BERANI MENGAMBIL RESIKO DAN TANGGUNG JAWAB


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Beberapa waktu belakangan saya cukup sibuk mengerjakan beberapa pekerjaan semi sosial yang berkaitan dengan agama Konghucu, di antaranya menulis modul bencana, menulis modul pendidikan agama Konghucu untuk perguruan tinggi, mengajar mata kuliah agama Konghucu dan beberapa zoominar yang diadakan oleh beberapa organisasi, di samping beberapa kegiatan yang harus saya persiapkan materinya sambil terus menjalankan tugas sebagai Majelis Hakim Etik di Dewan Kehormatan Daerah Peradi DKI Jakarta yang juga berkaitan dengan surat dan dokumen yang perlu saya baca.

Dalam aktivitas seperti ini rasa malas, jenuh, dan capek kadang menghampiri, membuat saya menunda untuk mengerjakan. Rasa malu yang keluar dari rasa tanggung jawab yang acap menjadi benteng dan motor penggerak diri untuk terus melangkah maju. Rasa malu dan tanggung jawab bergandengan dengan komitmen. Tanpa ada ketiga hal ini akan memungkinkan saya tak menyelesaikan tugas dan pekerjaan.

Bekerja sosial dan semi sosial tidaklah mudah karena motivasinya bukan uang. Motivasinya kadang tidak jelas dan lucu. Misal karena rasa tak enak untuk menolak atau karena tidak ada orang lain yang mau dan bisa mengerjakan. Menjadi anggota Dewan Kehormatan adalah salah satu contoh.

Dalam beberapa tugas menulis yang saya kerjakan karena rasa tak enak untuk menolak, sebetulnya saya sendiri awam dalam bidang tersebut, sama seperti orang yang meminta bantuan saya menulis. Walaupun mungkin ada perbedaan, perbedaannya sangat tipis dengan orang yang meminta bantuan. Bedanya adalah peminta bantuan percaya saya pasti bisa mengerjakannya dan mereka tidak percaya pada kemampuan diri mereka sendiri untuk mengerjakan. Dalam situasi seperti ini, sebetulnya langkah pertama yang saya lakukan setelah menyanggupi untuk membantu adalah mengumpulkan informasi mengenai materi yang akan ditulis sehingga saya memperoleh gambaran besarnya.

Biasanya panitia atau pemrakarsa akan mengadakan rapat pendahuluan untuk memberi gambaran kepada kita apa yang akan dikerjakan, harapan mereka dan tenggat waktu yang diberikan. Setelah  memperoleh gambaran yang lebih jelas berdasarkan informasi yang saya kumpulkan dan rapat pendahuluan tersebut, biasanya saya mulai merancang dalam pikiran saya kira-kira apa yang akan saya tulis. Karena topiknya berkaitan dengan agama, biasanya saya mulai menyiapkan Kitab Suci dan literatur-literatur yang saya punya di atas meja kerja.

Otak saya mulai bekerja mencari informasi hasil saya membaca yang tertimbun dalam otak. Kendati tidak semua ayat suci dan istilah dalam buku bisa dicari dengan mengetikkan kata kunci. Adanya teknologi cukup membantu saya untuk mencari sebagian ayat-ayat suci dan istilah-istilah terkait. Sangat berbeda dengan dulu, dulu saya harus mencari suatu ayat atau istilah hanya mengandalkan ingatan, jadi saya seringkali harus membuka kitab dan buku yang pernah saya baca dan mencarinya halaman per halaman. Kebiasaan membaca terbukti sangat menguntungkan.

Pertanyaannya, mengapa acapkali saya diminta bantuan? 

Ini berkaitan dengan reputasi atas apa yang pernah dikerjakan sebelumnya. Orang kadung percaya saya mampu dan pasti selesai mengerjakan. Padahal seperti saya tulis di atas, secara jujur sebetulnya saya sama awamnya dengan si peminta bantuan.

Hanya saja, saya termasuk orang yang suka akan tantangan dan berani mengambil resiko. Dalam kamus saya, apapun pasti bisa dikerjakan kalau kita mau mengerjakannya. Tentu saja ada beberapa hal yang berkaitan dengan bakat akan lebih sulit untuk mengerjakannya. 

Saya berprinsip 'bagaimana nanti' bukan 'nanti bagaimana'. 

Sebetulnya sikap seperti ini sangat beresiko dan acapkali menimbulkan tekanan/stress. Namun sikap seperti ini pula yang banyak membuat perbedaan. Dengan sikap seperti ini, kita akan bergerak mengerjakan sesuatu, tidak diam berpasrah diri menunggu durian runtuh.

Sejauh ini, sikap 'bagaimana nanti' bukan 'nanti bagaimana' yang saya ambil terbukti lebih banyak memberi hasil. Saya pernah membaca buku yang mengatakan bahwa 95% ketakutan kita tidaklah benar. Bergerak dan melakukan sesuatu adalah cara mengatasi rasa takut. Dengan bergerak dan melakukan sesuatu biasanya membuktikan rasa takut yang ada dalam pikiran kita tidak benar.

Bila kita berani mengambil resiko dan melakukan sesuatu, kita mempunyai kans untuk berhasil, bila kita tidak berani mengambil resiko dan tidak melakukan sesuatu maka peluang untuk berhasil adalah nol. Jadi selama tidak melanggar hukum dan moral, beranilah mengambil resiko. Resiko terburuk yang mesti kita tanggung adalah kita bisa belajar dari kegagalan. 

Walau tentu saja tetap perlu berhitung dan  jangan mengabaikan apa yang disabdakan Nabi dalam Lunyu XV: 12.

"Bila orang tidak mau berpikir tentang kemungkinan yang masih jauh, kesusahan itu tentu sudah berada didekatnya."

Teruslah mencoba dan berusaha, akan hasilnya berserah diri pada Tian. (US) 26032021


ZY XIX: 10, ZY XIX: 20, LY IX: 29, LY XV: 12

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN