BUAT APA MEMBUNUH UNTUK MENGEMBANGKAN DAO


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Bom bunuh diri kembali meledak di negeri tercinta. Kali ini Katedral di Makassar menjadi sasaran. Kejadian pada hari Minggu tanggal 28 Maret 2021 sungguh memiriskan hati. Nyawa terbuang percuma karena keyakinan buta yang menutupi mata hati.

Kata petinggi negeri kejadian ini tak ada hubungannya dengan agama. Saya pikir memang tak berkaitan dengan agama. Agama hakikatnya mengajarkan cinta kasih/kemanusiaan. Tapi kejadian ini tak lepas dari keyakinan yang keliru dari penganut agama pada pesan yang ada dalam teks kitab suci.

Pesan para Nabi kepada umatNya untuk menegakkan keadilan/kebenaran tentu tak sekali-sekali terlepas dari cinta kasih/kemanusiaan. Upaya menegakkan keadilan/kebenaran tanpa cinta kasih/kemanusiaan akan menyebabkan segala cara dilakukan tak terkecuali melakukan kekerasan dan tindakan ekstrim lainnya, kendati hal tersebut berarti harus mengorbankan nyawa sesamanya. Bahkan dalam kejadian di Makassar dan tempat-tempat lain di berbagai penjuru dunia, mengorbankan nyawa orang lain dengan mengorbankan nyawanya sendiri.

Ekstrimisme terjadi sepanjang zaman dalam berbagai agama walau bentuknya berbeda-beda. Keyakinan penganut agama seperti ini menunjukkan kegagalan dalam menangkap cahaya kebajikan Tuhan yang berada dalam kedalaman batin. Sejatinya Tuhan tidak perlu dibela oleh manusia. Tuhan Maha Kuasa, manusia yang memerlukan Tuhan, bukan sebaliknya.

Agama adalah bimbingan untuk menempuh dao. Manusialah yang perlu mengembangkan dao, bukan dao yang mengembangkan manusia. Menempuh dan mengembangkan dao adalah bagaimana manusia berbuat mengikuti watak sejati, mengembangkan benih-benih kebajikan dalam dirinya sehingga mencapai keselarasan dan keharmonisan dengan sesama manusia, dengan alam dan dengan Tian.

Menempuh dan mengembangkan dao tak terlepas dari hubungan dengan sesama manusia, bukan dengan menjauhi manusia apalagi dengan melakukan tindakan ekstrim membunuh manusia.
Dao itu tidak jauh dari manusia. Bila orang memaksudkan dao itu ialah hal yang menjauhi manusia, itu bukan dao.
—Zhongyong XII: 1


Apakah untuk mengembangkan dao diperkenankan membunuh orang-orang yang ingkar dari dao?

Mari kita simak percakapan dalam Lunyu XII: 19.
Ji Kang Zi bertanya tentang pemerintahan kepada Nabi Kongzi, "Bagaimanakah bila dibunuh orang-orang yang ingkar dari dao untuk mengembangkan dao?"

Nabi Kongzi menjawab, "Kamu memangku jabatan pemerintahan mengapa harus membunuh? Bila kamu berbuat baik, niscaya rakyat akan mengikuti berbuat baik. Kebajikan seorang pembesar laksana angin, dan kebajikan rakyat laksana rumput; kemana angin bertiup, ke situ rumput mengarah."

Nabi bersabda dalam Lunyu XIV: 36, "Kalau dao itu akan dapat dilaksanakan, dan berkembang, itulah Firman; kalau dao itu harus musnah, itupun Firman."

Jadi untuk apa mengorbankan nyawa dengan sia-sia atas nama Tuhan, dao, dan agama? 

Itu bukanlah perbuatan orang yang berTuhan, mengembangkan dao, dan beragama (US) 29032021

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE