JANGAN BERLEBIHAN DENGAN MUKJIZAT


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Dalam beberapa minggu terakhir berita duka datang silih berganti membuat hati tak menentu diliputi kesedihan dan keprihatinan mendalam. COVID-19 telah sedemikian merebak, tak pandang bulu mengena pada siapapun tanpa membedakan etnis, agama, dan strata sosial. Seluruh benua dan semua negara tanpa terkecuali terpapar oleh virus ini.

Diiringi klaim-klaim menyesatkan seperti kebalnya orang tertentu dari paparan virus ini, teori konspirasi, rekayasa, hingga pola makan vegetarian di negara Buthan yang membuat negara tersebut tak terpapar serta berbagai berita hoax lain yang beredar, virus corona terus bermutasi dalam berbagai varian dan semakin cepat penularannya.

Sebagai masyarakat awam, kita hanya berharap dan berdoa semoga mutasi virus ini tidak semakin ganas dan kebal sehingga pandemi dapat diakhiri dengan vaksin, obat dan disiplin diri mematuhi prokes (protokol kesehatan) serta hal-hal lain yang dapat menunjang percepatan. Seraya berharap semoga para ahli dapat memperoleh pencerahan akal dan batin serta kebersihan hati dalam upaya mulia mereka.

Dalam kehidupan di dunia ini, ada hal-hal yang bisa diatasi dengan petunjuk spiritual dan agama, ada pula yang harus diatasi dengan kaidah ilmu dan keahlian berdasar akal.

Tak bisa hanya dengan berdoa, beribadah, dan keyakinan pada mukjizat, kita akan mampu mengatasi pandemi ini dan menjadikan kita tak akan terpapar oleh virus. Diperlukan kepatuhan pada protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh para ahli. Protokol kesehatan adalah sumbangan ilmu pengetahuan, begitu pula pengembangan vaksin, obat dan alat-alat lain walau pada prosesnya kita yakini ada campur tangan ilahi.

COVID-19 tak membedakan apakah dia seorang ulama, pendeta, pedanda, biksu, kiai, ustadz, pastor, uskup, xueshi, wenshi, jiaosheng, orang suci, agamawan, dukun, tabib, dokter, ilmuwan, presiden, raja, ratu, menteri, gubernur, atau siapapun dia. Selama pintu masuk virus itu terbuka maka dia akan terpapar entah sebagai OTG ataupun menjadi pasien. Itulah yang kita yakini sebagai Tianli, hukum Tian. Hukum Tian tak mengenal pengecualian.

Apakah seorang vegetarian, atau apakah seorang yang percaya dan mampu membuat mukjizat Tuhan, atau percaya pada kekuasaan Tuhan atau mempunyai ilmu gaib, atau apapun itu, bukti empiris menyatakan siapapun tanpa kecuali dapat terpapar dan memaparkan virus ini dan dapat berujung kematian. Maka klaim-klaim tak berdasar dan menyesatkan seperti itu tak layak kita percaya dan mesti kita tolak.

Apakah dengan begitu saya mengajak Anda tidak percaya pada sembahyang dan doa? 

Tidak sama sekali, saya anjurkan Anda tetap percaya dan harus terus bersembahyang dan berdoa. Namun kita pun harus percaya bahwa mematuhi protokol kesehatan adalah langkah yang perlu kita lakukan agar kita meminimalisir dan terhindar dari paparan dan memaparkan COVID-19. Adalah tindakan tidak bijaksana bila kita menganggap enteng dan lalai mematuhi protokol kesehatan.

Kita perlu mendengarkan saran ahli dibidangnya, bukan pada orang yang tidak tepat sekalipun seorang yang sangat bijaksana.

Fanchi mohon belajar cara bersawah. Nabi menjawab, "Di dalam hal ini Aku tidak menang dengan seorang petani tua." Bertanya lagi cara berkebun, "Dijawab, "Aku tidak menang dengan seorang tukang kebun yang tua."
—Lunyu XIII: 4

Kita pun tak dapat mengesampingkan peralatan, riset dan iptek dalam membantu mengatasi pandemi ini.

Mengzi berkata, "Ketajaman mata Li Lou dan kecekatan Gong Shuzi itu bila tidak dibantu dengan jangka dan penyiku, tidak akan dapat melukis segi empat dan lingkaran. Ketajaman pendengaran Shi Kuang itu, bila tanpa pengukur nada, takkan dapat tepat dalam menetapkan panca nada itu. Jalan suci Yao dan Shun itu bila tidak didasari pemerintahan yang bersifat Cinta Kasih, takkan dapat mendamaikan dan mengatur negeri.
—Mengzi IVA: 1

Langkah terbaik dalam situasi pandemi ini adalah jangan mudah menerima klaim-klaim menyesatkan, jangan mudah termakan hoax,  terus berdisiplin dalam mengikuti protokol kesehatan, percaya dan ikuti anjuran para ahli dan pemerintah seraya terus bersabar. Menunda keinginan untuk bersenang-senang di luar rumah sambil teruslah bersembahyang dan berdoa agar pandemi segera berlalu.

Kalau vaksin sudah tersedia, yuk kita vaksin. 

Langkah inilah yang akan melindungi kita dan orang-orang yang kita sayangi. Kalau Anda ragu untuk divaksin, saya siap menjadi gelombang pertama yang divaksin, setelah itu Anda.

Pandemi tak lama lagi akan berlalu dan kita dapat banyak belajar dari kejadian ini untuk memperkaya pengalaman hidup kita. (US) 07012021


Zhongyong X: 1, Lunyu VII: 21, Lunyu XI: 12, Lunyu XIII: 4, Mengzi IVA: 1

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU