SEKOLAH TATAP MUKA?


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Sejak bulan Januari 2021 yang lalu wacana memulai sekolah tatap muka  mengemuka dengan berbagai alasan.

Wacana tersebut kembali mengemuka akhir-akhir ini dengan alasan para guru sudah mendapat vaksinasi sehingga memungkinkan kegiatan belajar akan mulai dilaksanakan dengan tatap muka 3 jam untuk 2 mata pelajaran—serta akan mengikuti 5 M dan dilakukan etika bersin, batuk, serta membawa peralatan sekolah dan ibadah sendiri.

Dikatakan pula dalam hal kondisi medis, sebelum masuk area dilakukan pengecekan suhu tubuh, bila ada gejala COVID-19 maka tidak diperkenankan masuk lingkungan sekolah dan sebelum pulang dipastikan tidak ada keluhan.

Saya termasuk orang yang skeptis dengan kebijakan ini.

Alasannya sederhana:
  1. Pandemi belum berakhir, tren menurun tidaklah menjamin takkan ada penularan di sekolah apalagi untuk mencapai sekolah murid harus melakukan perjalanan. Tak semua murid punya kendaraan pribadi.
  2. Sekolah itu melibatkan guru dan murid, apakah dengan vaksinasi guru takkan ada kontak antara murid dengan murid?
  3. Seyogianya belajar dari beberapa negara, saat membuka kembali sekolah ternyata penularan COVID-19 kembali meningkat.
  4. Kesehatan murid bukan untuk percobaan. Bagi saya kebijakan ini aneh. Saat terjadi penularan maka sekolah kembali ditutup. Bukankah lebih baik mencegah daripada menunggu terjadi?
  5. Tingkat disiplin dan kepatuhan pada prokes baik petugas maupun masyarakat di Indonesia relatif kurang baik, kita dapat melihat hal tersebut dengan kasat mata.
  6. Penularan COVID-19 terjadi dalam hitungan detik. Saya meragukan sesama murid akan tidak kontak fisik. Ada kemungkinan murid melakukan kontak fisik karena kebiasaan saat kondisi normal, ada perasaan tidak enak atau beresiko di-bully oleh temannya. Apalagi pada anak kecil.
  7. Siapa yang akan melakukan pengawasan? Apakah benar pengawasan akan dapat dilaksanakan sejak murid berangkat, selama perjalanan dan selama di sekolah? Selama ini pengawasan pada masyarakat tidak berjalan dengan baik, terkesan seperti pemadam kebakaran, bila ada kasus terjadi ketat, bila tak ada kasus dilakukan seadanya.
Hal utama yang perlu dilakukan sekarang adalah pengawasan pada protokol kesehatan harus dilaksanakan dengan lebih ketat dalam masyarakat terutama di pasar-pasar tradisional dan perkampungan-perkampungan padat. Bukan hanya di mal, rumah sakit, atau di kantor-kantor, sambil mempercepat vaksinasi agar dapat segera tercapai herd immunity sehingga sekolah dapat dilakukan tatap muka dan kegiatan bisnis serta kegiatan lainnya dapat dilaksanakan kembali

Satu hal lagi, untuk vaksinasi, proses administrasi perlu dibenahi. Administrasi yang semestinya mudah karena dilakukan secara online, kenyataan tidak berjalan dengan baik. Lagi-lagi persoalan koordinasi dan pengawasan biang keroknya.

Untung anak saya sudah selesai bersekolah. Kalau seandainya anak saya masih bersekolah, saya takkan mengizinkan anak saya bersekolah tatap muka dan tetap akan mengikuti pembelajaran dengan daring. Menurut saya hal itu lebih baik agar rantai penularan terhenti.

Langkah tergesa-gesa dan coba-coba justru bukan mempercepat pemutusan rantai penularan bahkan akan menyebabkan pandemi lama berakhir.

Dengan langkah tergesa-gesa dan coba-coba beresiko pula semakin membebani keuangan negara, bukan mempercepat pemulihan ekonomi. 

Jadi untuk apa? (US) 11042021

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU