MAMA KARTINI


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Hari ini tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini, tokoh emansipasi perempuan Indonesia. Melalui pemikiran-pemikirannya, Ibu Kartini adalah pionir dalam dunia pendidikan bagi perempuan dan hak-hak perempuan Indonesia. Walau penetapan hari kelahirannya sebagai hari besar agak diperdebatkan karena masih banyak pahlawan perempuan lain yang tidak kalah hebat di seantero nusantara, namun selama puluhan tahun hingga hari ini, hari Kartini senantiasa diperingati oleh para perempuan Indonesia dengan berbagai kegiatan.

Bagi saya pribadi, ada Kartini yang begitu hebat dan berjasa dalam merawat, membesarkan, mengasuh dan mendidik saya, almarhumah mama: Kartini Linggaraja (Tan Kwie Hiang).

Mama adalah perempuan luar biasa. Betapa tidak? Dengan melahirkan sepuluh orang anak tidak menghalangi beliau untuk mencari nafkah dengan berdagang. Bukan pedagang besar, tapi tekad mama untuk menghidupi keluarga menyebabkan beliau melakukan hal tersebut.

Sepanjang saya tahu, mama tak pernah sekalipun mengeluh. Tak pernah sekalipun beliau menggerutu atau marah ke papa atas kehidupan tak mudah yang dijalani. Mama dan papa selalu saling menghormati dan mencintai. Saling mengagumi dan menghargai. Mama tak pernah mempersoalkan bahkan mendukung pilihan hidup papa untuk menjalankan kehidupan spiritual, menemukan jati diri sejati di usia paruh bayanya.

Di usia tua dan tak dapat melihat, Nenek (Apoh) diajak oleh papa untuk pindah dari Tasikmalaya ke Bandung, untuk tinggal di rumah. Dengan tanpa protes atau mengeluh, beliau mau merawat sampai Apoh berpulang. Padahal saat itu mama sudah paruh baya dan sejak awal muda, Apoh tidak begitu setuju atas pernikahan papa dan mama.

Mama mempunyai keyakinan teguh bahwa dengan berbakti pada orang tua dan mertua, berbuat baik pada sesama dan rajin bersembahyang pada Tian (Tikong) serta menjalankan agama leluhur (Konghucu), maka hidup beliau beserta anak cucu akan dipenuhi berkah.

Saat mama menginjak usia tua hampir berusia sembilan puluh tahun, beliau sakit. Sepanjang sakitnya mama tak pernah lalai untuk bersembahyang. Mama tak pernah takut untuk 'pulang' keharibaan kebajikan Tian bahkan selalu merindukan di jemput oleh papa yang telah berpulang terlebih dahulu. Bagi mama berpulang bukanlah hal yang perlu ditakuti tapi justru merupakan kebahagiaan karena dapat berkumpul kembali dengan pujaan hatinya: papa.

Mama adalah sosok perempuan tangguh yang sangat dihormati dan dicintai oleh anak, menantu, cucu dan buyut.

Beliau bukanlah seorang sarjana, SD pun tidak tamat, tapi bagi saya dan kakak-kakak saya, beliau adalah guru kehidupan yang telah mengajarkan begitu banyak hal bukan sekedar dengan kata-kata tapi perilaku dan tindakan nyata.

Terima kasih Tian telah mengirimkan kami perempuan hebat dan luar biasa. Seorang ibu yang begitu tulus, kuat, tegar, ikhlas, dan bersyukur. Pasangan setia papa di saat suka maupun duka, teladan kami untuk menjalani kehidupan dalam rel yang seharusnya. 

Seorang contoh perempuan bijaksana. (US) 21042021

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE