menengah pertama tempat saya dulu bersekolah. Saya tunjukkan kepada istri beberapa kelas tempat saya dulu memperoleh pendidikan dasar dan menengah. Saat menunjukkan kelas-kelas tersebut, berkelebat bayang kenangan yang tersisa, di kedalaman memori yang tertumpuk dengan beribu—bahkan mungkin berjuta—momen dan peristiwa yang mengiringi perjalanan hidup, baik yang saya sadari maupun tidak saya sadari.  Ada nama-nama yang masih saya ingat, ada suara-suara samar yang masih saya dengar, ada kelebat bayangan gambar yang melintas di pikiran dan hati saya. Ada momen-momen indah, gembira, bahagia, cinta, kasih, sesal, sedih, marah, dan suka, semuanya terangkai dan membentuk diri saya yang sekarang. Saat kami menelusuri jalan-jalan sempit yang saya lalui dulu saat pergi dan pulan

MEMBENARKAN NAMA-NAMA

Gambar
Salam Kebajikan,  惟德動天, S iapa namamu? adalah kata tanya yang terucap saat kita mencoba menyapa anak kecil yang digendong oleh saudara, kawan atau kenalan kita saat pertama kali bertemu mereka. Ketika dilahirkan ke dunia, orang tua memberi Anda dan saya nama. Nama yang dipilih biasanya menunjukkan suatu peristiwa yang terjadi ketika itu atau harapan orang tua. Bayangkan kalau kita tidak mempunyai nama. Dengan panggilan atau bahasa isyarat apa kita memanggil orang-orang yang kita kenal bila mereka sedang membelakangi kita? Sulit membayangkan. What's in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.  Apa arti dari sebuah nama? Yang kita sebut bunga mawar, walau dengan nama lain pun akan tetap berbau harum.  Begitu quote dari novel 'Romeo and Juliet' yang ditulis oleh William Shakespeare. Apa iya nama tidak ada artinya? Sebuah nama yang bagus takkan berarti apa-apa bila tidak diisi dengan kualitas diri yang sepadan. Harapan orang tua yang terk

JEJAK AGAMA ORANG TIONGHOA DALAM SEJARAH INDONESIA

Gambar
Salam Kebajikan,  惟德動天, H ari ini saya bersama Bang Azmi Abubakar —pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa—menjadi pembicara dalam webinar yang diadakan oleh KBMK Universitas Tarumanagara Jakarta , dengan tema "Jejak Tionghoa dalam Sejarah Indonesia", saya diminta oleh panitia memberikan materi dari aspek keagamaan. Seperti kita mahfum, jejak langkah orang-orang Tionghoa dalam sejarah Indonesia sudah banyak terhapus. Atau lebih tepatnya dihapus dengan sengaja, sehingga tak lagi nyata, bahkan hilang dalam catatan sejarah resmi yang ada dan dalam ingatan generasi sekarang.  Namun demikian, bila kita mau menelisik pustaka yang ada, jejak Tionghoa dalam sejarah Indonesia akan kembali nyata. Bagaimanapun, suara kebenaran tak akan dengan begitu mudah dihapus secara permanen dari telinga kejujuran. Sebab suara kebenaran adalah suara ilahi yang terpantul dalam lubuk hati orang-orang di dalam bangsa besar bernama Indonesia yang menyejarah di Nusantara.  Suara kebenaran akan t