JANGAN CAMPUR ADUKKAN PERCAYA PADA TUHAN DAN AROGANSI


Salam Kebajikan, 
惟德動天,

Ada orang mengatakan, kenapa kita mesti takut pada COVID-19? 

Kita kan percaya pada Tuhan? 

Percaya pada Tuhan adalah dasar utama seorang umat beragama. Berbagai agama dan kepercayaan mengungkapkan keimanan pada Tuhan dengan berbagai cara dan ritual.

Umat Konghucu menyatakan kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa melalui pengakuan iman yang pertama dalam Ba Cheng Zhen Gui 八 誠箴规 (Delapan Pengakuan Iman) dengan menyatakan Cheng Xin Huang Tian 誠信 皇天 (Sepenuh Iman Percaya Pada Tuhan Yang Maha Esa) serta berbagai peribadatan dan perilaku yang dipenuhi kebajikan.

Namun demikian kepercayaan pada Tuhan janganlah diartikan sebagai sesuatu yang buta.

Kita tentu percaya Tuhan akan melindungi umatnya. Tapi apakah dengan begitu segalanya kita serahkan pada Tuhan dan kita tak perlu melakukan apa-apa? Tentu saja bukan sikap absurd seperti itu yang dimaksudkan percaya pada Tuhan.

Kita tentu takkan dengan seenaknya dan tidak takut menyeberang di jalan tol yang ramai dengan mobil berkecepatan tinggi karena kita percaya pada Tuhan.

Kita juga takkan dengan berani melompat dari bangunan lantai 10 karena kita percaya pada Tuhan.

Seperti juga kita takkan diam saja saat rumah diterjang banjir besar karena alasan percaya pada Tuhan.

Kita tak mungkin berdiam diri saja dan tidak mau belajar untuk mendapat nilai tinggi di sekolah karena percaya pada Tuhan.

Bagaimana pun, manusia perlu menggunakan akal budi untuk berusaha memahami Tian Li. Dengan demikian kita sebagai manusia percaya pada Tuhan sekaligus memahami Tian Li.

Tuhan 'memerintah' alam semesta ini berdasarkan hukum tertentu yang berlaku dan mengikat (Tian Li).

Matahari terbit di Timur tenggelam di Barat bukanlah karena Tuhan menggunakan tangannya setiap waktu tanpa tidur menjaga dan menggeser bumi agar mengelilingi matahari.

Tuhan menggunakan Tian Li (HukumNya) yang berupa hukum gravitasi atau hukum alam mengatur alam semesta, tak terkecuali membuat matahari terbit di Timur, tenggelam di Barat.

Kembali pada kalimat pertama, takut pada COVID-19 bukan berarti kita tak percaya pada Tuhan.

Kita takut pada COVID-19 karena kita percaya pada Tuhan dan memahami Tian Li berdasarkan penelitian para ahli. Bahwa kita dapat terpapar COVID-19 karena virus masuk melalui mulut, hidung dan mata. Maka yang perlu dilakukan adalah ikuti protokol kesehatan sesuai dengan anjuran para ahli. Itulah bentuk kepatuhan kita pada Tian Li. Kita percaya atas kuasa Tuhan melalui upaya manusia pandemi ini pada akhirnya akan dapat diatasi. Pasti akan dapat kita atasi.

Saat kita mengatakan, kita percaya pada Tuhan dan Tuhan akan melindungi kita dari COVID-19 lalu tidak mau menaati protokol kesehatan serta upaya meningkatkan imunitas tubuh, sama saja karena percaya pada Tuhan lalu kita pasti tidak tertabrak mobil saat menyebrang di jalan toll yang ramai. Suatu sikap yang absurd dan konyol. Tentu saja sebagai umat Konghucu saya tak mau mengikuti keabsurdan dan kekonyolan tersebut.

Beberapa hari yang lalu saya menelpon kawan saya yang terpapar COVID-19 untuk mengucapkan empati dan simpati. Dia sempat bercerita pada saya rasa terkejutnya karena seorang master qigong yang di mata dia sangat hebat, meninggal dunia terpapar COVID-19 sepulang sang master dari luar kota. Bagi dia hal ini sungguh mengherankan dan mengejutkan.

Bagi saya hal ini tidak mengherankan karena Tian Li akan berlaku pada siapapun dan di mana pun tanpa kecuali. Kawan-kawan saya seperti juga sang master banyak yang terpapar COVID-19 tersebut karena keteledorannya dan mungkin arogansinya sebagai manusia yang dikecualikan dari Tian Li.

Saya percaya pada ke Maha Besaran dan ke Maha Kuasaan Tuhan yang tak dapat diperkirakan apalagi ditetapkan. Karena itulah saya tak berani gegabah dan takut pada virus COVID-19 yang sangat kecil dan tak terlihat tapi berbahaya karena telah bermutasi sebagai wujud ke Maha Besaran dan ke Maha Kuasaan Tuhan yang tak boleh saya abaikan, atau saya akan mati konyol.

Saya tak mau mencampur adukkan kepercayaan saya pada Tuhan dengan arogansi saya sebagai manusia yang menganggap Tuhan akan memberi pengecualian hukumNya tidak akan berlaku pada diri saya.

Bagaimana pun saya manusia biasa yang tak akan terhindar dari hukumNya. Saya merasa sangat kecil di hadapan Tuhan maka saya 'takut' pada COVID-19 sehingga berhati-hati, seperti saya takut menyeberangi jalan toll agar tidak celaka dan mencelakakan orang lain. Anda boleh sama atau beda dengan saya. Itu pilihan Anda.  (US) 17072021

Zhongyong XV: 1-4, Lunyu XVII: 19

Postingan populer dari blog ini

SEMBAHYANG DAN DOA

SALAM KEBAJIKAN DALAM KEGIATAN LINTAS AGAMA DAN KENEGARAAN

NABI DALAM AGAMA RU-KHONGHUCU