LAMA WAKTU BERPACARAN TAK MENENTUKAN KEHARMONISAN RUMAH TANGGA


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Di dunia Barat sekarang ini, setidaknya dapat kita lihat dalam kehidupan selebritis, merupakan hal yang lazim bila seseorang hidup bersama lalu mempunyai anak tanpa memasuki jenjang pernikahan. Hal ini berbeda dengan kondisi masyarakat Barat seabad sebelumnya.

Setidaknya ada tiga hal menjadi alasan utama fenomena ini yaitu: 
  1. Untuk saling mengenal lebih dekat antara dua pribadi sebelum memasuki jenjang pernikahan.
  2. Ikatan pernikahan akan menyebabkan berbagai konsekuensi hukum diantaranya mengenai pembagian harta dan hak waris yang dapat merugikan salah satu pihak dan melalui persidangan yang banyak menghabiskan waktu dan energi.
  3. Angka perceraian yang tinggi.
Di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya fenomena ini mulai terjadi walau belum seumum di negara Barat. Di Indonesia proses saling mengenal lebih dekat dilalui dengan berpacaran, bukan dengan kumpul kebo.

Lebih kurang seratus tahun yang lalu, pernikahan lazimnya tidak didahului dengan proses berpacaran tapi melalui perjodohan oleh kedua orang tua.

Di lain pihak, dalam periode 50 tahun terakhir, angka perceraian di Indonesia ditengarai meningkat dengan cepat. Dahulu perceraian adalah sesuatu yang dianggap tabu dan memalukan, sekarang anggapan tersebut telah mulai pudar seiring dengan perubahan zaman, gerakan HAM, perlindungan perempuan, dan kesetaraan gender.

Mengenai kaitan antara meningkatnya angka perceraian dengan gerakan HAM, perlindungan perempuan dan kesetaraan gender; atau kaitannya dengan perubahan hukum privat yang berlaku bagi golongan etnis dan agama tertentu dalam arti positif; dapat saja terjadi karena kesadaran perempuan atas hak-haknya yang selama ratusan tahun terpendam mulai muncul.

Zaman dahulu orang memilih tidak bercerai karena tabu dan malu, para perempuan lebih memilih diam dan mempertahankan pernikahannya, padahal mungkin mengalami perlakuan tidak adil dan mengalami kekerasan baik fisik maupun psikis dalam rumah tangganya. Adat istiadat dan ajaran agama begitu tertanam kuat dalam masyarakat. Saya mengenal beberapa rumah tangga yang pernikahannya tetap bertahan tapi antara suami dan istri tidak lagi saling menyapa walau hidup serumah.

Saya mengenal keluarga yang rumah tangganya harmonis dan dapat kita teladani kendati suami istri tersebut menikah dengan melalui proses perjodohan tanpa melalui proses berpacaran.

Saya mengenal orang yang berpacaran lama, hampir sepuluh tahun tapi rumah tangganya hanya bertahan tidak lebih dari dua tahun.

Saat ini kita menyaksikan dalam tayangan berita para selebritis yang umur pernikahannya hanya bertahan beberapa tahun saja padahal mereka telah kumpul kebo atau berpacaran sangat lama. Zaman sekarang perceraian nampak jamak terjadi walau orang telah melalui proses pacaran dan kumpul kebo.

Perceraian yang terjadi sekarang ini bukan saja terjadi di kalangan selebritis tapi hampir semua golongan masyarakat dari berbagai profesi, baik tua maupun muda tanpa kecuali. Kasus perceraian pada pernikahan yang telah berlangsung puluhan tahun walau pasangan tersebut telah berpacaran cukup lama kerap terjadi.

Mengapa orang yang lama berpacaran atau kumpul kebo tapi pernikahannya tidak langgeng dan berakhir dengan perceraian?

Kasus-kasus yang terjadi menunjukkan jangka waktu berpacaran atau kumpul kebo tidak menentukan suatu pernikahan akan langgeng atau tidak.

Faktanya, hubungan pernikahan sangat berbeda dengan pacaran atau kumpul kebo.

Mengapa?

1. Waktu berinteraksi. 
Saat berpacaran mungkin hanya bertemu 4-6 jam sehari dan atau 4-6 kali seminggu dan tetap tinggal di rumah berbeda, saat telah menikah interaksi menjadi lebih intens karena tinggal dalam rumah yang sama bahkan tidur di ranjang yang sama. Hal ini menyebabkan tidak semua hal diketahui dan dimengerti oleh masing-masing pihak.

2. Tanggung Jawab dan Komitmen. 
Pernikahan memerlukan komitmen yang lebih besar antara suami dan istri. Bahkan di Indonesia, khususnya pemeluk agama Khonghucu akan melibatkan dua keluarga karena pernikahan bukan hanya mempersatukan dua pribadi, tapi juga dua keluarga. Setelah menikah tanggung jawab masing-masing pasangan menjadi berbeda dengan saat pacaran.

3. Keluarga. 
Faktor turut campur dan keterikatan dengan keluarga acapkali membuat pernikahan tidak harmonis.

4. Budaya dan Kebiasaan. 
Faktor budaya atau kebiasaan dua keluarga yang dibawa oleh masing-masing pihak mungkin tidak terungkap saat pacaran turut membawa persoalan. Misal dalam cara mendidik anak, dalam memandang kewajiban seorang suami atau istri dalam urusan rumah tangga, dalam hal kebersihan rumah, penggunaan kamar pribadi, mencuci pakaian, menyapu, melayani, pengelolaan uang, penggunaan toilet, sekolah dan sebagainya.

5. Personalitas. 
Personalitas berbeda yang tidak disadari saat berpacaran dan baru menjadi persoalan saat hidup bersama dalam satu keluarga. Bisa saja kedua belah pihak ternyata sama-sama koleris sehingga menjadi dua matahari dalam satu keluarga saling ingin memimpin dan mengatur. Atau kedua belah pihak mempunyai personalitas berbeda, yang satu melankolis selalu ingin rapih yang lain sanguinis sehingga tidak terlalu peduli dengan kerapihan.

6. Bahasa kasih. 
Perbedaan bahasa kasih turut menentukan keharmonisan rumah tangga. Bisa saja orang dengan bahasa kasih saat-saat mengesankan saat berpacaran masing-masing pasangan masih sekolah atau kuliah selalu bersama-sama, saat membina rumah tangga, salah satu pasangan sangat sibuk sehingga jarang mempunyai waktu bersama, hal ini seringkali tanpa disadari telah menimbulkan keretakan hubungan. Menurut penelitian tangki cinta seseorang akan kosong dalam waktu 2 tahun. Hal inilah yang seringkali menyebabkan perceraian.

7. Cara berpikir. 
Laki-laki laki dan perempuan tidak sama dalam cara berpikir.

8. Perbedaan agama. 
Agama bukan hanya sekedar label, tapi acapkali sangat menentukan keyakinan, cara pandang kehidupan, tata cara dan prioritas hidup, apalagi bila salah satu pihak atau kedua belah pihak fanatik dan mempunyai misi tertentu pada pasangan dan anak. Seiring berjalannya waktu menimbulkan persoalan.

9. Hal-hal spiritual dan lainnya.


Tak heran lamanya waktu berpacaran bukan menjadi faktor penentu keharmonisan rumah tangga. Kesembilan faktor itu sangat berpengaruh pada kelanggengan pernikahan.

Nabi Kongzi telah berpesan pada kita sebagai umatnya untuk berhati-hati dalam hal asmara. Manusia begitu kompleks sehingga memerlukan usaha dan waktu untuk dapat memahami.

Komitmen, kesetiaan (satya) dan tepasalira (tahu menimbang) yang akan menentukan kelanggengan suatu rumah tangga.

Perlu proses pembelajaran terus menerus dalam mengupayakan keharmonisan rumah tangga agar laksana alat musik yang ditabuh harmonis. (US) 23012021

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU