BERTANYA ADALAH JAWABAN


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

"Selamat siang, Pak. Bapak Letjen Anu?" tanya seorang lelaki berperawakan sedang, sambil menghampiri saya di Bandara Halim Perdana Kusumah Jakarta.

"Bukan," jawab saya sambil tersenyum dan meneruskan menyentuh layar HP untuk menelpon penjemput.

Tak berapa lama kemudian orang tersebut kembali menghampiri dan menanyakan pertanyaan yang sama, mungkin dia khawatir saya adalah orang yang dicari tapi tak mendengar.

Tentu saja jawaban saya sama, karena saya memang bukan orang yang dia cari.

Ada pepatah mengatakan "Malu bertanya sesat di jalan".

Orang berperawakan sedang tersebut memilih bertanya pada saya karena dia belum menemukan orang yang dia jemput. Bisa jadi dia mendapat tugas dari kesatuannya dan belum pernah bertemu dengan sang Jendral dan kebetulan perawakannya "keren" mirip saya. Saya yakin walau mirip, saya lebih ganteng dari sang Jendral. Hahaha ...

Tak salah kan bila sekali-kali saya memuji diri sendiri mumpung ada kesempatan? 

Pujilah diri sendiri jangan cuma memuji orang lain. Walau mungkin sekedar bercanda. Itu bentuk syukur atas anugerah Tuhan atas kita yang dilahirkan seperti apa adanya kita. Silakan Anda ikuti prinsip saya kalau Anda mau. Bebas dan gratis.

Dulu, Guru Fisika SMA saya dengan mata jahil melanjutkan pepatah tersebut menjadi "Banyak bertanya malu di jalan".

Kami pun tertawa bersama mendengar candaan Guru.

Mungkin ada SOP tertentu dalam menjemput seorang jendral sehingga dia tidak mengacungkan kertas bertuliskan nama yang akan dijemput seperti lazimnya penjemputan di bandara. Dia tak merasa malu untuk bertanya, yang penting dia menemukan orang yang dia jemput. Tentu dia takkan bertanya pada setiap orang, dia tak mungkin bertanya pada seorang ibu berperawakan mungil atau laki-laki beranting dan berambut gondrong. Ada kriteria tertentu yang harus terpenuhi sebelum bertanya pada seseorang.

Bertanya adalah salah satu hal penting dalam kehidupan manusia. "Questions are the Answers" begitu judul buku Allan Pease yang pernah saya baca. Pertanyaan adalah jawaban.

Tidak semua hal di dunia ini kita ketahui, bahkan mbah google tidak akan sanggup menjawab semua pertanyaan yang kita ajukan.

Kita seringkali senang berbicara, berceramah, memberi nasihat tapi kurang banyak mendengar, kurang cerdas bertanya.

Tak semua hal harus dijelaskan dengan pernyataan, pertanyaan seringkali memberi jawaban. Kepandaian dan ketepatan dalam bertanya adalah modal penting dalam kehidupan. Berbagai hal dapat terselesaikan dengan mengajukan pertanyaan.

Kalau Anda ingin menjadi orang sukses dalam bidang apapun, belajarlah bertanya dan mendengarkan jangan hanya belajar pandai berbicara.

Menurut cerita, Zhisheng Kongzi pernah bertanya pada seorang anak kecil yang cerdas dan dengan rendah hati Beliau menawarkan diri menjadi 'muridnya' padahal Beliau telah dikenal sebagai orang terpandai pada zamannya.

Di lain kesempatan, Zhisheng Kongzi konon pernah menemui Lao Dan untuk bertanya tentang kesusilaan dan dao. Dari pertemuan tersebut Beliau mengklarifikasi apa yang diketahuinya dan menyadari bahwa ada beberapa perbedaan dalam memandang dao dan kehidupan.

Kemauan bertanya menunjukkan kerendahan hati dan dapat dijadikan bahan untuk belajar introspeksi diri.

Dalam upaya pembinaan diri, dengan bertanya kita akan memperoleh banyak pengetahuan untuk pembelajaran dan perbaikan diri menjadi orang yang lebih baik.

Zhisheng Kongzi membimbing kita sebagai umatnya untuk banyak-banyak belajar, pandai-pandai bertanya, hati-hati memikirkan, jelas-jelas menguraikan, dan sungguh-sungguh melaksanakannya.

Bertanya bukan menandakan penanya orang bodoh. Bahkan dari pertanyaan, orang akan mengetahui kualitas orang yang bertanya dan orang yang menjawab.

Namun demikian, perlu diperhatikan:
  1. Dalam sikap dan laku jauhkan sikap congkak dan angkuh
  2. Pada wajah selalu menunjukkan sikap dapat dipercaya
  3. Di dalam percakapan selalu ramah tamah serta menjauhi kata-kata kasar.

Dari bertanya dapat diketahui motif, hasrat, minat dan tindakan yang akan diambil oleh orang yang kita ajak bicara. Dalam dunia bisnis, kemampuan bertanya akan menghasilkan transaksi bisnis atau penjualan yang sukses.

"Apakah Bapak bisa WA nama Bapak? Agar saya tidak salah menuliskan nama Bapak," kata seorang staf salah satu kementerian yang meminta saya dengan bertanya melalui WA.

Saya ketikkan 'Uung Sendana'.

Esoknya surat yang saya terima menuliskan nama saya dengan benar dan pembawa acara menyebutkan nama saya dengan tepat.

Sungguh cara yang tepat dan cerdas telah dilakukan oleh staf tersebut sehingga nama saya tidak ditulis 'Uung Senjaya', 'Uung Lesmana', 'Uung Sadana' seperti terjadi dalam berbagai kesempatan.

Bayangkan kalau di bandara tersebut travel bag saya langsung diangkut oleh sang penjemput padahal saya bukan Letjen (Letnan Jendral) tapi Tengjen (Tetangga Jendral). 

Apa kata dunia?

Kesalahan yang tak perlu, dapat dihindari dengan bertanya. (US) 05062021


Zhongyong XIX:19, Lunyu VIII: 4

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN