AKU TAK PANTAS TAKUT KIAMAT


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

"Pa, kata teman sebentar lagi kiamat," begitu kata sang anak pada ayahnya, "Menurut Papa, bagaimana bila seandainya besok kiamat?"

"Asyik dong kalau besok kiamat, artinya kita dan semua orang bisa mati bersama-sama," kata sang ayah terkesan menjawab sekenanya.

"Ih, Papa, kan takut, Pa. Aku kan ingin hidup lebih lama. Belum cukup menikmati hidup," lanjut sang anak dengan nada protes menanggapi jawaban ayah.

"Nak, kalau memang itu sudah kehendak Tian, mengapa mesti ditakuti? Sebagai manusia, kita takkan bisa menentang dan mencegahnya. Jadi kalau seandainya besok memang seharusnya kiamat, terima saja," ujar sang ayah yang telah berusia setengah baya, dan telah banyak mendalami agama dengan pengalaman hidup yang luas memberi penjelasan atas jawaban 'sekenanya' yang tadi dia berikan.

Sang anak tercenung mendengar jawaban ayah yang diluar dugaan dan jauh berbeda dari apa yang selama ini dia dengar dari kawan-kawannya.

Selama ini, kawan-kawannya terus bercerita tentang kiamat yang sudah dekat dengan berbagai bumbu cerita yang terkesan menakutkan, disertai ajakan. Tentu saja apa yang diceritakan teman-temannya mempengaruhi dia dan menyisakan rasa takut sehingga hari itu dia bertanya pada sang ayah.

"Nak, orang-orang selalu mengatakan dirinya beriman dan percaya pada Tuhan, tapi pada saat Tuhan berkehendak mengapa mesti takut atas kehendakNya? Bukankah kalau memang beriman dan percaya, apapun yang dikehendaki Tuhan pastilah yang terbaik. Jadi apa yang perlu ditakuti? 

Begitu pula kalau seandainya besok mesti 'kiamat', itu pastilah yang terbaik bagi kita. Apalagi kiamat dalam iman kita adalah perubahan dan peleburan alam semesta yang terjadi terus menerus. Itu tak dapat kita cegah," ujar sang ayah meneruskan.

"Dalam kehidupan ini, sering kali kita mempunyai pamrih tertentu atas apa yang kita lakukan. Hidup seringkali dimaknai seperti proses jual beli. Apa yang dilakukan mesti ada bayarannya, mesti ada balasannya. Ketulusan sebagai 'ruh' dari iman menjadi barang langka. Tak heran orang-orang dipenuhi rasa takut, tak terkecuali saat mendengar kata karma, surga, neraka, dan kiamat," kata sang ayah dengan raut muka serius menjelaskan alasan jawabannya.

"Kehidupan bukanlah semata-mata tentang pamrih atau menginginkan balasan atas apa yang kita lakukan. Kehidupan seperti itu tanpa sadar adalah kehidupan yang dikendalikan oleh keinginan bukan oleh iman dan cinta kasih. Kehidupan seperti itu menjauhkan kita dari kebahagiaan."

"Jadi maksud Papa?" tanya sang anak merasa penasaran atas uraian sang ayah.

"Kita—khususnya Papa sebagai umat Khonghucu—tak pernah merasa takut pada hari kiamat karena alasan yang jelas. Papa mempunyai iman dan ketulusan menerima hukum dan kehendak Tian yang berlaku di alam semesta ini," kata sang ayah dengan suara bergetar.

"Bagi papa, membina diri adalah kewajiban pokok Papa sebagai manusia. Papa, seperti umat Khonghucu yang lain, terus berupaya membina diri untuk mengasah kemanusiaan dan kebijaksanaan. Papa lakukan itu untuk memuliakan orang tua, leluhur, dan Tian. 

Papa lakukan itu bukan karena rasa takut neraka, bukan pula karena berharap surga, apalagi hukuman saat kiamat, bukan pula menabur untuk menuai ataupun menanam karma. Papa lakukan karena semangat pengabdian dan kesadaran atas kewajiban sebagai manusia. 

Dengan cara inilah papa menggemilangkan iman, mengasah ketulusan agar memenuhi diri sehingga pada prosesnya akan turut membantu Tian dalam menjadikan segenap wujud lebih baik sesuai hukum dan kehendak Tian." Tersungging senyuman kepuasan pada wajah sang ayah.

"Ooh gitu ya, Pa. Jadi ngapain juga ya aku takut besok kiamat, kan aku bisa terus bersama Papa dan sebetulnya aku tak pantas takut kiamat karena itu kehendak Tian." Wajah sang anak sumringah.

"Betul, Nak, tak perlu risau atau takut akan hari kiamat. Teruslah bersiap dengan membina diri. Teruslah berupaya memenuhi kewajibanmu sebagai manusia seperti yang diajarkan Zhisheng Kongzi. Tian Bao: Tian melindungi kebajikan. Jadilah manusia yang penuh iman dan ketulusan. Dengan begitu kamu akan dipenuhi kepuasan dan kebahagiaan; bebas dari rasa bimbang dan takut yang tak perlu."

"Terima kasih, Pa." ujar sang anak sambil memeluk ayahnya dengan erat.

Ada kebanggaan dan keyakinan dalam dirinya yang sulit diceritakan dengan kata-kata. (US) 06012021


Zhongyong XXIV: 3, Zhongyong XIX: 18, Zhongyong XXII: 1, Zhongyong XXIV: 1, Lunyu XI: 12, Lunyu IV: 8, Yi Jing.

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU