JEJAK AGAMA ORANG TIONGHOA DALAM SEJARAH INDONESIA

Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Hari ini saya bersama Bang Azmi Abubakar—pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa—menjadi pembicara dalam webinar yang diadakan oleh KBMK Universitas Tarumanagara Jakarta, dengan tema "Jejak Tionghoa dalam Sejarah Indonesia", saya diminta oleh panitia memberikan materi dari aspek keagamaan.

Seperti kita mahfum, jejak langkah orang-orang Tionghoa dalam sejarah Indonesia sudah banyak terhapus. Atau lebih tepatnya dihapus dengan sengaja, sehingga tak lagi nyata, bahkan hilang dalam catatan sejarah resmi yang ada dan dalam ingatan generasi sekarang. 

Namun demikian, bila kita mau menelisik pustaka yang ada, jejak Tionghoa dalam sejarah Indonesia akan kembali nyata.

Bagaimanapun, suara kebenaran tak akan dengan begitu mudah dihapus secara permanen dari telinga kejujuran. Sebab suara kebenaran adalah suara ilahi yang terpantul dalam lubuk hati orang-orang di dalam bangsa besar bernama Indonesia yang menyejarah di Nusantara. 

Suara kebenaran akan terus bergema dalam sejarah Indonesia kendati berupaya dikaburkan—bahkan dihapuskan—oleh beberapa orang yang kehilangan hati nurani, karena ambisi dan kepentingan pribadi atau kelompoknya. Upaya penghapusan menorehkan luka lebam dan memar, bahkan kucuran darah pada saudara sebangsanya sendiri.

Jejak agama orang-orang Tionghoa dalam sejarah Indonesia pun—sekali lagi oleh beberapa orang dan kelompok tertentu—dicoba dikaburkan dan dihapuskan. Dengan cara pemutarbalikan fakta dan sejarah, dalam argumen-argumen absurd dan upaya politik tertentu. Di mana sebetulnya secara mudah dapat dipatahkan, saat kita sekali lagi mau menelisik pustaka yang ada dan hal-hal yang tersirat dalam rangkaian peristiwa yang menyejarah. 

Bukan sekedar mendengar kata-kata manis dibalik topeng yang dipakai saat si empunya kata berucap dan di dalam sudut hatinya menyembunyikan kejujuran, karena hawa nafsu misi dan ambisi kelompoknya untuk melunturkan keyakinan agama, adat-istiadat, dan tradisi yang telah diikuti selama berabad bahkan millenium. 

Nampaknya upaya pengaburan dan penghapusan jejak agama orang Tionghoa telah menunjukkan hasil nyata dalam lima puluh tahun ini seperti juga jejak langkah Tionghoa dalam sejarah Indonesia. Orang Tionghoa telah tercerabut dari akar budaya dan keyakinannya walau tetap saja menyisakan setitik harapan pada sekelompok manusia tersisa yang tak rela ikut tercerabut.

Kalau kita kembali ke abad 19 dan 20 hingga era tahun 1960-an bahkan era 1970an awal, kita akan tahu bagaimana orang-orang Tionghoa begitu kuat memegang adat istiadat, tradisi, dan kepercayaan agamanya. Hal ini dapat kita telusuri dari angka tahun munculnya tokoh-tokoh Tionghoa, organisasi, sekolah atau terbitan-terbitan yang bermunculan dalam kurun waktu itu.

Ada beberapa milestone yang dapat kita rangkai, dari kemunculan Ming Cheng Shu Yuan di Jakarta pada tahun 1729, terbitnya Kitab SoeSie di Ambon, terbitnya Hikayat Khong Hoe Tjoe, Kitab Tiong Jong dan Thai Hak. Hingga berdirinya THHK pada tahun 1900 dan Khong Kauw Hwee pada tahun 1918, serta Khong Kauw Tjong Hwee di tahun 1923, mendahului berdirinya Sam Kauw Hwee 1934, untuk membendung upaya-upaya misionaris dan mengembalikan akar budaya orang Tionghoa di Indonesia yang tak terpisah dari agama dan ajaran Khonghucu. 

Di tengah perjalanan waktu, muncul Bikkhu Ashin Jinarakkhita (The Boan An) yang ditahbiskan pada tahun 1953 dalam missi mengembalikan kebesaran agama Buddha di Indonesia yang berimbas pada orang-orang Tionghoa. 

Keluarnya Inpres No. 14 tahun 1967, yang memberangus agama dan adat istiadat orang Tionghoa di Indonesia, merupakan titik balik perubahan besar dalam agama dan adat istiadat orang Tionghoa. 

Inpres ini merupakan kemenangan besar bagi kelompok tertentu dalam upaya merebut dan mencerabut orang Tionghoa dari akar budaya dan agamanya, setelah bertarung baik secara politik maupun melalui perdebatan di surat-surat kabar selama hampir setengah abad.

Semua milestone itu berkaitan erat dengan jejak agama orang-orang Tionghoa dalam sejarah Indonesia—dalam hal ini jejak agama Khonghucu—yang terus berada di tengah pusaran pertarungan berbagai kepentingan kelompok, karena terlahir di negeri yang sekarang bernama Republik Rakyat Tiongkok.

Hingga sampai pada hari ini, telah terjadi perubahan besar—bahkan perubahan amat besar—dalam agama yang dipeluk oleh orang-orang Tionghoa, berikut tradisi dan adat istiadatnya.

Begitulah. 

Politik adalah tentang kekuasaan dan kepentingan. 

Dalam catatan sejarah dunia, Agama selalu ada dalam pusaran kepentingan dan kekuasaan tersebut, tak terkecuali agama Khonghucu.

Meski sayup, masih ada suara kejujuran menyelinap di hati ini, datang dari pustaka yang masih tersisa dan dapat kita baca.

Entah di hati Anda. (US) 05122020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE