OTAK, HATI, DAN EKSTREMISME


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Mengapa orang-orang begitu fanatik beragama hingga yang paling ekstrem mengorbankan nyawa untuk membela agama dan Tuhan?

Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut. Proses radikalisasi dapat berjalan secara perlahan, dapat pula berjalan dengan sangat cepat. Proses ini terjadi bukan hanya pada penganut suatu agama tapi pada beragam agama. Salah satu hal yang dapat menjawab pertanyaan mengapa proses radikalisasi terjadi adalah dengan meneliti mengenai pikiran dan otak.

Pikiran terdiri dari tiga, yaitu pikiran sadar, pikiran bawah sadar, dan pikiran supra sadar. Proses radikalisasi terjadi pada pikiran bawah sadar. 

Paul MacLean pada tahun 1960-an mencetuskan teori Triune Brain, yang mengatakan otak manusia terdiri atas tiga bagian: neocortex, limbic, dan reptilian.

Proses radikalisasi terjadi pada otak limbic bahkan menyelusup hingga reptilian brain. Otak limbic tempat emosi berada. Kebencian, kemarahan, ketakutan, dan kepuasan terletak di limbic. Reptilian brain bertanggung jawab atas hal-hal dasar yang mencakup rasa lapar, kontrol suhu, respon atas rasa takut, mempertahankan wilayah, dan menjaga keamanan. 

Bila mengena sampai limbic orang menjadi mudah ditakut-takuti, dipenuhi kebencian, diiming-imingi sehingga menjadi kehilangan akal sehat dalam pengambilan keputusan. Saat mengenai reptilian brain maka orang akan menggunakan segala cara untuk mempertahankan wilayah keyakinannya dan melawan serta menyerang apapun yang dianggap sebagai ancaman.

Pengetahuan berkaitan dengan neocortex. Cara menyerap informasi neocortex berbeda dengan limbic. Tak heran orang yang telah teradikalisasi sulit diubah dengan untaian kata-kata yang rasional. Mesti diingat, sistem limbic mendukung berbagai fungsi seperti emosi, perilaku, motivasi dan memori jangka panjang.

Banyak kaum radikal menggunakan dan memanfaatkan pengetahuan ini dalam merekrut pengikut.

Pikiran sadar dan neocortex adalah tempat pengetahuan berproses. Disampaikan dengan kata-kata baik tulisan maupun lisan dalam bahasa apapun. Pikiran sadar inilah yang kita gunakan dalam mengidentifikasi informasi yang masuk melalui panca indera, membandingkan sesuatu, menilai, menimbang, menganalisa dan mengambil keputusan. Pikiran sadar berhubungan dengan belahan otak sebelah kiri yang bersifat verbal, logis, dan analitis.

Pikiran bawah sadar dan limbic bersangkut paut dengan keyakinan dan iman yang tertanam dalam diri manusia. Di dalamnya berproses perasaan/emosi seseorang. Dalam limbic, religiositas seseorang bertumbuh.

Pikiran bawah sadar terhubung dengan belahan otak sebelah kanan yang bersifat non verbal, gestalt, dan intuitif. Dalam pikiran bawah sadar ini tersimpan segala memori, emosi, kebiasaan, keinginan, kepribadian, persepsi, citra diri, nilai, kepercayaan, dan keyakinan kita. Pikiran bawah sadar sangat jujur, polos, tidak ragu, tidak membantah, tidak mempertanyakan dan langsung bisa menerima dan mempercayai apapun yang diberikan kepadanya baik secara sadar maupun tidak.

Pikiran supra sadar adalah tempat bersemi cahaya kebajikan Tuhan. Supra Sadar inilah yang menghubungkan kesadaran seseorang yang langsung kepada Tuhan. Dalam pikiran supra sadar, spiritualitas seseorang bertumbuh.

Agama Konghucu sering dikatakan sebagai agama yang rasional, jadi berhubungan dengan belahan otak sebelah kiri yang bersifat verbal, logis dan analitis. Dengan demikian kita sedang berbicara pada bahasa neocortex/alam sadar. Tak heran dalam buku-buku Konghucu, diskusi dan kotbah banyak menyangkut filsafat, etika, etimologi, dan tafsir huruf. Buku-buku, diskusi dan kotbah dengan cara yang hampir mirip terjadi pula pada simbolisasi, tata upacara, tata letak sajian serta perlengkapan sembahyang dengan segala rasionalisasinya. Akibatnya otak limbic sangat sedikit tersentuh sehingga emosi, kebiasaan, keinginan, kepribadian, persepsi, citra diri, nilai, kepercayaan dan keyakinan umat beragama Konghucu kurang kuat terpengaruh dan kurang terarahkan pada 'ruh' kebajikan.

Akibatnya, begitu datang orang-orang yang menyelusupkan ajaran atau keyakinan lain pada limbic—bahkan reptilian brain—dalam kondisi umat sedang menghadapi persoalan misal sakit atau ditinggalkan oleh orang yang dikasihi; keyakinan dan kepercayaannya berubah total. Seluruh informasi dan pengetahuan yang didapatkan melalui otak neocortex menjadi pudar dan tergantikan dengan kepercayaan dan keyakinan yang baru dari limbic dan reptilian brain. Tak heran orang yang berpindah agama menjadi lebih fanatik dan tak sedikit yang berbalik menyerang agama sebelumnya.

Upaya untuk mengembalikan orang yang telah terpengaruh limbic dan reptilian brain-nya dengan memberi penjelasan rasional akan menjadi upaya sia-sia karena tidak nyambung. Bahasa limbic dan reptilian brain bukanlah bersifat verbal, logis, dan analitis. Limbic dan reptilian brain berhubungan dengan emosi dan menyerap serta percaya apapun informasi yang diterima.

Bila kita membaca Kitab Sishu, akan kita ketahui bahwa dalam agama Konghucu, belajar/membina diri berkaitan dengan hati. Hati manusia tempat bersemayam kebajikan yang bercahaya atau Xing 性 (watak sejati). Watak sejati adalah Firman Tian yang terdapat dalam setiap manusia.

Dengan benar-benar menyelami hati, manusia akan dapat mengenal watak sejatinya. Dengan mengenal Watak Sejati akan mengenal Tuhan. Dengan menjaga hati dan merawat watak sejatilah, manusia mengabdi kepada Tian.

Dengan demikian, sebetulnya Agama Konghucu bukan sekedar menuntun manusia hidup dengan dipandu oleh pikiran sadar, tetapi hidup dilandasi pikiran supra sadar, hidup dalam spiritualitas yang terus bertumbuh sehingga berakhlak mulia.

Pikiran supra sadar inilah yang seyogianya membimbing setiap manusia di sepanjang kehidupannya. Dan karena pikiran supra sadar selalu terhubung dengan Tuhan, maka bisa juga dikatakan bahwa sejatinya Tuhanlah yang selalu membimbing setiap manusia di dalam jalan kehidupannya, melalui berbagai peristiwa dan pengalaman hidup yang dialaminya.

Dengan mengikuti jalan inilah sebetulnya manusia akan terhindar dari radikalisme dan ekstremisme. Manusia tidak lagi dibatasi sekat-sekat agama, dogma, atau memandang orang lain sebagai pihak yang harus bertobat dan mengikuti jalannya. Dia telah selaras dengan kebajikan Tian, manusia beriman yang mampu menyempurnakan diri dan menyempurnakan segenap wujud.

Dia mengasihi sesamanya sebagai saudara yang harus dikasihi, bukan untuk dihakimi, disakiti, apalagi dibunuh. (US) 01042021


Mengzi VIIA: 1, Daxue U: 4, Daxue V: 1, Zhong Yong U: 1. Mengzi VI: 15, Lunyu I: 1.

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN

CINTA TANPA SYARAT—UNCONDITIONAL LOVE