BAHAYA DAPAT DIHINDARI ATAU TIDAK?


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Kalau kita membaca Kitab Mengzi tentang bahaya, akan kita dapati dua bahaya: 1) bahaya yang datang dari ujian Tian (Tuhan YME) dan 2) bahaya yang dibuat sendiri.

Dalam ayat yang terdapat dalam Mengzi IIA: 4 dan Mengzi IVA: 8 tersebut, disebutkan bahwa yang ke-1 dapat dihindari, yang ke-2 tak dapat dihindari. Ayat-ayat tersebut berkaitan dengan ayat dalam Shi Jing III.1.1.6 dan Shujing IV: 5A dan 5B.

Dalam contoh kehidupan kita sekarang, seringkali kita menghadapi cobaan dan bencana yang merupakan bahaya karena ujian dari Tian misalnya tertimpa bencana alam atau kegagalan dalam bisnis karena kondisi tertentu.

Setiap bencana alam sebetulnya senantiasa menunjukkan gejala. Kalau kita masih mempunyai kepekaan pada gejala alam, misalnya memperhatikan perilaku binatang atau fenomena alam yang terjadi, kita akan mampu terhindar dari bencana tersebut. Bila usaha kita hancur akibat bencana alam karena terlambat menyadari, maka kepribadian, sikap, dan perilaku kita akan menentukan masa depan kita, apakah akan bangkit ataukah akan terus hancur.

Bila bencana dan cobaan menimpa dan kita menyikapi dengan sikap positif, berperilaku bajik, tidak gampang menyerah, dan terus bekerja keras untuk bangkit dari keterpurukan; maka ujian tersebut akan dapat dihindari. Dengan demikian kita menyikapi bahaya atau bencana yang menimpa kita sebagai ujian. 

Bila kita menyikapi dengan keliru, menipu, menjarah, berpikir negatif, menggerutu pada Tian atas nasib buruk yang menimpa, dan menyalahkan orang lain lalu menyerah kalah; maka bahaya yang kita buat sendiri akan menyebabkan kita tak mampu bangkit.

Di lain pihak, saat kita sedang hidup berkecukupan dan mencapai kedudukan yang baik tapi lengah, sombong, berfoya-foya dan bermalas-malasan maka bahaya yang kita buat sendiri akan menyebabkan harta kita akan habis dan kita akan kehilangan kedudukan. Bila saat kita berkecukupan lalu tertimpa bencana, selama kepribadian, sikap dan perilaku kita tepat, maka bahaya karena ujian dari Tian tersebut akan dapat dihindari, kita akan kembali bangkit.

Jadi kepribadian, sikap dan perilaku yang tepat akan membuat bahaya yang datang dari ujian Tian akan dapat dihindari, sedangkan kepribadian, sikap dan perilaku kita yang tidak tepat akan menimbulkan bahaya yang sadar atau tidak sadar telah kita ciptakan tak dapat kita hindari.

Demikian lebih kurang kesimpulan yang dapat kita ambil dari ayat-ayat di atas yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Inilah spiritualitas umat Ru-Khonghucu dalam hal bencana.

Bagi yang masih penasaran, mari kita kupas ayat-ayat suci di atas berdasarkan apa yang tercantum dalam ayat.

Kita bahas dulu mengenai bahaya dibuat sendiri. Bahaya dibuat sendiri dalam ayat-ayat kitab suci Ru-Khonghucu berkenaan dengan kepribadian, sikap dan perilaku seseorang. Saat seseorang mempunyai kepribadian, sikap dan perilaku buruk, bermalas-malasan, mengabaikan kesusilaan, tidak berperi cinta kasih, menghinakan diri sendiri, tidak mau belajar, dan melanggar Firman Tian maka itu merupakan bahaya yang dibuatnya sendiri.

Saat dalam sebuah negara para pemimpin berkepribadian, bersikap dan berperilaku buruk, tidak dipenuhi dan melanggar cinta kasih, kesusilaan, kebenaran, menghinakan diri sendiri, melanggar Firman Tian maka itulah awal kehancuran karena bahaya yang dibuatnya sendiri. Bahaya yang dibuat sendiri seringkali tidak disadari atau terlambat disadari dan itulah sebetulnya yang menyebabkan seseorang, sebuah keluarga atau sebuah negara tak dapat menghindari kehancuran.

Di lain pihak bila kepribadian, sikap dan perilaku seseorang, khususnya pemimpin adalah baik, dipenuhi kebajikan, berperi cinta kasih, menjunjung tinggi kesusilaan dan kebenaran, berlaku bijaksana, mempunyai semangat belajar membina diri, dan menjunjung tinggi Firman Tian maka bahaya yang datang dari ujian Tian seperti banjir, bencana alam lain, atau ancaman dari negara tetangga atau apapun bentuknya pasti akan dapat dihindari.

Dalam Kitab Shujing tertulis bagaimana Tai Jia, penerus dinasti Shang mempunyai kepribadian buruk dan perilaku buruk seperti dipaparkan di atas, 'dihukum' untuk berprihatin dalam pondok di istana Tong oleh Nabi Yi Yin—yang bertindak sebagai wali raja—untuk dididik agar berkepribadian, bersikap dan berperilaku baik. 

Hukuman untuk mendidik ini dilakukan karena awalnya Tai Jia tidak mau mendengarkan bahkan mengabaikan nasihat Nabi Yi Yin. Setelah tiga tahun 'dihukum', Tai Jia menyadari kesalahan dan memperbaiki kepribadian, sikap dan perilakunya sehingga dia pada akhirnya dikembalikan ke ibukota oleh Nabi Yi Yin dan diangkat sebagai raja. Jika dia tidak memperbaiki kepribadian, sikap dan kepribadiannya lalu diangkat sebagai raja, maka hanya masalah waktu saja kerajaan pasti akan mengalami kemunduran dan pada akhirnya kehancuran.

Dalam perjalanan sejarah, kepribadian, sikap dan perilaku buruk seorang kaisar, raja atau raja muda selalu menjadi penyebab kemunduran dan kehancuran sebuah dinasti atau suatu kerajaan. Inilah yang dimaksudkan bahaya yang dibuat sendiri tak dapat dihindari.

Mengzi mengatakan bahwa bila negara beres, orang bahkan menggunakan waktunya untuk berfoya-foya dan bermalas malas; ini mencari kecelakaan bagi diri sendiri.

Di lain pihak, walaupun sebuah kerajaan atau dinasti mendapat serangan dari luar atau bencana alam atau ujian lainnya, kerajaan atau dinasti tersebut tidak akan mengalami kehancuran karena sikap kaisar atau rajanya yang dipenuhi kebajikan.

Dalam ayat-ayat Kitab Sishu Wujing, pemerintahan Raja Yao, Shun, Yu, Cheng Tang, Wen, dan Wu senantiasa dijadikan contoh pemerintahan berdasarkan kebajikan. Walau pada masa pemerintahan raja-raja besar ini mengalami berbagai bahaya yang datang dari ujian Tian seperti banjir, bencana alam dan gangguan dari suku-suku liar, dan lain-lain, bahaya tersebut pada akhirnya dapat dihindari dan diatasi. Banjir dan bencana alam dapat diatasi, para suku liar pun pada akhirnya dengan pemerintahan yang berlandas kebajikan dengan sukarela tunduk.

Shun beberapa kali terhindar dari niat jahat ayah dan saudara tirinya karena dipenuhi semangat bakti yang menggelora hingga Shun memperoleh firman dari rakyat biasa menjadi raja besar menggantikan Yao.

Hal ini menunjukkan keteladanan dan keyakinan para shenghuang, shengwang, shengren, dan para tokoh sepanjang sejarah Ru Jiao dalam berpegang pada Kebajikan Yang Esa.

Dengan pandangan yang sama, kita sebagai umat Ru-Khonghucu meyakini bahwa dengan sikap, kepribadian, dan perilaku yang dipenuhi kebajikan seperti ditulis di atas, bahaya pastilah akan dapat dihindari. Sebaliknya bila sikap, kepribadian dan perilaku kita dipenuhi kemungkaran/melanggar kebajikan, maka bahaya yang ditimbulkannya tak dapat kita hindari. 

Maka berhati-hatilah dengan kepribadian, sikap dan perilaku. 

Senantiasalah berpegang pada yang pokok.

Dalam ayat Kitab Mengzi diumpamakan jernih atau keruhnya air sungai chang lang akan menentukan apakah air sungai tersebut untuk mencuci tali topi ataukah mencuci kaki. Orang tentu menghinakan dirinya sendiri dulu barulah menjadi terhina.  Negara tentu dirusak dari dalam  barulah menjadi runtuh. Celaka dan bahagia tiada yang bukan dicari sendiri. Oleh karena itu kita harus selalu bersiap diri dengan membaharui diri dan membina diri agar dapat senantiasa hidup dalam dao (Jalan Suci).

Bila Anda masih belum mencerna atau tidak sependapat dengan pemahaman saya mengenai apa yang tertulis dalam ayat suci di atas karena berbagai alasan, tak masalah. Coba Anda buka Kitab Sishu Wujing Anda lalu baca dan renungkan kembali ayat-ayat suci tersebut secara lengkap jangan sepotong-sepotong. Dengan begitu mudah-mudahan Anda akan memahami pesan suci apa yang hendak disampaikan pada umat manusia melalui ayat-ayat tersebut.

Memang tak mudah untuk memahami ayat-ayat dalam Kitab Suci Agama Ru-Khonghucu apalagi bila belum menggunakan cara berpikir dan spiritualitas yin yang dan Tian Di Ren.

Belajarlah ajaran agama untuk mempersiapkan diri agar terhindar dari bahaya yang dibuat sendiri. (US) 22012021

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN