WATAK SEJATI (性)


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Dalam membaca Kitab Suci Agama Konghucu ada ayat-ayat yang mudah kita pahami, ada ayat yang perlu pemikiran mendalam, ada yang perlu perenungan dan ada ayat yang penjelasannya ada dalam ayat lain. Oleh karena itulah mengapa kita perlu membaca keseluruhan Kitab Suci agar pemahaman kita tidak keliru.

Pada kesempatan kali ini saya mengajak Anda untuk membaca ayat mengenai Xing 性 (Watak Sejati) dan bersama-sama mencoba memahami mengenai Watak Sejati.

Kalau kita belajar mengenai agama Konghucu maka kita akan mafhum Watak Sejati merupakan fondasi dasar kita sebagai manusia untuk dapat hidup dalam Dao.

Mari kita baca.
"Firman Tian itulah dinamai Watak Sejati. Berbuat mengikuti Watak Sejati itulah dinamai menempuh Dao (Jalan Suci). Bimbingan untuk menempuh Jalan Suci itulah dinamai agama."
Ayat di atas tercantum dalam Kitab Zhong Yong Bab Utama : 1. Merupakan salah satu ayat favorit yang sering disampaikan dalam kotbah rohaniwan Konghucu. Ayat mengenai keimanan yang pokok umat Konghucu.

Banyak orang salah mengartikan mengenai Watak Sejati. Seakan-akan orang menjadi jahat karena Watak Sejati orang tersebut berubah menjadi buruk. Padahal tidak demikian.

Mari kita simak pandangan Ya Sheng Mengzi mengenai Watak Sejati yang terdapat dalam Kitab Mengzi VI A: 6 di bawah ini.
Gong Du-zi berkata, "Gao-zi berkata bahwa Watak Sejati itu bukannya baik atau tidak baik.

"Ada orang lain berkata bahwa Watak Sejati itu dapat dijadikan baik dan dapat dijadikan tidak baik. Maka ketika Raja Wen dan Raja Wu memerintah, rakyat menyukai Kebaikan. Tetapi ketika Raja You dan Raja Li memerintah, rakyat menyukai kekejaman.

"Orang lain lagi berkata, ada yang ber-Watak Sejati baik dan ada yang ber-Watak Sejati tidak baik. Maka ketika Yao menjadi raja, ada juga orang semacam Xiang. Dan Gu-sou sebagai Bapak bisa mempunyai anak sebagai Shun. Begitu pula Raja Zhou sebagai saudara dan anak yang begitu jahat, ketika menjadi raja bisa mempunyai saudara seperti Wei Zi-qi dan paman sebagai Pangeran Bi-Gan.

"Kini guru berkata bahwa Watak Sejati manusia itu baik. Kalau begitu, apakah yang lain itu salah semua?"

Mengzi berkata. "Kalau kita mau mengikuti gerak rasa, akan tahulah bahwa sesungguhnya memang baik. Maka kukatakan bersifat baik."

"Kalau ada seseorang yang sampai menjadi tidak baik, kita tidak boleh menimpakan kesalahan pada Watak dasarnya."

"Rasa hati berbelas-kasihan tiap orang mempunyai, rasa hati malu dan tidak suka tiap orang mempunyai, dan rasa hati membenarkan dan menyalahkan tiap orang juga mempunyai. Adapun rasa hati berbelas-kasihan itu menunjukkan adanya benih Cinta Kasih, rasa hati malu dan tidak suka itu menunjukkan adanya benih kesadaran menjunjung Kebenaran, rasa hati hormat dan mengindahkan itu menunjukkan adanya benih Kesusilaan, dan rasa hati membenarkan dan menyalahkan itu menunjukkan adanya benih Kebijaksanaan. Cinta Kasih, Kebenaran, Kesusilaan dan Kebijaksanaan itu bukan hal-hal yang dimasukkan dari luar ke dalam diri, melainkan diri kita sudah mempunyainya. Tetapi sering kita tidak mau mawas diri."

Maka dikatakan, "Carilah dan engkau akan mendapatkannya, sia-siakanlah dan engkau akan kehilangan!' Sifat orang memang kemudian berbeda-beda, mungkin berbeda berlipat dua sampai lima atau bahkan tidak terhitung; tetapi itu tidak dapat dicarikan alasan kepada Watak dasarnya."

"Di dalam Kitab Shi Jing tertulis, 'Tuhan YME menjelmakan rakyat; menyertainya dengan bentuk dan sifat. Dan sifat umum pada rakyat ialah suka kepada Kebajikan Mulia itu.'

Kongzi bersabda, 'Yang menggubah sanjak ini, tentulah sudah mengenal akan Jalan Suci. Setiap bentuk tentulah mempunyai sifat. Dan sifat umum pada rakyat ialah menyukai Kebajikan Mulia itu."

Ada 21 ayat mengenai Watak Sejati dalam Kitab Sishu. Anda tinggal mencarinya dalam Sishu Digital yang bisa Anda dapatkan di playstore atau secara manual Anda dapat mencari dalam Kitab Sishu versi hardcopy terbitan Matakin.

Bila kita membaca ke 21 ayat tersebut, kita akan memahami keseluruhan ajaran agama Konghucu sebetulnya tentang bagaimana manusia dapat hidup mengikuti Watak Sejati karena Watak Sejati adalah Firman Tian yang ada dalam diri manusia.

Dalam Watak Sejati terdapat hakikat kemanusiaan manusia yang akan menghubungkan manusia dengan Tian, dengan manusia dan dengan alam semesta.

Maaf kali ini kutipan ayatnya panjang. Siapa tahu Anda memang suka membaca tulisan seperti ini. (US) 12032021

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE