ROHANIWAN DAN DAK


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Tulisan mengenai rohaniwan berkaitan dengan Pendidikan dan Pelatihan Agama Khonghucu (DAK) sudah lebih dari satu tahun saya tulis dalam notes di ponsel saya.

Setelah saya pikir-pikir tak ada salahnya tulisan ini saya bagikan dalam blog. Bila beberapa bagiannya masih relevan dengan kebutuhan serta situasi dan kondisi sekarang bisa menjadi bahan pertimbangan, bila dirasakan sudah tidak relevan, ya tak apa-apa juga. Anggap saja sebagai upaya saya memenuhi komitmen menulis delapan tulisan dalam satu bulan di tahun 2020 ini. Tak gampang loh mencari ide tulisan.

Kita mulai dengan kutipan dari KBBI mengenai pengertian rohaniwan.
ro·ha·ni·wan
1) orang yang mementingkan kehidupan kerohanian daripada yang lain; 
2) orang yang ahli dalam hal kerohanian.

Tergantung dari agamanya, rohaniwan biasanya melakukan tugas-tugas ritual dari kehidupan keagamaan, mengajar, konseling, atau berbagai tugas lainnya dalam menyebarkan ajaran atau doktrin dan praktik-praktik keagamaan.

Dalam kelembagaan agama Khonghucu di Indonesia, rohaniwan agama Khonghucu terdiri atas tiga: Xueshi (Xs), Wenshi (Ws), dan Jiaosheng (Js) yang tugasnya telah bergeser sejak predikat tersebut diperkenalkan pada era pertengahan tahun 1960an.

Dahulu, dengan jelas nama-nama tersebut membedakan prioritas pengabdian atau kompetensi masing-masing rohaniwan. 

Xueshi adalah pendeta, tak heran para Xueshi sesuai tata agama tidak bekerja atau berbisnis di luar tugas kependetaannya. 

Wenshi untuk menunjukkan prioritas atau kompetensi rohaniwan tersebut di bidang ajar mengajar (guru), tidak ada larangan untuk berbisnis atau bekerja. 

Jiaosheng adalah penebar agama dengan kompetensi tertentu dan menjadikan keahliannya atau profesinya sebagai sarana untuk menebarkan agama. 

Dahulu, seorang Wenshi misalnya tak perlu menjadi Jiaosheng terlebih dahulu karena kompetensi kedua jabatan itu memang berbeda. Begitu pula Xueshi tak perlu mengabdi menjadi Wenshi terlebih dahulu.

Seiring berjalannya waktu terjadi pergeseran sehingga tak lagi jelas perbedaan tugas, prioritas pengabdian dan kompetensi dari Xueshi, Wenshi, dan Jiaosheng kecuali senioritas dan lama 'jenjang' tersebut disandang. Hal ini dipertegas dalam buku petunjuk pelaksanaan (Juklak) mengenai DAK (Diklat Agama Khonghucu) yang diterbitkan pada tahun 2015. DAK mencakup: DAK 25 jam, 50 jam, dan 100 jam untuk 'kenaikan jenjang'.

Nampaknya panduan DAK telah diubah pada kepengurusan sekarang. Mudah-mudahan lebih baik dan lebih sesuai dengan kebutuhan dalam tugas pelayanan umat sesuai dengan tugas seorang rohaniwan.

Pertanyaan menarik yang seyogianya diajukan adalah: 

Apakah setelah DAK para peserta yang belum rohaniwan dapat langsung dilantik sebagai rohaniwan?

Saya pikir jawabannya tidak.

Mereka perlu terus menggali dan mempraktekkan apa yang telah mereka peroleh dalam DAK. Setelah itu dengan memenuhi persyaratan administratif dan wawancara yang telah ditentukan, para calon rohaniwan perlu mengikuti ujian yang mencakup sekurangnya 5 hal: 
  1. Materi DAK 
  2. Presentasi makalah yang dibuat. 
  3. Praktek persembahyangan, misal praktek upacara liyuan pernikahan, kematian, liyuan umat, dll. 
  4. Praktek khotbah. 
  5. Sikap.
Sebagai contoh kita dapat melihat dua pelatihan yang telah mendunia dan banyak memberi manfaat bagi para peserta, yaitu Pelatihan John Robert Powers dan Pelatihan Dale Carnegie. Kedua pelatihan ini mempunyai materi tersendiri yang mencakup berbagai hal. 

Setelah mengikuti pelatihan, tidak setiap peserta pasti berubah sikap atau mampu berbicara di depan publik. Tidak setiap peserta berubah dengan sendirinya secara total setelah mengikuti pelatihan, tapi kemungkinan ada beberapa hal yang berubah.

Begitu pula peserta DAK.

Diperlukan evaluasi terhadap DAK dan perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian seperlunya. Namun demikian, bukan berarti kebutuhan umat lalu terabaikan. Bila DAK tak mampu menjawab kebutuhan dalam pelayanan umat, kita akan menghadapi kenyataan umat tak cukup memperoleh jawaban atas persoalan-persoalan hidup yang dihadapi khususnya di bidang kerohanian, gamang atas adanya nilai-nilai spiritual dan moral yang ada dalam masyarakat yang acap bertentangan, tak puas akan kehidupan yang dijalani dan merasa kering iman hingga akhirnya konversi terus terjadi.

Rohaniwan menangani manusia, tentu akan kompleks, sekompleks manusia itu sendiri. 

Menangani manusia tidaklah cukup dengan keahlian upacara atau khotbah. Berdasar riset yang dilakukan, kita tahu persoalan pokok yang dihadapi rohaniwan di lapangan dalam upaya pelayanan, dan itu yang coba dijawab oleh DAK.

Menjadi rohaniwan memang tidak mudah, tak heran di agama lain, untuk menjadi rohaniwan memerlukan pendidikan bertahun-tahun.

Kalau peserta (calon rohaniwan) menganggap DAK yang hanya 3 hari terlalu berat, entah apa yang bisa kita harapkan? 

Begitu pula, bila kita hanya mengandalkan DAK 3 hari untuk memahami pokok-pokok dasar agama Khonghucu tanpa upaya mendalami lebih lanjut sama artinya kita ingin merangkul gunung.

DAK adalah upaya kita untuk memberi dasar pada peserta agar mampu menjawab tantangan keumatan di lapangan yang bukan hanya sekedar membutuhkan pelayanan persembahyangan.

Karena rohaniwan adalah sebentuk pengabdian, selalu jadi buah simalakama antara kuantitas dan kualitas rohaniwan. (US) 11122020

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE