SEMBAHYANG ZUOJI 做忌


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Tanggal 08 bulan sebelas tahun 2547 Kongzili atau tanggal 18 Desember 1996, papa berpulang kedalam kemuliaan kebajikan Tian pada usia 84 tahun. Beberapa hari yang lalu kami melakukan sembahyang untuk memperingati hari wafat papa (zuoji, co-ki 做忌).

Umat Khonghucu senantiasa memuliakan hubungan dengan orang tua (berbakti) sepanjang hidupnya, bukan terbatas saat orang tua masih hidup. Bagi umat Khonghucu walau badan jasad orang tua telah tiada, namun orang tua masih ada hanya dalam bentuk atau dimensi berbeda. Orang tua senantiasa dirasakan kehadirannya dalam batin sebagai shenming.

Ada sebagian kalangan berpandangan tak berguna menyembahyangi orang tua saat telah meninggal dunia bila saat hidup tidak merawatnya dengan baik. Pandangan ini nampak merupakan pandangan yang baik, namun sebetulnya tidak tepat benar bila dipandang dari sudut pandang berbeda yang didasari ajaran agama Khonghucu. 

Disamping untuk mendoakan orang tua. Menyembahyangi orang tua bukan sekedar untuk 'kepentingan' orang tua tapi juga untuk 'kepentingan' anak. Bersembahyang pada orang tua adalah salah satu hal pokok dalam upaya menjadi manusia yang berkebajikan dan memberi keteladanan.

Adalah suatu hal yang mulia mewujudkan bakti semasa orang tua masih hidup, lalu menyembahyangi orang tua saat berpulang, dan terus menyembahyangi kendati telah 'jauh' hingga saatnya kita berpulang. Namun kadangkala saat orang tua masih hidup mungkin saja Anda dan saya telah teledor dan kurang dalam memuliakan hubungan dengan orang tua (berbakti) karena berbagai alasan. 

Setelah orang tua berpulang Anda dan saya baru tersadar atas perilaku kurang baik yang telah Anda dan saya lakukan selama orang tua hidup. Dalam hal ini bersembahyang kepada orang tua yang telah berpulang menjadi sangat penting dalam upaya 'penebusan' atas hal-hal tidak baik yang telah Anda dan saya lakukan. Tentu saja 'penebusan' tidak cukup hanya dengan bersembahyang tetapi harus diikuti upaya memelihara semangat bakti tersebut dengan melakukan perubahan dan pembaharuan karya dan perilaku seperti disabdakan dalam Kitab Liji.
"Meskipun ayah bunda sudah berpulang, bila akan melakukan sesuatu yang baik, wajib selalu mengingat bahwa dengan hasil pekerjaan itu dapat memuliakan nama baik ayah bunda. Bila akan melakukan sesuatu yang tidak baik, wajib selalu mengingat bahwa hasilnya dapat memalukan ayah bunda." 
—Liji X Nei Ze I: 17
Dalam memelihara semangat kebajikan ini, merasakan kehadiran orang tua saat kita bersembahyang pada orang tua kendati telah 'jauh' sangat penting. Melatih terus adanya 'rasa' ini dalam setiap denyut kehidupan penting dilakukan dengan cara melakukan persembahyangan dan berdoa baik pagi dan sore atau malam—saat chuyi dan shiwu—maupun persembahyangan-persembahyangan besar kepada orang tua dan leluhur yang telah mendahulu. Dengan demikian, di kedalaman batin kita terus tertoreh hubungan yang intens antara Anda dan saya dengan orang tua dan leluhur, sehingga apa yang disabdakan dalam ayat tersebut mewujud dalam perilaku dan karya kita.

Bagi seorang anak, sembahyang zuoji merupakan satu tonggak besar dalam memelihara keterhubungan kebajikan dengan orang tua yang telah mendahulu, sehingga Anda dan saya tidak pernah merasa selesai dalam menjaga nama baik dan memuliakan orang tua, walau Anda dan saya tak lagi dapat bersentuhan, bertegur sapa, berpelukan dengan orang tua. Pada saat zuoji kita bisa mengenang betapa orang tua telah begitu berjasa dalam kehidupan kita, walau mungkin orang tua kita mempunyai banyak kekurangan dalam menjalankan amanat Tian menjadi wakil-Nya menghadirkan, merawat, dan mendidik kita.

Tak heran orang-orang zaman dahulu mengambil cuti dari pekerjaannya saat zuoji karena mereka tidak mau kehilangan momen sakral ini yang menjaga keterhubungan kebajikan dengan orang tua yang telah mendahulu. Hal ini tercatat dalam Kitab Liji.

Pada akhirnya memuliakan hubungan (berbakti) saat orang tua masih hidup dan melanjutkan sepanjang hidup walau orang tua telah berpulang adalah sikap bakti yang terbaik. 

Bila seandainya selama orang tua hidup, kita belum melakukan bakti dengan cukup baik atau tidak cukup baik, mengapa harus berhenti menyembahyangi saat orang tua dan leluhur telah 'jauh'? Bukankah dengan menyembahyangi, semangat bakti terus bergelora dan memampukan kita memperbaiki karya dan perilaku kita? Bukankah dengan terus merasakan 'kehadiran' orang tua,  kita terus diingatkan agar perilaku kita yang memalukan orang tua kita perbaiki dan ubah menjadi memuliakan orang tua?

Bukankah hal ini berguna, bukannya tak berguna? 

Kalau saya memilih melakukannya. 

Entah dengan Anda. (US) 02012021


Lunyu I: 9, Lunyu II: 7, Lunyu II: 5, Lunyu III: 12. Xiao Jing, Li Ji X Nei Ze I: 17, Zhongyong XIX: 7, Mengzi IVA: 19.

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN