PANDEMI TANGGUNG JAWAB BERSAMA


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Sebulan terakhir ini semakin banyak orang-orang yang saya kenal terpapar COVID-19. COVID-19 tidak pandang bulu. Bila beberapa bulan lalu COVID-19 nampak begitu jauh dan masih cukup banyak orang yang tidak percaya ada bahkan percaya pada berbagai macam teori konspirasi, hari-hari terakhir COVID-19 terasa hadir di depan mata kita, setidaknya itu yang saya rasakan. COVID-19 telah membawa korban saudara seiman, teman bahkan keluarga dekat saya. Mungkin Anda merasakan hal yang sama.

Berbagai penelitian dan pengembangan telah dan terus dilakukan oleh para ahli untuk menciptakan vaksin dan obat. Berbagai dampak buruk pandemi telah melanda kehidupan manusia di berbagai penjuru dunia, tak terkecuali negara kita tercinta: Indonesia. Telah ratusan bahkan ribuan triliun digelontorkan untuk memerangi COVID-19 dan dampak ikutan dari pandemi terutama di bidang kesehatan, sosial dan ekonomi. Apa yang dilakukan tentu saja membawa hasil positif. Ekonomi tak terlalu terpuruk, masyarakat miskin dapat terbantu, sebagian masyarakat telah mendapat perisai antibodi karena vaksinasi walau tidak 100% efektif.

Sebetulnya, secara teoritis penularan virus dapat dihentikan dari bumi tak lebih dari dua bulan. Kenyataannya tak terjadi. Ya tak terjadi, manusia modern telah menjadikan bumi 'mengecil' karena mobilitasnya, baik orang maupun benda dan barang. Hampir seluruh belahan dunia tak terkecuali antartika telah terhubung dan sulit diisolasi. Manusia semakin saling tergantung. Urusan perut tak dapat ditunda. Belum lagi, manusia modern tidak lagi puas hidup hanya dengan pemenuhan kebutuhan primer seperti manusia goa. Manusia modern telah terikat dengan kenyamanan. 'Rantai makanan' dan 'rantai kenyamanan' dalam ekosistem manusia modern telah mengglobal tak lagi dalam lingkup kecil. Sebetulnya lompatan virus corona dari hewan ke tubuh manusia pun tak lepas dari dua rantai tersebut.

Para ahli dan pemerintah telah bekerja keras mengatasi penyebaran virus dan dampak ikutannya. Tetap saja, pada akhirnya partisipasi rakyat, yaitu kita yang akan mempercepat atau memperlambat berakhirnya pandemi. Karena lockdown secara total agar dalam dua bulan penyebaran virus dapat dikendalikan sulit untuk dijadikan pilihan, caranya sebetulnya cukup sederhana, ikuti protokol kesehatan secara ketat dan batasi pergerakan hanya dalam hal yang memang benar-benar penting dan tak dapat ditunda. Sambil dengan kesadaran ikut vaksinasi. Jangan lupa perkuat imunitas tubuh. Hanya itu.

Sayangnya anugerah Tuhan berupa kebebasan memilih seringkali menjadi kekuatan sekaligus kelemahan yang menyebabkan kita terjebak dalam pilihan yang buruk karena kita tak mau mengorbankan kenyamanan sebagai dampak ketaatan kita pada protokol kesehatan.

Seringkali kita baru tersadar dan menyesal ketika segalanya semakin buruk, orang-orang terdekat kita tersakiti dan beberapa meninggalkan kita.

Mungkin karena alasan itu berbagai agama perlu menggunakan diksi 'menakut-nakuti', agar umat mau melakukan apa yang semestinya dilakukan demi keselamatan umat itu sendiri.

Memang tak mudah mengajarkan sesuatu yang tak terlihat nyata secara fisik tapi akan berlaku entah kita mempercayai atau tidak mempercayai: Tian Li (Hukum Tian).

Tak mudah pula mengajarkan cinta kasih sebagai kemanusiaan saat nilai kebajikan ini belum dirasakan dampaknya secara langsung pada diri kita masing-masing karena kita acap diliputi ego, kukuh dan keakuan.

Ya sebagian besar dari kita baru bijak saat kita telah merasakan sendiri akibat kebodohan kita. Bahkan sebagian dari kita tak pernah peduli dan mau belajar bahwa apa yang kita lakukan berkontribusi atas persoalan-persoalan yang ada. Itu yang terjadi pada pandemi yang kita hadapi sekian lama dan tak tahu kapan akan berakhir. 

Kita acap berangan-angan kosong pandemi akan cepat berakhir tanpa kontribusi sebagai masyarakat yang bertanggung jawab dan mencintai sesama. (US) 18062021

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN