HIDUP ITU BUKAN KURVA LINEAR


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Dalam kehidupan di dunia seringkali banyak peristiwa yang terjadi diluar dugaan kita.

Saat kita sedang tenang dan hidup begitu mulus, tiba-tiba anggota keluarga yang kita kasihi jatuh sakit dan ternyata sakitnya adalah penyakit degeneratif. Kita merasakan tamparan luar biasa dan peristiwa ini bak gelombang tsunami ketenangan kita. Tiba-tiba kehidupan berubah drastis.

Di lain pihak, saat kita sedang berjuang keluar dari kesulitan dan hidup terasa gelap, tiba-tiba bertemu dengan kolega yang mempertemukan dengan pebisnis sukses yang kebetulan memerlukan keahlian yang kita miliki. Jadilah terjalin kesepahaman dan kerjasama dengan sang pebisnis yang dalam hitungan bulan membuat kesulitan keuangan teratasi dan kehidupan berubah drastis, dari serba kekurangan menjadi berkecukupan bahkan kaya raya.

Tahun 1998 terjadi krisis moneter, hanya dalam sekejap nilai dolar meroket, bank perlu disuntik dana agar tidak bangkrut, harga barang-barang naik, selebihnya kita tahu bagaimana dampak terhadap perekonomian negara, pengusaha, masyarakat kecil, termasuk sebagian dari kita. Kejadian ini bagi sebagian besar orang berdampak sangat negatif. Tapi bagi sebagian lagi justru seperti mendapat durian runtuh.

Setahun terakhir, kita mengalami hal yang mirip dengan penyebab berbeda: COVID-19.

Krisis bagi sebagian besar orang menjadi ancaman. Bagi sebagian orang merupakan peluang. Sayangnya ancaman dan peluang ini seringkali digunakan oleh orang-orang yang kurang berprikemanusiaan untuk kepentingan kelompoknya dan mengeruk keuntungan.

Kejadian-kejadian seperti ini jamak terjadi. Kehidupan tidaklah seperti kurva linear tidak pula seperti roda pedati yang bundar.

Robert Kiyosaki, seorang ahli keuangan dunia yang menulis buku Cash Flow Quadrant mengatakan bahwa berdasarkan sejarah, perekonomian dunia akan mengalami krisis setiap 8–12 tahun sekali. Jadi setiap 8–12 tahun sekali akan ada ancaman sekaligus peluang bagi para pebisnis termasuk orang awam seperti sebagian besar dari kita.

Nassim Nicholas Taleb penulis buku Black Swan dan seorang options trader melihat peluang ini dan dengan sabar menunggu hingga saat yang tepat untuk memperoleh keuntungan besar berbanding terbalik dengan para pemain saham dan spekulan keuangan yang karena nafsu tak terkendali mengalami kerugian besar dan bangkrut bahkan mengakhiri hidup karena tak kuasa menanggung kegagalan memalukan.

Kegagalan dan keberhasilan, sehat dan sakit, kemakmuran dan krisis yang di dalamnya mengandung ancaman dan peluang terus datang silih berganti tak dapat dihindari.

Bagi sebagian orang kegagalan adalah palu godam yang menghancurkan. Bagi sebagian lagi kegagalan adalah momen untuk belajar memperbaiki diri menjadi lebih baik. Bagi sebagian orang, sakit degeneratif dihadapi dengan tangisan terus menerus dan seakan akhir kehidupan. Bagi sebagian lagi sakit memungkinkan belajar memperbaiki pola hidup untuk menjalani hidup lebih sehat. Begitu pula dalam menyikapi kemakmuran dan krisis.

Jadi, bagaimana kita memandang dan menyikapi semua ini akan menentukan kita akan berada disisi mana yang tentu saja akan menentukan arah hidup kita selanjutnya.

Dari buku-buku pengembangan diri dan Kitab Sishu yang pernah saya baca, untuk berada dalam posisi yang pas, kita perlu mengasah: 
  1. semangat belajar dan berlatih seyogianya ada dalam prioritas utama 
  2. tidak takut melakukan kesalahan dan kekeliruan 
  3. belajar memperbaiki dan membaharui diri 
  4. terus bekerja keras dan cerdas 
  5. tak mudah menyerah 
  6. berpikir positif 
  7. mengasah kepekaan 
  8. sabar dan persisten

Anda mau mencoba tips di atas? 

Anda mau berada di sisi mana? (US) 28072021


Lunyu I: 1, Lunyu I: 8.4, Lunyu XV: 30, Daxue II: 1, Zhongyong XIX: 20

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN