ANAKMU BUKANLAH MILIKMU


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra-putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau.
Mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi, 
sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

Pembelajaran apa yang Anda dapatkan setelah membaca puisi “Anakmu Bukanlah Milikmu” karya Khalil Gibran (1883–1931) seorang seniman, penyair, dan penulis Lebanon Amerika di atas? Silakan Anda ulangi membacanya untuk menyerap makna tersirat dan tersurat dari puisi yang telah mendunia itu. Mungkin saja Anda menyerap makna berbeda dengan orang lain karena pengalaman Anda atau keyakinan yang Anda anut.

Saya hanya ingin menuliskan beberapa pengalaman yang berkaitan dengan puisi tersebut di Hari Anak Nasional 23 Juli ini yang mudah-mudahan menjadi bahan renungan bagaimana sikap dan perlakuan Anda pada anak.

Saya mempunyai seorang kenalan yang mempunyai seorang anak laki-laki pandai dan menarik. Sang anak ingin menjadi seorang chef sesuai passion-nya. Memasak adalah kesukaan dan kegembiraannya. Sayang orang tuanya tidak berkenan atas keinginan anak tersebut. Orang tuanya lebih menginginkan sang anak mempunyai profesi yang 'menjanjikan'. Bagaimana dengan sang anak, apakah dia bahagia? Apakah dia sukses dengan profesi yang 'menjanjikan' menurut versi orang tua? Jawabannya tidak. Berat badan sang anak naik drastis karena tak henti-hentinya makan karena stress.

Istri saya waktu SMA mempunyai teman yang kedua orang tuanya dokter dan sang dokter menginginkan anaknya menjadi dokter. Sang anak lebih menyukai ilmu sosial ketimbang ilmu eksakta, tak ada sedikit pun minat menjadi dokter. Buat dia pelajaran kimia, fisika dan biologi betul-betul menjemukan. Sang anak tentu saja mempunyai nilai ilmu sosial yang lebih baik dari ilmu eksakta dan lebih memilih masuk jurusan IPS. Namun orangtuanya tetap ngotot agar sang anak masuk IPA agar nanti dapat masuk kedokteran dan menjadi dokter. Sang anak dengan terpaksa masuk IPA. Bagaimana dengan nilainya di jurusan IPA? Sang anak ogah-ogahan sekolah, sering bolos, bahkan melawan guru. Apakah dia menjadi dokter? Tidak. Hidupnya hancur.

Saya mempunyai mahasiswa yang ingin menjadi chef, namun nenek dan orang tuanya keberatan dan lebih menginginkan sang anak meneruskan bisnis material bangunan milik keluarga. Dia meminta saran ke saya. Saya sarankan dia ikuti nasihat neneknya tapi juga mengikuti passion-nya. Jadi saya sarankan agar dia tetap belajar masak untuk menjadi chef dan belajar manajemen untuk mengelola usaha keluarga. Dengan manajemen dan sistem, usaha dapat dijalankan tanpa harus terus menerus ditongkrongi.

Kawan baik saya mempunyai anak perempuan lulusan arsitektur universitas terkenal di Bandung. Sang ayah seorang arsitek dan sukses dalam bidangnya. Ketika anaknya mengutarakan keinginan untuk menjadi seorang chef di hotel besar di Jakarta ketimbang belajar meneruskan usaha sang ayah, sang ayah dengan tersenyum bijak mengijinkan. Sang anak gembira, hubungan ayah-anak menjadi lebih dekat. Saya melihat ada kasih dan ketulusan dari sang ayah untuk mengijinkan anaknya memilih jalan hidup sendiri.

Bagaimana akhir cerita dari kisah-kisah ini? Belum tahu.

Hanya ada hal yang perlu direnungkan kembali, untuk apa sebetulnya kita hidup di dunia? Apa yang kita cari? Apakah uang atau hal lain?

Yang saya tahu, kalau yang dimaksud 'menjanjikan' adalah uang, banyak chef yang menghasilkan uang banyak. Banyak pula bukan dokter yang kaya serta punya reputasi terhormat dalam masyarakat. 

Yang pasti, uang tidak dapat membeli kebahagiaan.

Keinginan orang tua pada anak-anaknya belum tentu memberi kebahagiaan dan kepuasan pada anak. Kasih sayang, pengertian dan empati membuka jalan kebahagiaan dan kepuasan pada anak.

Sebagai orang tua bisa saja mengarahkan, namun pada akhirnya anaklah yang akan menjalani kehidupan mereka sendiri. 

Anakmu bukanlah milikmu. (US) 23072021

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN