MEMBACA TUNTAS KITAB SUCI


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

"Apakah di ruangan ini ada yang telah selesai membaca Kitab Sishu Wujing?" seorang fasilitator bertanya pada peserta workshop di salah satu hotel di Jakarta.

Fasilitator mengulangi pertanyaan yang sama karena peserta nampak ragu memberi jawaban.

Akhirnya dengan ragu dan sedikit berbisik sebagian besar peserta menjawab, "Belum ...."

"Kenapa belum?" fasilitator bertanya lebih lanjut.

"Ya ... bagaimana mungkin membaca semua, membaca satu ayat saja tak gampang untuk mengerti," jawab salah satu peserta.

"Saya mau menyelami dan meresapi ayat per ayat, nanti baru diteruskan ke ayat berikut. Kalau sudah mengerti baru akan lanjut sampai selesai," jawab peserta yang lain.

Hampir seluruh peserta memberi jawaban sejenis.

Saya kadang iseng menanyakan hal yang sama pada teman-teman dan mendapat jawaban sama.

Jadi bagaimana cara agar dapat membaca seluruh Kitab Suci?

Agar kita bisa menyelesaikan membaca keseluruhan Kitab Suci adalah alasan mengapa kita melakukannya.

Berkaca pada pengalaman pribadi saya, alasan saya melakukannya karena rasa malu.

Sebagai seorang umat Konghucu, saya malu kalau belum membaca tuntas Kitab Suci agama yang saya imani.

Tak terbayang kalau ada yang bertanya "Pak Uung apakah sudah membaca tuntas Kitab Suci?" dan saya menjawab "Belum". Betapa malu dan 'terhina'-nya saya kalau hal ini terjadi.

Apakah setelah membaca keseluruhan lalu artinya saya sudah memahami dan menjadi ahli? Tentu saja belum tentu.

Tapi minimal jika ada yang bertanya, "Apakah Pak Uung sudah membaca tuntas Kitab Suci agama Pak Uung?" dengan mantap saya bisa menjawab "Sudah".

Itulah motif pertama yang terlintas dalam pikiran saya lebih dari sepuluh tahun yang lalu mengapa saya memaksa diri tuntas membaca Kitab Sishu Wujing. Dengan seluruh Kitab Sishu Wujing telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia—kecuali Chunqiujing yang baru 7 bab pertama yang diterjemahkan—memungkinkan umat Konghucu Indonesia dapat membaca keseluruhan kitab dalam bahasa ibu. Setelah itu, untuk lebih mendalami bisa saja Anda dan saya meneliti dan berdiskusi kitab dalam bahasa asli.

Kalau Anda mampu membaca tuntas Kitab Suci dalam bahasa 'asli' ya silakan dilakukan, bisa saja apa yang Anda lakukan lebih bagus dan bermanfaat bagi Anda. Kalau saya pribadi, bila harus membaca kitab dalam bahasa 'asli' mungkin berpuluh tahun atau bahkan seumur hidup saya takkan dapat membaca tuntas dan saya mungkin tak akan pernah punya kesempatan memahami Kitab Suci apalagi untuk bercermin dan melaksanakan dalam kehidupan.

Untunglah apa yang saya lakukan ternyata cukup tepat.

Menurut buku yang saya baca, pikiran bawah sadar manusia akan merekam apapun yang dia lihat, dengar dan rasakan. Jadi Kitab Suci yang saya baca akan terekam seluruhnya dalam pikiran bawah sadar. Persis seperti komputer meng-copy data. Luar biasa.

Setelah tuntas membaca, barulah saya ulang membaca ayat-ayat tersebut. 'Ajaibnya' saat membaca ulang, berkelebat ayat-ayat yang pernah saya baca dan berkaitan dengan ayat yang sedang dibaca. Pikiran bawah sadar saya bekerja bersama pikiran sadar yang sedang saya gunakan. Ayat-ayat dalam Kitab-kitab Suci tersebut seperti ada benang merah yang menghubungkan.

Untuk semakin memudahkan mengingat, meneliti dan meresapi, tanpa ragu saya garis bawahi atau stabilo ayat-ayat yang menurut saya penting dan relevan dengan kehidupan untuk saya gunakan sebagai bahan perenungan, perbaikan diri, diskusi, menulis atau khotbah.

Dalam prosesnya, sekarang ini teknologi sangat membantu untuk mencari kembali ayat-ayat berkaitan yang pernah saya baca sehingga memudahkan mencari, meneliti dan menganalisa untuk bahan perenungan, perbaikan diri, diskusi, menulis dan khotbah. Berbeda sekali dengan beberapa tahun yang lalu. Bagi saya, membaca tuntas Kitab Suci lalu mengulangnya sangat bermanfaat bagi kehidupan saya.

Anda bisa saja punya alasan dan motif berbeda dengan saya untuk membaca tuntas Kitab Suci.

Mudah-mudahan cerita saya ini dapat membuat Anda tertantang untuk memulai misi Anda membaca tuntas Kitab Suci. Walau saya tahu tak semua orang mau dan terpanggil untuk melakukannya karena tak mudah berkomitmen pada diri sendiri apalagi di tengah kesibukan Anda.

Mungkin saja bagi Anda membaca tuntas Kitab Suci tidak cukup berharga untuk dilakukan.

Bagi saya sangat berharga, minimal sebagai bentuk tanggung jawab saya sebagai umat Konghucu.

Pilihan ada di tangan Anda. (US) 20062021

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN