AKSI TEROR MENGAPA TERULANG LAGI?


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Beberapa waktu yang lalu (5/4) saya diminta untuk menjadi salah seorang pembicara dalam Sarasehan Kebangsaan Pergerakan Indonesia Maju dengan topik "Aksi Teror, Mengapa Terulang Lagi?".

Beberapa hal saya sampaikan untuk menjawab pertanyaan tersebut, secara singkat saya tuliskan di bawah ini.
  1. Tatanan dunia yang kurang adil
    Dunia diatur dan ditentukan oleh beberapa negara berdasarkan kepentingan mereka bukan berdasarkan keadilan menyebabkan ketidak puasan kelompok tertentu.

  2. Politisasi agama
    Agama dijadikan alat untuk membela kepentingan negara tertentu. Kelompok-kelompok yang tidak puas menggunakan agama dalam perjuangan politik dan senjata untuk melawan ketidakadilan.

  3. Iptek: era internet
    Era internet menyebabkan informasi dapat tersebar dengan cepat dan dapat digunakan untuk indoktrinasi. Hoax beredar kemana-mana.

  4. Radikalisasi agama
    Proses radikalisasi agama terjadi di berbagai belahan penjuru dunia. Timbul ekstremisme dan aksi teror mengatasnamakan agama. Penegakan hukum yang tidak mencerminkan keadilan memperparah keadaan.

  5. Limbic dan reptilian brain
    Proses radikalisasi terjadi terhadap berbagai kalangan, bukan hanya kalangan tertentu. Apakah kalangan miskin atau kaya, terdidik atau tidak terdidik, tua atau muda. Hal ini terjadi karena proses radikalisasi terjadi pada limbic dan reptilian brain bukan pada neocortex.

  6. Semangat gotong royong/komunal tergeser oleh individualisme.
    Proses radikalisasi dan aksi teror terjadi pula di Indonesia. Semangat gotong royong mulai terkikis dengan individualisme sehingga kepekaan pada lingkungan sekitar menjadi kurang, menyebabkan rencana aksi teror tidak terdeteksi dini. 
Untuk mengatasi hal-hal tersebut dikemukakan beberapa solusi.
  1. Perlu tatanan dunia yang lebih adil, bukan ditentukan negara tertentu saja.
  2. Tidak dilakukan politisasi agama. Perlu upaya pencegahan dan tindakan hukum yang adil tanpa pandang bulu.
  3. Keluarga sebagai tiang negara. Pendidikan keluarga perlu diperhatikan, bukan hanya mengandalkan sekolah atau lembaga lainnya. 
  4. Konten pendidikan agama perlu ditinjau ulang. Ada yang kurang pas dalam pendidikan agama di sekolah. Pendidikan agama di sekolah perlu ditekankan pada budi pekerti dan akhlak mulia. Perlu dimulai sejak usia dini. 
  5. Amanat Konstitusi perlu dilaksanakan. Dalam proses pembangunan sekarang ini banyak hal yang dilaksanakan tidak sesuai dengan amanat konstitusi. Keadilan sosial perlu menjadi ruh pembangunan.
  6. Kepedulian masyarakat pada lingkungan sekitar perlu ditingkatkan kembali dengan kegiatan-kegiatan bersama. Semangat gotong royong perlu dibangkitkan.
Closing Statement:
  1. Keluarga harus menjadi basis. Pendidikan  anak-anak dalam keluarga perlu diperhatikan dengan sebaik-baiknya. 
  2. Semangat gotong royong dan peduli pada lingkungan perlu ditingkatkan. 
Sekian. (US) 20042021

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE