KEHILANGAN SEGALA


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Saat kegelisahan menyapa diri, 
segala nampak tak pada tempat 
dan suasana yang benar.

Ketika saling menyalahkan dan menghujat menguasai jagat, 
itu menampakkan ada rasa khawatir dan kebencian.

Kenapa tak diubah dengan rasa cinta dan kesadaran, 
bahwa benda-benda beraneka, 
kita pun takkan mungkin persis sama.

Ketika cinta dan kesadaran memenuhi jagat, 
semua nampak pada tempat 
dan suasana yang pas.

Keharmonisan adalah pancaran cinta dan kesadaran.

Mari kita introspeksi ke dalam diri.

Memuliakan Tuhan bukan dengan menjadi pembela yang garang, 
tapi mewujud dalam kebajikan yang meraga keluar, 
terpancar dalam cinta dan kesadaran 
pada sesama dan pada alam semesta.

Cinta dan kesadaran adalah pancaran kebajikan Tuhan 
yang terang benderang.

Buat apa saling menghujat dan menyalahkan, 
kalau itu bukanlah jalan terang Tuhan 
yang akan mengarahkan pada anugerah pemberian Tuhan 
dan menghantarkan pada kekalnya nama baik dan 'kekuasaan'?


Catatan:

Tulisan di atas adalah suara hati yang meraga saat sekelompok orang di negeri tercinta mulai tercerabut dari akar budaya dan agama yang mulia untuk kepentingan politik dan kekuasaan kelompoknya dengan mengatasnamakan Tuhan. Memutarbalikan yang pokok dengan yang ujung. 

Bila diteruskan, bukan kejayaan yang akan dicapai tapi akan kehilangan segalanya.

Seperti tertulis dalam Mengzi VIA: 16: 
Ada kemuliaan karunia Tuhan dan ada kemuliaan pemberian manusia. Cinta Kasih, Kebenaran, Satya, Dapat Dipercaya dan gemar akan Kebaikan dengan tidak merasa jemu, itulah kemuliaan karunia Tuhan YME. Kedudukan raja muda, menteri dan pembesar itulah kemuliaan pemberian manusia.
 
Orang zaman dahulu membina kemuliaan karunia Tuhan YME dan kemudian mendapatkan kemuliaan pemberian manusia.

Orang zaman sekarang membina kemuliaan karunia Tuhan YME untuk mendapatkan kemuliaan pemberian manusia. Setelah mendapat kemuliaan pemberian manusia, lalu dibuanglah kemuliaan karunia Tuhan YME. Sungguh tersesatlah jalan pikirannya, karena akhirnya ia akan kehilangan semua.

Dalam lingkup lebih kecil, misalnya dalam perusahaan atau organisasi seringkali sadar atau tidak sadar kita melakukan hal yang mirip.

Acapkali orang terlambat menyadari dan kehilangan segalanya.

Tak ada pilihan bagi kita: selami hati, rawat watak sejati dan teruslah membina diri. (US) 31012021

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN